Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Muslim Harus Miliki Cita-Cita Tinggi

Bagikan:

“Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit,” demikian motivasi yang populer di negeri ini dalam hal untuk bercita-cita.

Tentu saja beragam respon bermunculan, terlebih ungkapan hebat itu muncul saat Indonesia baru saja lahir sebagai bangsa. Namun, pernah kah kita sadari bahwa sebuah kalimat hebat tidak mungkin lahir dari hati dan pikiran yang tak bernilai?

Bernilai artinya punya etos juang tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri. Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.

Dan, karen aitu, Albert Einstein (1879 – 1955) lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai. “Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang bernilai.”

Ungkapan ini terasa relevan di zaman sekarang. Faktanya memang tidak sedikit. Misalnya ada anak yang malas belajar tapi lulus juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai pribadi yang kuat.

Oleh karena itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan ang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

“Maka,” lanjut Ibn Al-Jauzi, “Seorang yang berakal sudah seyogyanya bisa sampai pada puncak dari apa yang dia mampu. Sekiranya masuk akal bagi seorang anak manusia untuk naik ke langit, maka menurutku merupakan kekurangan yang paling jelek kalau dia sudah merasa puas di bumi.

Seandainya kenabian bisa diraih dengan kesungguhan upaya, maka menurutku orang yang bermalas-malasan untuk merahnya berada di jurang kehinaan yang dalam. Hanya saja kalau itu semua memang tidak mungkin, maka seharusnya dia mencari apa yang mungkin (dia lakukan).

Dan, sejarah hidup yang elok menurut para ahli hikmah adalah keluarnya jiwa menuju puncak kesempurnaannya mungkin bisa digapai dalam bidang ilmu dan amal.”

Capaian anak Adam memang tidak bisa sim salabim, sekali jadi, atau sistem kebut semalam. Ada proes yang harus dilalui, ada ‘mahar’ yang mesti dibayar. Sekedar menemukan lampu pijar, Edison harus rela melakukan 1000 kali lebih percobaan. Bahkan Sultan Muhammad Al-Fatih bisa menaklukkan Konstantinopel setelah berabad-abad lamanya cita-cita tinggi keluarga khalifah ingin mewujudkannya.

Oleh karena itu, sebagai apapun diri kita, di usia berapapun, dan dimanapun berada, cita-cita hendaknya terus berkobar-kobar di dalam dada.

Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”

Cita-cita Rasulullah

Dalam riwayat Ahmad dan An-Nasa`i, dari Abu Sukainah radhiyallahu ‘anhu dari salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya dengan sanad yang jayyid, disebutkan:

لَمَّاأَمَرَالنَّبيُّصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِحَفْرِالْخَنْدَقِعَرَضَتْلَهُمْصَخْرَةٌحَالَتْبَيْنَهُمْوَبَيْنَالْحَفْرِفَقَامَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَوَأَخَذَالْمِعْوَلَوَوَضَعَرِدَاءَهُنَاحِيَةَالْخَنْدَقِوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَثُلُثُالْحَجَرِوَسَلْمَانُالْفَارِسِيُّقَائِمٌيَنْظُرُفَبَرَقَمَعَضَرْبَةِرَسُوْلِاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبَرْقَةٌثُمَّضَرَبَالثَّانِيَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُاْلآخَرُفَبَرَقَتْبَرْقَةٌفَرَآهَاسَلْمَانُثُمَّضَرَبَالثَّالِثَةَوَقَالَ: تَمَّتْكَلِمَةُرَبِّكَصِدْقًاوَعَدْلاًلاَمُبَدِّلَلِكَلِمَاتِهِوَهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ. فَنَدَرَالثُّلُثُالْبَاقِيوَخَرَجَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَفَأَخَذَرِدَاءَهُوَجَلَسَ،قَالَسَلْمَانُ: يَارَسُوْلَاللهِرَأَيْتُكَحِيْنَضَرَبْتَمَاتَضْرِبُ َرْبَةًإِلاَّكَانَتْمَعَهَابَرْقَةٌ. قَالَلَهُرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ: يَاسَلْمَانُ،رَأَيْتَذَلِكَ؟فَقَالَ: إِي،وَالَّذِيبَعَثَكَبِالْحَقِّيَارَسُوْلَاللهِ. قَالَ: فَإِنِّيحِيْنَضَرَبْتُالضَّرْبَةَاْلأُولَىرُفِعَتْلِيمَدَائِنُكِسْرَىوَمَاحَوْلَهَاوَمَدَائِنُكَثِيْرَةٌحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَلَهُمَنْحَضَرَهُمِنْأَصْحَابِهِ: يَارَسُوْلَاللهِ،ادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَاوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالضَّرْبَةَالثَّانِيَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُقَيْصَرَوَمَاحَوْلَهَاحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالُوا: يَارَسُوْلَاللهِادْعُاللهَأَنْيَفْتَحَهَاعَلَيْنَوَيُغَنِّمَنَادِيَارَهُمْوَيُخَرِّبَبِأَيْدِيْنَابِلاَدَهُمْ. فَدَعَارَسُولُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَبِذَلِكَ. ثُمَّضَرَبْتُالثَّالِثَةَفَرُفِعَتْلِيمَدَائِنُالْحَبَشَةِوَمَاحَوْلَهَامِنَالْقُرَىحَتَّىرَأَيْتُهَابِعَيْنَيَّ. قَالَرَسُوْلُاللهِصَلَّىاللهُعَلَيْهِوَسَلَّمَعِنْدَذَلِكَ: دَعُواالْحَبَشَةَمَاوَدَعُوْكُمْ،وَاتْرُكُواالتُّرْكَمَاتَرَكُوْكُمْ

“Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan penggalian Khandaq, ternyata ada sebongkah batu sangat besar menghalangi penggalian itu. Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit mengambil kapak tanah dan meletakkan mantelnya di ujung parit, dan berkata: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Terpecahlah sepertiga batu tersebut. Salman Al-Farisi ketika itu sedang berdiri memandang, dia melihat kilat yang memancar seiring pukulan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau memukul lagi kedua kalinya, dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Pecah pula sepertiga batu itu, dan Salman melihat lagi kilat yang memancar ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul batu tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul sekali lagi dan membaca: “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Dan untuk ketiga kalinya, batu itupun pecah berantakan. Kemudian beliau mengambil mantelnya dan duduk. Salman berkata: “Wahai Rasulullah, ketika anda memukul batu itu, saya melihat kilat memancar.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Wahai Salman, engkau melihatnya?” Kata Salman: “Demi Dzat yang mengutus anda membawa kebenaran, betul wahai Rasulullah.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika saya memukul itu, ditampakkan kepada saya kota-kota Kisra Persia dan sekitarnya serta sejumlah kota besarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Para shahabat yang hadir ketika itu berkata: “Wahai Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian saya memukul lagi kedua kalinya, dan ditampakkan kepada saya kota-kota Kaisar Romawi dan sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Para shahabat berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar membukakannya untuk kami dan memberi kami ghanimah rumah-rumah mereka, dan agar kami hancurkan negeri mereka dengan tangan-tangan kami.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa. “Kemudian pada pukulan ketiga, ditampakkan kepada saya negeri Ethiopia dan desa-desa sekitarnya hingga saya melihatnya dengan kedua mata saya.”

Lalu beliau berkata ketika itu: “Biarkanlah Ethiopia (Habasyah) selama mereka membiarkan kalian, dan tinggalkanlah Turki selama mereka meninggalkan kalian.”

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terjadilah apa yang diberitakan oleh beliau. Kedua negara adikuasa masa itu berhasil ditaklukkan kaum muslimin, dengan izin Allah.

Jadi, milikilah cita-cita tinggi, dan gantungkan cita-cita itu kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung). Sebab, jika Allah yang menghendaki, apapun pasti terjadi, termasuk cita-cita dari para hamba-Nya. Wallahu a’lam.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Ayo Berkompetisi Dalam Kebaikan!

Ayo Berkompetisi Dalam Kebaikan!

Jangan Bangga dengan Dosa

Jangan Bangga dengan Dosa

Amar Munkar-Nahi Ma`ruf

Amar Munkar-Nahi Ma`ruf

Tentram Dalam Ketakutan

Tentram Dalam Ketakutan

Siap dan Bahagia Sambut Ramadhan

Siap dan Bahagia Sambut Ramadhan

Baca Juga

Berita Lainnya