Rabu, 3 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Empat Tips Amaliah Mengisi Ramadhan

Bagikan:

NIKMAT yang sungguh luar biasa, kita kembali dipertemukan dengan Bulan Suci Ramadhan. Bulan yang di dalamnya pintu doa (ampunan) terbuka luas dan pintu neraka tertutup rapat bahkan setan pun dibelenggu.

Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah, “Ketika datang bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu Jahannam ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari).

Hadits tersebut memberikan petunjuk gamblang bahwa tidak sepatutnya umat Islam menghadapi Ramadhan secara biasa-biasa saja atau sama seperti di luar Ramadhan. Hal ini karena keutamaan Ramadhan itu sendiri yang sangat luar biasa.

Allah   tidak saja melipatgandakan amal kebaikan, tetapi bahkan menutup pintu Jahannam, termasuk para ‘mucikarinya’, yakni para setan. Setan-setan itu Allah   belenggu agar tidak merusak kenikmatan ibadah umat Islam selama Ramadhan.

Dengan kata lain, jika Ramadhan masih disikapi secara biasa, apalagi justru tidak ada rencana untuk merubah diri selama bulan suci ini, maka sesungguhnya setan sudah berhasil menjerumuskan jiwa raganya dalam praktik hidup yang akan menjadi sebab akhiratnya memasuki pintu Jahannam. Na’udzubillahi min dzalik.

Di bawah ini tips amaliah puasa Ramadhan;

1.    Menjauhi yang Tidak Bermanfaat

Jika disabdakan Nabi bahwa pintu langit dibuka, artinya dalam 24 jam hendaknya dimaksimalkan untuk hal-hal yang bermanfaat, bahkan bernilai ibadah yang mencakup kehidupan dunia-akhirat. Mulai dari memperbanyak amal ibadah maupun meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Prinsipnya, tidak ada yang tidak bermanfaat yang dilakukan. Apalagi sampai maksiat di bulan Ramadhan.

Ulama terdahulu, mengisi hari-harinya dengan berbagai macam aktivitas ibadah yang luar biasa. Imam Syafi’i, misalnya. Beliau mengazamkan diri untuk menghindari terlewatkannya Ramadhan begitu saja dengan menghatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali sepanjang Ramadhan.

Mengapa sefantastis itu yang beliau lakukan? Sebenarnya alasannya sederhana, agar Ramadhan tidak berlalu begitu saja atau biasa-biasa saja. Tetapi, bagaimana Ramadhan memang mendatangkan kekuatan besar bagi iman, akal dan ketajaman hatinya.
Oleh karena itu, sungguh naif, bila puasa dimaknai sebatas tidak makan dan tidak minum. Sementara komitmen kita terhadap perbaikan diri, utamanya dengan menjauhi yang tidak bermanfaat tidak benar-benar kita lakukan.

2.    Optimalisasi Waktu

Jika diteliti lebih dalam, puasa ternyata tidak saja memberikan dampak kekuatan ruhani yang bagus bagi umat Islam, tetapi juga pembangunan karakter, utamanya dalam optimalisasi waktu.

Hal ini bisa dilihat dari adanya anjuran yang sangat kuat terhadap umat Islam yang berpuasa untuk bisa makan sahur. “Makan sahurlah kalian, karena pada makan sahur itu terdapat barokah.” (HR. Bukhari).

Dengan kata lain, puasa memberikan panduan bahwa orang berpuasa itu harus makan sahur. Nah, makan sahur ini dilaksanakan sekitar satu jam sebelum shubuh.

Anjuran ini, secara tersirat memberikan panduan nyata tentang betapa umat Islam sangat rugi jika Ramadhan sampai tidak bangun malam, apalagi tidak makan sahur. Artinya, anjuran yang sangat kuat untuk makan sahur ini secara tidak langsung menghendaki agar setiap yang berpuasa, berlatih, membiasakan diri bangun malam. Sebab, banyak sekali kemuliaan di dalamnya.

Selain itu, pada sepuluh malam terakhir, Allah   akan memberikan karunia berupa Malam Lailatul Qadar. Jika, tradisi bangun malam ini telah terwujud sejak awal Ramadhan, tentu peluang kita untuk bisa bangun di sepuluh malam terakhir guna mendapatkan Malam Lailatul Qadar tidak akan banyak mengalami kendala.

3.    Menjaga Lisan

Sebagaimana pernyataan dai kondang terdahulu, KH. Zainuddin MZ, bahwa inti dari puasa adalah pengendalian diri. Maka, satu hal yang harus benar-benar dijaga di sini adalah mengenai perbuatan lisan.

Rasulullah bersabda, “Puasa itu perisai. Jadi janganlah berkata keji dan berbuat bodoh. Jika ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci makinya, hendaklah ia berkata, ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa. Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Artinya, kalau kita mau intropeksi diri, apakah puasa kita berhasil atau tidak, tinggal dilihat bagaimana lisan ini berkata-kata. Apakah lebih sering memberikan perkataan yang baik dan tidak melukai perasaan orang lain atau bagaiaman?

Jika ternyata, selama berpuasa, lisan ini tidak bisa dikendalikan, maka puasa yang dilakukan tidak lebih dari sekedar menahan lapar dan dahaga belaka. Hal ini penting dan harus digarisbawahi, mengingat saat ini, umat Islam berada dalam masa kampanye pilpres yang kadangkala antara satu pendukung dengan yang lainnya saling merendahkan.

Apalagi, kalau sampai dalam puasa masih berani-berani berdusta. Rasulullah berabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan melakukannya; maka Allah   tidak perlu dia meninggalkan makannya dan minumnya.” (HR. Bukhari).

4.    Menyegerakan Berbuka

Rasulullah bersabda, “Manusia masih akan tetap dalam kebaikan selama dia menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari).

Dalam makna umum, hadits ini memberikan perintah agar umat Islam tidak menunda-nuda buka puasa, apalagi kalau memang waktu sudah tiba.

Tetapi, secara lebih jauh, kalau kita renungkan, makna hadits ini tidak saja berdimensi waktu, tetapi juga persiapan dan perbelanjaan. Jangan karena puasa, lantas buka puasa jadi mahal. Jangan karena puasa, lantas volume belanja meningkat. Jika itu terjadi, maka dimana relevansi puasa dengan menahan diri, kesederhanaan dan kepedulian?

Rasulullah sendiri tidak pernah berbuka secara berlebihan. Berdasarkan riwayat yang umum disampaikan para muballigh, Rasulullah biasa berbuka dengan beberapa butir kurma dan air putih.

Apabila hal itu dilakukan, maka insya Allah   selama puasa umat Islam akan mampu mengendalikan nafsu konsumtifnya. Yang dengan itu diharapkan mampu membangkitkan ghirah infak dan sedekahnya. Sebab, Rasulullah tidak melalui Ramadhan, melainkan dengan infak yang luar biasa.

Dari Ibn Abbas radhiAllahu anhu berkata, “Rasulullah shallAllah  u alayhi wasallam, adalah manusia yang paling dermawan, dan kondisi beliau paling dermawan adalah di Bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Jika beberapa langkah di atas kita terapkan, insya Allah   jalan menuju takwa dari puasa yang kita jalani di Ramadhan 1435 H ini akan semakin terbuka dan tentu kita berharap Allah   memberikan kemudahan bagi kita mencapai derajat takwa. Aamiin.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Teladani Ulama dalam Menuntut Ilmu

Teladani Ulama dalam Menuntut Ilmu

Tutup Peluang Permusuhan, Jaga Persaudaraan!

Tutup Peluang Permusuhan, Jaga Persaudaraan!

Mendengarlah untuk Kecerdasan dan Keberuntunganmu

Mendengarlah untuk Kecerdasan dan Keberuntunganmu

Yuk! Kita Hidupkan Kembali Warisan Kenabian

Yuk! Kita Hidupkan Kembali Warisan Kenabian

10 Adab Batin Membaca Al-Quran Menurut Imam Ghozali [2]

10 Adab Batin Membaca Al-Quran Menurut Imam Ghozali [2]

Baca Juga

Berita Lainnya