Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Sya’ban Tangga Penting Sukses Ramadhan

Bagikan:

DALAM dunia marketing ada istilah “gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.” Nampaknya hal itu bukan sekedar candaan, sebab pada kenyataannya, semua hal baik tidak ada yang bisa dicapai tanpa perencanaan yang baik.

Sayyidina Ali berkata, “Kebenaran yang tidak diorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang diorganisir.”

Ungkapan Khalifah ke empat itu bisa kita maknai bahwa sekalipun Ramadhan akan menyapa kehidupan kita, jika tidak ada upaya mengorganisir diri dengan sebaik-baiknya, maka kesia-siaan bukan tidak mungkin akan banyak mewarnai puasa kita sebulan penuh. Alasannya jelas, memang tidak ada perencanaan. Jadi, bagaimana mungkin bisa meraih kemenangan?

Terlebih Ramadhan bukan saja momentum bagi kita yang benar-benar ingin meningkatkan iman dan taqwa. Ramadhan juga menjadi momentum emas para pencari dunia, di antaranya adalah media massa, terutama televisi yang sangat gencar mengemas beragam program tontonan yang seringkali menjadikan kita lupa dan lalai bahwa kita sedang berada di bulan puasa, sehingga nyaris waktu tersedot untuk menonton dan membicarakan tayangan-tayangan yang menyita perhatian kita sendiri.

Belum lagi, kala nanti memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, bombardir iklan sangat luar biasa, yang jika kita termasuk orang yang tidak punya niat dan benar-benar ingin beri’tikaf bukan tidak mungkin akan menjadi sasaran empuk para pelaku pasar. Belum lagi ‘rayuan’ dari istri dan anak yang sudah barang tentu teriak-teriak belanja untuk lebaran.

Oleh karena itu, memasuki Sya’ban sangat elok jika segera menyusun perencanaan. Sebab, tanpa tantangan budaya seperti di atas, Rasulullah sejak dini telah menjadikan Sya’ban sebagai bulan persiapan.

Persiapan Rasulullah

Bagaimana Rasulullah melakukan persiapan Ramadhan di bulan Sya’ban bisa kita lihat dari bagaimana beliau menata atau mengorganisir aktivitasnya. Pertama, aktivitas jiwa. Kedua, persiapan aktivitas raga, yang pada hakikatnya semua bersumber dari kekuatan iman.

Persiapan jiwa meliputi memperbanyak doa dan mengingat-ngingat Ramadhan dan keutamaannya.

Sedangkan persiapan aktivitas beliau lakukan dengan memperbanyak puasa sunnah dan memperbanyak tilawah Al-Qur’an.

Memperbanyak Puasa

Terkait memperbanyak puasa Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau memperbanyak puasa kecuali pada bulan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits lain menyebutkan bahwa Rasulullah melakukan itu agar dirinya benar-benar siap menyambut dan mengisi Ramadhan.

Usamah bin Zaid radhiyallahu anhu berkata, “Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihat engkau memperbanyak puasa seperti yang engkau lakukan pada bulan Sya’ban?’

Rasulullah menjawab, “Karena seringkali pada saat itu, pada bulan antara Rajab dan Ramadhan, orang-orang lali, padahal saat itulah, di bulan itu, seluruh amalan manusia disapaikan kepada Rabbul ‘Alamin. Maka aku sangat senang bila ketika amalanku disampaikan kepada Allah Ta’ala, aku sedang dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad dan Nasa’i).

Meningkatkan Tilawah Al-Qur’an

Anas bin Malik radhiyallahu anhu bertutur, “Jika datang bulan Sya’ban, kaum muslimin memendamkan muka mereka pada mushaf-mushaf Al-Qur’an untuk membacanya, dan mereka mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, agar kaum dhuafa dan miskin menjadi kuat dalam menghadapi bulan Ramadhan.”

Tidak bisa kita pungkiri, tilawah Qur’an bukanlah perkara mudah, terlebih bagi mereka yang sudah terbiasa tenggelam dalam aktivitas mencari nafkah dan tidak menyempatkan diri membaca kitab suci.

Hal serupa juga terjadi di masa lalu, dimana seorang ulama pernah ditanya oleh seseorang yang sudah lama tidak membaca Al-Qur’an. Begitu dia kembali ingin membaca, ia tak mampu membaca kecuali hanya beberapa ayat saja. Sang ulama menyarankan agar orang itu melawan perasaannya. Begitu ia mengamalkan kembali tilawah Qur’an dengan tertib dan disiplin, ia berkata, “Aku sangat ingin terus membacanya, aku belum merasakan perasaan seperti itu sebleumnya.”

Memperbanyak doa

Berdoa adalah wujud keinginan jiwa kemantaban hati akan sesuatu. Jadi, berdoa untuk bisa dipertemukan dengan bulan Ramadhan bukan hal yang salah. Meskipun dalam beberapa ulasan, ada perbedaan pendapat mengenai redaksi doa yang digunakan oleh Rasulullah. Tetapi, pada prinsipnya, berdoa itu baik dan itu bagian dari ibadah.

Mengingat-ingat Keutamaan Ramadhan

Ramadhan memang bulan diwajibkannya umat Islam berpuasa, namun Ramadhan juga memiliki banyak keutamaan.

Ramadhan bulan Al-Qur’an. Ramadhan bulan dimana pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Di bulan Ramadhan juga ada satu malam istimewa, yakni malam Lailatul Qadar. Selain itu Ramadhan adalah bulan dimana amalan sunnah dinilai setara wajib dan setiap kebaikan yang diamalkan akan mendapat balasan berlipat ganda langsung dari Allah Ta’ala.

Terlepas dari apapun, mari jadikan Sya’ban sebagai bulan penempaan diri seutuhnya, sehingga Ramadhan nanti Allah anugerahkan kita iman dan taqwa yang akan terus menyala-nyala di dalam dada sampai ajal tiba. Wallahu a’lam.*

 

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Akhir Tahun, Prioritaskan Muhasabah dan Peningkatan Iman

Akhir Tahun, Prioritaskan Muhasabah dan Peningkatan Iman

Makanan Haram Menghalangi Terkabulnya Doa

Makanan Haram Menghalangi Terkabulnya Doa

Beginilah Berhari Raya yang Islami

Beginilah Berhari Raya yang Islami

Keteguhan: Rumus Hadapi Gelombang dan Kesulitan

Keteguhan: Rumus Hadapi Gelombang dan Kesulitan

Menjadi Kaya dengan Etos ‘Jihad Ekonomi’

Menjadi Kaya dengan Etos ‘Jihad Ekonomi’

Baca Juga

Berita Lainnya