Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Tingkatkan Kepedulian dengan Tradisi Hidup Sederhana

Bagikan:

KEPEDIHAN yang dirasakan saudara kita di Gaza sungguh sangat luar biasa. Mereka bukan saja mendapat serangan biadab dari Israel, tapi mereka belum pernah mendapat perhatian jelas dari lembaga resmi dunia secara signifikan. Israel dengan sangat pongah terus melakukan pengerusakan dan pembunuhan di Palestina.

Kini, tidak kurang dari 1000 warga Gaza telah wafat dan tidak kurang dari 4000 warga mengalami luka-luka. Kita memang pasti mengutuk kebiadaban Israel tersebut. Namun, mesti disadari, mengutuk bukanlah solusi. Saudara di Gaza memerlukan kontribusi dan partisipasi kita semua. Sebab, mereka adalah saudara kita yang Allah pilih mendapat tantangan jihad nyata, yang berarti kita juga mendapat peluang yang sama dengan peduli terhadap mereka.

Akan tetapi, pada kesempatan ini bukan bemtuk kontribusi apa yang harusnya kita berikan, karena itu sudah nyata di depan mata. Kajian kali ini akan mengajak kita semua bagaimana meningkatkan kepedulian terhadap saudara seiman yang dilanda kesusahan.

Peduli adalah wujud konkret keimanan seseorang. Dengan kata lain, Muslim yang tidak peduli terhadap kebutuhan Muslim lainnya, masih terkategori belum konkret imannya. Di dalam Al-Quran dijelaskan bahwa satu di antara kriteria Muslim yang mendapat petunjuk dan kemenangan dari-Nya ialah yang menginfakkan sebagian rizkinya (QS. Al-Baqarah: 3).

Di dalam ayat lain, Allah justru kategorikan peduli terhadap sesama dengan menginfakkan sebagian harta sebagai langkah nyata yang langsung mendekatkan diri pada ampunan-Nya (QS. Ali Imran: 133-134).

Artinya, peduli adalah perkara penting yang mesti diasah terus menerus. Sebab, peduli bukan sikap yang bisa dibangun semata atas landasan logika, tetapi keimanan dan ketaqwaan. Seseorang bisa saja kasihan kepada sesama, tapi kasihan yang tidak karena iman tidaklah sebaik kasihan yang karena iman.

Terkait dengan kepedulian, seorang Muslim akan sangat sulit bisa peduli jika gaya hidupnya tidak sederhana dan cenderung berlebih-lebihan. Bahkan, jika dibiarkan akan melahirkan sikap oportunis yang semakin membuatnya terbelenggu oleh kenikmatan semu harta dunia.

Oleh karena itu, kita perlu belajar hidup sederhana, sewajarnya dan menjauhi sikap oportunis. Sebab, mustahil muncul krpedulian kalau seorang Muslim hanya berpikir tentang kesenangan pribadinya semata. Dengan demikian, membangun gaya hidup sederhana sebagaiamana Rasulullah adalah bagian dari merekayasa diri dan keluarga kita tampil sebagai pihak yang peduli dan selalu siap berkontribusi bagi kemaslahatan umat.

Kesederhanaan Kehidupan Nabi

Bagaimana kita membangun hidup sederhana? Tentu dengan mengacu pada Rasulullah Shallallahu Alayhi wasallam. Di antaranya ialah makan secukupnya. Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, “Keluarga Muhammad belum pernah kenyang dari tepung sya’ir sampai dua hari berturut-turut, hingga wafat.” (HR. Bukhari).

Bahkan sebuah hadits menyebutkan Rasulullah melakukan itu semua dengan penguatan doa. “Ya Allah, berikanlah rizki keluarga Muhammad sekedar sesuap makanan semata-mata.” (HR. Bukhari).

Dan, ternyata Rasulullah menerapkan gaya hidup sederhana dalam setiap sisi kehidupannya. Aisyah berkata, “Adalah alas tempat tidur Rasulullah itu terbuat dari kulit yang berisi sabut.” (HR. Bukhari).

Jadi, pantas jika Rasulullah paling tidak bisa tidak peduli terhadap urusan umat. Apa sebab, beliau melatih diri sedemikian rupa, sehingga kala ada kesusahan menimpa umatnya, beliau tidak semata sadar karena sisi kemanusiaannya semata, tetapi lebih jauh dari itu karena beliau bisa merasakan kesusahan itu sendiri, sehingga senantiasa bersegera membantu.

Sebaliknya, akan sangat sulit seorang Muslim peduli secara utuh terhadap kebutuhan umat, manakala gaya hidupnya tidak sederhana dan xenderung hedonis. Logikanya sederhana, bagaimana dia merasakan sakitnya lapar orang miskin, bagaimana dia merasakan sakitnya anak-anak tidak bisa sekolah. Bagaimana saudara-saudara kita di Gaza tak lagi memiliki apa-apa yang berupa harta benda.

Semua itu bisa menusuk jantung kita hanya apabila kita mengasah iman kita dengan gaya hidup sederhana. Hidup sederhana memagari diri dan keluarga kita dari ambisi materi yang tak bertepi. Pada saat yang sama memudahkan kita untuk lebih peduli. Bahkan lebih jauh, kesederhanaan bisa memicu dan memacu ukhuwah umat, yang merupakan kunci utama dari terwujudnya izzah umat Islam. Karena dalam kesederhanaan ada kepedulian yang merupakan anak kandung keimanan. Wallahu a’lam.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mengenal Halal-Haram Semenjak Usia Dini [2]

Mengenal Halal-Haram Semenjak Usia Dini [2]

Gila Harta, Sumber Malapetaka

Gila Harta, Sumber Malapetaka

Agama Gudangnya Nasihat, jangan Curhat di Dunia Maya

Agama Gudangnya Nasihat, jangan Curhat di Dunia Maya

Memilih Tentangga yang Sholeh

Memilih Tentangga yang Sholeh

Berinfaqlah dengan Harta Tercinta

Berinfaqlah dengan Harta Tercinta

Baca Juga

Berita Lainnya