Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Kalau kita mau berpikir lebih mendalam, maka sesungguhnya tidaklah cukup kita merayakan hari kemerdekaan sebatas dengan mengadakan karnaval dan lomba-lomba

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
muh. abdus syakur/hidayatullah.com

Terkait

APA yang membuat para ulama terdahulu menyatakan perang terhadap penjajah Belanda?

Adalah karena sebuah prinsip hidup, dimana ketika umat Islam dikuasai penjajah, maka kebebasan menjalankan ibadah akan terbatasi, bahkan pada saatnya akan terlarang.

Apalagi, Belanda sebagai penjajah diketahui menggunakan strategi adu domba, tidak dapat dipercaya kala berjanji, dan selalu menggunakan cara-cara licik di dalam setiap agenda-agenda mereka.

Kala itu, segenap kaum Muslimin melakukan perlawanan keras terhadap Belanda. Buya Hamka dalam buku “Sejarah Umat Islam Pra Kenabian hingga Islam di Nusantara” menguraikan dengan sangat jelas.

“Bukanlah mudah bagi Belanda untuk memperkukuh kedudukan penjajahannya. Seluruh masa penjajahannya, 350 tahun, tidaklah pernah sunyi pada setiap abadnya. Pahlawan-pahlawan dari suku bangsa Indonesia, yang didorong oleh rasa iman dan agamanya untuk menentang penjajahan, muncullah beberapa orang pahlawan pada abad ke-17, yang menjadi kemegahan bagi sejarah suku-suku bangsa Indonesia, terutama dalam agama Islam.” (halaman 625).

Kini, kemerdekaan telah diraih, sekalipun belum paripurna. Karena dalam beberapa sisi kehidupan, umat Islam masih tunduk dengan konsep dan sistem hidup peradaban lain, seperti ekonomi, perbankan, dan juga pendidikan.

Namun, terlepas dari itu semua, hal yang patut disyukuri oleh kaum Muslimin saat ini adalah bagaimana benar-benar bersyukur kepada Allah Ta’ala atas nikmat yang luar biasa ini.

Mensyukuri Nikmat Ilmu

Alhamdulillah, saat ini umat Islam Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama dari sisi pendidikan (ilmu), sehingga sebagian dari umat Islam muda di kota-kota mampu menjadi kelas menengah ke atas. Kelompok ini mesti menjadi pioner dalam hal syukur kepada Allah dengan ilmu yang mereka peroleh.

Kesyukuran tersebut bisa dimanivestasikan dalam bentuk dedikasi menjadi seroang “guru” sekaligus “coach” bagi sebagian pemuda bangsa yang hidup di pedesaan untuk bisa survive secara ekonomi, sehingga mereka pun terbuka wawasannya dan bergerak maju, serta bisa melakukan perlawanan secara otomatis terhadap serangan budaya melalui tayangan destruktif di ragam media, televisi, internet, bahkan narkotika.

Pada saat yang sama kemampuan diri mengakses beragam perangkat yang memungkinkan hadirnya konten positif di media sosial, termasuk youtube menjadi kewajiban kelompok umat Islam yang secara ilmu memadai dan secara ekonomi memungkinkan. Lakukanlah itu semua sebagai wujud syukur atas nikmat ilmu.

Mensyukuri Nikmat Harta

Menarik paparan Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa sesungguhnya hakikat semua ibadah yang diwajibkan adalah wujud syukur seorang hamba kepada Allah.

Terhadap nikmat harta maka bersedekahlah, berzakat, berinfak, dan membantu sesama.

“Seorang Muslim yang mampu atau memiliki kelebihan harta wajib membelanjakan hartanya untuk memenuhi kebutuhan Muslim lainnya yang lebih memerlukan. Ini merupakan kebaikan tambahan selain kewajiban menunaikan zakat,” terang Imam Al-Ghazali menjelaskan makna Surah Al-Munafiqun ayat ke-10.

Baca: Kemerdekaan Ilmu

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Lantas, apa yang harus dilakukan seluruh kaum Muslimin di hari penuh euforia kemerdekaan ini?

Tentu saja, seperti alasan para pahlawan bangsa melakukan perlawanan terhadap penjajahan, maka hal itulah yang mesti terus dihidupkan di dalam masa kemerdekaann ini, yakni sepenuhnya meningkatkan ibadah, amal shaleh demi hidupnya iman dan taqwa di dalam hati.

Kalau kita mau berpikir lebih mendalam, maka sesungguhnya tidaklah cukup kita merayakan hari kemerdekaan sebatas dengan mengadakan karnaval dan lomba-lomba. Tetapi, semestinyalah umat Islam berbondong-bondong melakukan ibadah di rumah, ke masjid, memberi santunan kepada anak-anak yatim, memberikan perhatian kepada para lansia. Bahkan lebih dari itu menggelar lomba-lomba yang menunjukkan karakter hebat para pahlawan, seperti berpidato, berorasi, berdiplomasi, bahkan berdialektika melawan logika-logika penjajah yang dahulu pernah memenjara kemerdekaan akal umat Islam.

Jika di masa kemerdekaan umat Islam semakin mundur dalam hal iman dan taqwa, maka patutlah semua merenung, sebenarnya siapa yang merdeka?* Imam Nawawi

Rep: Admin Hidcom

Editor:

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !