Sabtu, 1 Mei 2021 / 19 Ramadhan 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Nabi Muhammad Pembela Kaum Difabel

ilustrasi
Hari ini orang-orang cacat sering dijadikan bahan cemoohan, Mereka terpinggirkan, diabaikan. Padahal Nabi kita tidak begitu
Bagikan:

Hidayatullah.com | BANYAK orang yang melihat sosok Rasulullah Muhammad ﷺ dari perspektif yang berbeda. Bagi mereka yang melihat sosok Rasulullah dari sudut pandang yang positif, beliau digambarkan sebagai seorang pemimipin yang adil, prajurit yang pemberani serta seorang suami yang ideal.

Sementara, banyak juga masyarakat yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad dari sudut pandang negatif, menggambarkan beliau sebagai pedofil bahkan lebih kejam lagi, seorang “teroris”.
Namun dalam artikel ini, saya ingin menggambarkan sosok Nabi Muhammad dari sudut pandang yang lain. Tentang betapa pentingnya Rasulullah bagi kaum difabel (orang yang memiliki keterbatasan).

Bagi saya atau bagi kaum difabel lainnya, Rasulullah Muhammad ﷺ dari sekedar inspirator. Bisa dikatakan, beliau adalah sosok pembela hak-hak kaum difabel. Bahkan lebih 1400 tahun yang lalu, beliau selalu berada di garis terdepan untuk memastikan bahwa orang-orang yang memiliki keterbatasan dipenuhi hak kebutuhannya.

Rasulullah Muhammad ﷺ berusaha untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap kaum difabel dengan mengajarkan bahwa tak seharusnya ada stigma atau sikap negatif bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

Beliau menekankan bahwa disabilitas tidak mempengaruhi kesempurnaan mereka dimata Allah selama mereka memiliki iman yang kokoh. Nabi juga mengajarkan bahwa tak seperti kepercayaan banyak orang, disabilitas bukanlah hukuman dari Allah tetapi merupakan pengampunan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan.

Seperti sabda beliau, “Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Bukhari)

Rasulullah ﷺ juga mengangkat harkat dan martabat kaum difabel dan menghapus kesedihan ataupun penderitaan yang mereka alami.

Beliau selalu mengingatkan bahwa sesungguhnnya Allah tidak melihat tubuh dan rupa manusia, melainkan melihat hati mereka. Rasulullah ﷺ benar-benar hadir sebagai penyejuk mereka yang memiliki keterbatasan, dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.

Tak lupa, Nabi juga melindungi hak asasi kaum difabel dan menghapuskan diskriminasi berlandaskan disabilitas, yang lazim sebelum datangnya Islam. Dalam salah satu riwayat diceritakan, bahwa Nabi pernah menunjuk salah satu sahabat yang bernama Abdullah Bin Ummi Umm Maktum, seorang tuna netra sebagai muadzin.

Abdullah bin Ummi Maktum seorang tuna-netra yang bergabung bersama orang-orang yang telah memeluk Islam dan dekat dengan Rasululllah. Meski matanya tak mampu melihat, ia diberi nikmat besar yang dikaruniakan Allah kepadanya. Ia memiliki naluri yang sangat peka untuk mengetahui waktu.

Jika menjelang fajar, berbekal tongkat ia keluar dari rumahnya, menuju masjid dan mengumandangkan azan di masjid Rasul. Bersama Bilal bin Rabah, Abdullah selalu bergantian mengumandangkan azan.

Bahkan pernah Rasulullah meminta Abdullah untuk memimpin kota Madinah saat Nabi berada di luar kota. Beliau meberikan kepercayaan yang luar biasa kepada kaum difabel.

Baginya, keterbatasan Abdullah bukanlah hambatan dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Ia ingin mengajarkan bahwa mereka yang berkebutuhan khusus tak sepatutnya direndahkan karena dibalik kekurangan mereka pasti tersimpan potensi untuk berkontribusi dan bermanfaat untuk orang-orang disekitarnya.

Memuliakan Julaibib

Ada kisah menarik tentang persahabatan Rasulullah ﷺ dengan pria bernama Julaibib. Sahabat satu ini dijauhi oleh orang-orang disekitarnya karena memiliki tubuh yang pendek nan tak menawan.

Karena fisiknya yang kurang menarik, masyarakat Kota Madinah kurang senang dengan keberadaannya di kota tersebut. Selepas peristiwa Hijrah, baginda Rasulullah menjadikan ia seorang teman, merawat, dan mengangkat martabatnya.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan: “Sesungguhnya Julaibib ini sebahagian daripada aku dan aku ini sebahagian daripada dia.”

Rasulullah bahkan melamarkan seorang gadis cantik untuk Julaibib. Dari Anas bin Malik menuturkan, “Ada seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang bernama Julaibib dengan wajahnya yang kurang tampan. Rasulullah menawarkan pernikahan untuknya. Dia berkata, “Kalau begitu aku orang yang tidak laku?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Engkau di sisi Allah orang yang laku.” (HR Ya’la)

Nabi ﷺ pun menikahkannya dengan Julaibib, serta mendoakannya,

اَللّهُمَّ صُبَّ عَلَيْهِمَا الْخَيْرَ صَبًّا وَلَا تَجْعَلْ عَيْشَهُمَا كَدًّا كَدًّا

“Ya Allah! Limpahkan kepada keduanya kebaikan, dan jangan jadikan kehidupan mereka susah.”

Sikap Rasulullah merupakan gambaran nyata tentang bagaimana prinsip inklusi atau kesetaraan bagi kaum difabel harus diterapkan. Beliau melakukan advokasi, tindakan nyata dalam rangka mendidik umatnya mengenai pentingnya menerima, menyejahterakan, dan memberdayakan kaum difabel.

Keteladanan lain yang diajarkan oleh Rasulullah adalah melarang umatnya untuk merendahkan atau mentertawakan mereka yang lahir tak sempurna. Suatu hari, sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, yang juga merupakan orang yang paling pandai dalam menafsirkan al Quran, memanjat sebuah pohon. Seketika angin terhembus sehingga kaki Abdullah terlihat.

Beberapa sahabat yang melihat tertawa. Namun Nabi menegur mereka dengan berkata, “Apa yang membuat kalian tertawa? Ketahuilah bahwa di hari pembalasan kedua kaki Ibn Mas’ud akan lebih berat di timbangan daripada Gunung Uhud.”

Dengan cara ini, Rasulullah mengingatkan ummatnya agar tidak menertawakan kaum difabel, terutama terkait dengan penampilan fisik mereka. Nabi Muhammad bahkan sangat memahami kebutuhan mereka yang memiliki kebutuhan khusus.

Sebagai contoh, bagi mereka yang tak mampu menunaikan Shalat sambil berdiri, diperbolehkan untuk melaksanakannya dengan duduk, dan seandainya mereka masih tak mampu, Rasulullah memperbolehkan mereka untuk shalat sambil berbaring. Ia juga bersabda bahwa yang membaca al Quran dengan terbata-bata, ia akan mendapatkan dua pahala dibanding mereka yang membaca dengan sempurna.

Apa yang telah dilakukan oleh Baginda Nabi seharusnya menjadi bahan renungan untuk kita semua.
Hari ini orang-orang cacat sering dijadikan bahan cemoohan. Mereka terpinggirkan, diabaikan, bahkan seringkali dianggap sebagai sekelompok masyarakat yang lemah dan tidak berdaya.

Rasulullah telah menjadi sumber inspirasi bagi saya dan kaum difabel di seluruh dunia. Beliau mengajak umat manusia untuk selalu peduli terhadap orang lain dengan menjanjikan bahwa siapa pun yang mampu mengatasi segala macam kesulitan yang orang hadapi di dunia ini, Allah akan menghapus kesulitan nya di akhirat nanti.

Semoga cerita ini dapat menginspirasi kita semua untuk mengikuti jejak Nabi Muhammad dalam bersikap terhadap mereka yang memiliki keterbatasan.*/Muhammad Zulfikar, penulis adalah seorang difabel  

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

Inilah Karakter yang Harus Dimiliki Para Pendidik!

Inilah Karakter yang Harus Dimiliki Para Pendidik!

Ingin Sehat? Tirulah Cara Nabi

Ingin Sehat? Tirulah Cara Nabi

Jangan Tergesa-Gesa dalam Beribadah

Jangan Tergesa-Gesa dalam Beribadah

Seorang Muslim Mestinya Dapat Dipercaya

Seorang Muslim Mestinya Dapat Dipercaya

Hindari Mendzalimi Orang Lain!

Hindari Mendzalimi Orang Lain!

Baca Juga

Berita Lainnya