Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Baper Sama Sejarah Nabi, Why Not?

blog: fauzan-magetan
Ilustrasi
Bagikan:

Bagi generasi millenial, baper (bawa perasaan) adalah kata gaul yang sangat populer. Di media sosial, tidak sedikit dari kalangan generasi Y itu yang suka nulis status baper. Generasi millenial, adalah mereka yang lahiran tahun 1980, yang menjadi pelaku industri digital.

Tetapi, bagaimanakah sebenarnya posisi baper itu? Mungkin sangat tergantung dari apa yang kita baper-in. Kalau kita pernah kecewa dalam suatu usaha, lalu sulit move on dan cenderung apatis, jelas baper jenis ini tidak disarankan. Tetapi, kalau kamu membaca sejarah Nabi Muhammad, baper itu perlu, sehingga bisa memudahkan diri memahami bagaimana perasaan Nabi dalam menghadapi segala sisi kehidupannya.

Sebab, Nabi sendiri adalah orang yang sangat baper, terutama dalam segala hal yang menyangkut kebaikan umatnya.

لَقَدۡجَآءَڪُمۡرَسُولٌ۬مِّنۡأَنفُسِڪُمۡعَزِيزٌعَلَيۡهِمَاعَنِتُّمۡحَرِيصٌعَلَيۡڪُمبِٱلۡمُؤۡمِنِينَرَءُوفٌ۬رَّحِيمٌ۬

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah [9]: 128).

Menurut Ibn Katsir عَزِيزٌعَلَيۡهِمَاعَنِتُّمۡ memiliki makna bahwa Rasulullah merasa berat menyaksikan penderitan dan kesusahan yang menimpa umatnya. Kemudian حَرِيصٌعَلَيۡڪُم bermakna berkeinginan keras untuk memberikan petunjuk dan menghasilkan manfaat duniawi dan ukhrawi kepada kita.

Artinya, Rasulullah memilki perasaan yang sangat halus dan sangat perhatian terhadap umatnya. Dalam bahasa generasi millenials bisa dikatakan sangat baper terhadap kaum Muslimin.

Hal ini bisa kita lihat dari suatur riwayat yang menunjukkan hal tersebut.

Pada suatu kesempatan, Rasullullah seperti diriwayatkan Abdullah bin Amr bin al-Ash, tengah membaca kisah Nabi Ibrahim juga tentang Nabi Isa. Setelah itu Rasulullah mengangkat tanganya dan berdoa. “Ya Allah, umatku, umatku. Setelah itu beliau menangis. Kemudian Allah befirman, wahai Jibril, temuilah Muhammad–Rabbmu Maha Tahu apa yang terjadi, lalu tanyakan kepadanya kenapa ia menangis.

Jibril kemudian mendatangi beliau. Kemudian beliau ceritakan, apa yang terjadi-Dia Maha Tahu tentang hal itu. Lalu Allah berfirman, Wahai Jibril, temuilah Muhammad lalu katakan, Kami membuatmu ridha mengenai nasib umatmu dan itu tidak akan mengecewakanmu” (HR. Muslim).

Dengan demikian, sangatlah pantas bahkan teramat kita butuhkan untuk benar-benar membawa perasaan kita (baper) dalam membaca sejarah Rasulullah. Sebab dengan baper terhadap sejarah Nabi, hati kita akan lembut, sikap kita akan bijaksana dan tentu saja visi hidup kita bukan saja di dunia, tetapi dunia-akhirat.

Fase kelahiran. Sejak lahir ke dunia Rasulullah telah ditinggal ayahandanya, sehingga beliau lahir dalam keadaan yatim. Baper pada fase ini akan membuat hati kita peka terhadap setiap anak-anak kaum Muslimin yang lahir dengan kondisi tidak lagi memiliki ayah atau ibu.

Kemudian, bayangkan saat Rasulullah berusia enam tahun, dimana Siti Aminah yang merupakan satu-satunya manusia yang paling sayang kepadanya juga menemui ajalnya.

Bayangkan saat sore hari, dimana Rasulullah yang yatim piatu sedang bermain atau berjalan. Kemudian beliau terjatuh dengan lutut terluka dan tidak lama setelah itu hujan deras mengguyur. Kepada siapakah beliau berkeluh kesah, nama siapakah lagi yang bisa dipanggil dan memberikan sentuhan lembut terhadap luka dan dirinya. Memanggil ayah, ibu, jelas tidak mungkin. Dan, demikian Nabi menghadapi situasi sulit seperti itu.

Hikmahnya, kita akan punya kepekaan untuk memiliki perhatian dan kepedulian terhadap anak-anak yatim dan yatim piatu. Subhanalloh, baper terhadap masa kecil beliau benar-benar akan menghidupkan hati kita.

Namun, jangan salah. Rasulullah juga seorang remaja yang gigih dan amanah dalam kehidupannya. Beliau tidak berpangku tangan dan menggantungkan hidupnya dengan bergantung kepada orang lain. Beliau berani menggembala dan menekuninya dengan penuh cinta. Termasuk kala ikut berdagang.

Jika secuil sejarah ini dibaca dengan baik penuh perasaan, cinta dan kesungguhan, maka kita akan memiliki jiwa yang tegar, sabar dan gigih dalam perjuangan. Sebab, hanya Rasulullah suri teladan kehidupan yang dijamin memberika kebahagiaan dunia-akhirat.

لَّقَدۡكَانَلَكُمۡفِىرَسُولِٱللَّهِأُسۡوَةٌحَسَنَةٌ۬لِّمَنكَانَيَرۡجُواْٱللَّهَوَٱلۡيَوۡمَٱلۡأَخِرَوَذَكَرَٱللَّهَكَثِيرً۬

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.“ (QS. Al-Ahzab [33]: 21).

Oleh karena itu, sangat tepat apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah. Menurut Ibnul Qayyim,  “Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantungkan kebahagiaan dunia dan akhirat pada ittiba kepada beliau, dan menjadikan celaka di dunia dan akhirat disebabkan menentang beliau.”

Dengan demikian, baper itu penting terutama dalam membaca sejarah kehidupan Nabi Muhammad.

Jadi, jangan sampai salah kaprah, terhadap keinginan yang belum bisa diwujudkan jiwa bisa sangat baper, sementara terhadap apa yang akan membahagiakan kehidupan dunia-akhirat, kita justru tidak bisa baper. Padahal, dengan baper dalam membaca sejarah Nabi, kebahagiaan itu telah kita buka dalam kehidupan kita sekarang dan selamanya.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kapan Terakhir Anda Berqurban?

Kapan Terakhir Anda Berqurban?

bmkg hujan

Cara Mudah Mensyukuri Berkah Hujan

Jika tak Malu, berbuatlah Sekehendakmu

Jika tak Malu, berbuatlah Sekehendakmu

Mewaspadai Karakter “Firaun” dalam Diri

Mewaspadai Karakter “Firaun” dalam Diri

Yuk, Kita Berghibah Yang Halal!

Yuk, Kita Berghibah Yang Halal!

Baca Juga

Berita Lainnya