Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Jauhi Kesesatan Berpikir dalam Urusan Dunia

Bagikan:

ATAS rahmat Allah Ta’ala, menjelang Ramadhan tahun ini sebuah tempat prositusi terbesar di Asia Tenggara, Dolly, akhirnya ditutup.

Sungguh suatu langkah bersejarah apa yang telah dilakukan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dan Gubernur Jawa Timur, Dr H Soekarwo tersebut. Suatu langkah benar yang semestinya didukung oleh semua makhluk berakal.

Meski gema penutupan ini disambut mayoritas umat,  beberapa media nampak dengan terang benderang mengangkat suara mereka yang katanya menolak penutupan Dolly. Garis besarnya satu, bahwa penutupan Dolly berarti kematian rizki bagi mereka. Logika ini sungguh sesat dan melampaui batas.

Bagaimana mungkin, manusia bisa meyakini bahwa maksiat dan kesesatan adalah sumber rizkinya? Pada saat yang sama mereka meyakini bahwa keimanan dan ketakwaan tidak akan pernah mampu mengantarkan mereka pada tingkat kehidupan (ekonomi) yang mereka inginkan?

Ini merupakan satu wujud keseatan berpikir yang tidak mungkin terbangun melainkan oleh orang yang memang telah menikmati kebiasaan buruk sebagai sebuah kesenangan. Dalam kepala orang yang demikian orientasinya hanya satu bagaimana mengumpulkan uang banyak titik.

Apakah itu melanggar hukum, melecehkan kemanusiaan, merusak tatanan moral kehidupan dan bahkan menghancurkan generasi masa depan, sama sekali itu tidak menjadi beban pikirannya.

Nah, kadang kala, manusia sering menganggap benar yang salah pada saat muncul kecintaan yang sangat kuat terhadap dunia, sehingga muncullah niat yang salah, kemudian demi membenarkannya, muncul berbagai macam istilah yang dimaksudkan menjadi senjata dari kesesatan pikirnya. Na’udzubillah, sebagai Muslim kita harus menjauhi cara berpikir terlaknat seperti itu.

Hawa Nafsu

Apa yang menjadikan seseorang mengalami kesesatan berpikir, tiada lain karena memperturutan hawa nafsu.

Syeikh Ibn Atha’illah As-Syakandari mengatakan dalam kitabnya Al-Hikam, “Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah memperturutkan hawa nafsu. Dan, pangkal dari segala ketaatan, kewaspadaan dan kesucian adalah engkau tidak ridha dengan kemauan hawa nafsu.”

Dengan kata lain, jika seseorang dalam kesehariannya sudah terbiasa memperturutan hawa nafsunya dengan menyenangi berbagai macam kemaksiatan, maka sangat tidak mungkin ia bisa berpikir logis. Sebaliknya ia akan kehilangan sifat-sifat dasar kemanusiaannya.

Mengapa demikian, karena jiwa raganya sudah terlampau nyaman, menikmati hasil semu dari kemaksiatan, sehingga akal dan hatinya tidak berfungsi secara normal. Inilah yang menjadikan banyak pelaku maksiat kehilangan rasa malu. Bahkan terlihat sangat bodoh dengan menolak kebenaran yang sesungguhnya sangat dibutuhkannya.

Kebutaan Hati

Apabila itu sengaja dibiarkan maka yang akan terjadi selanjutnya adalah kebutaan hati. Suatu kondisi dimana akal dan hati sudah tidak berfungsi, melainkan hanya untuk membangun argumen dan logika yang menyenangkan kebutuhan ragawinya belaka.

Di dalam Al-Qur’an, orang yang mengalami kebutaan hati tidak lagi memiliki kemuliaan. Allah menyebutnya sebagai orang yang lebih rendah derajatnya dari binatang ternak.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf [7]: 179).

Jangan Putus Asa

Dengan demikian, sudah sepantasnya, setiap Muslim membangun niat dan tekad yang kuat dalam dirinya untuk menjauhi kesesatan berpikir seperti diurai di atas. Apabila hati kita belum merasa tenang, tentram dan bahagia dalam ketaatan, dan seolah hidup masih dalam kesulitan panjang, maka jangan berputus asa dari rahmat Allah. Teruslah bersihkan hati, niscaya bahagia akan segera tiba.

Sebab Syeikh Ibn Atha’illah dalam kitab Al-Hikam mengatakan, “Datangnya petolongan Allah adalah sesuai dengan persiapan, sedangkan turunya cahaya Allah adalah sesuai dengan kejernihan relung hati.”

Artinya, sebagai Muslim, kita mesti terus-menerus membersihkan hati kita dari segala sesuatu selain Allah, insya Allah, Allah akan memenuhi hati kita dengan makrifat dan berbagai rahasia keyakinan.

Untuk itu, sangat baik jika selain berupaya memperbanyak amalan ibadah, kita semua meresapi apa yang dituliskan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Minhajul Abidin. Di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa maksiat yang dilakukan, pada akhirnya hanya akan mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan.

Dengan demikian, jauhilah segala macam logika sesat yang menjerumuskan kita pada jalan kedurhakaan. Karena Allah menciptakan manusia bukan untuk menyembah kesesatan. Tetapi menetapi kebenaran dengan konsisten beribadah hanya kepada-Nya.

Yakinlah, rizki dari (taat) di jalan Allah itu lebih baik, menentramkan dan membahagiakan, meski terasa sedikit dalam hitungan kita. Dibanding, uang berlimpah dari kemaksiatan. Sebab, tiadalah ujung dari kemaksiatan, selain kebodohan da kesengsaraan hidup dunia-akhirat.

Bagaimana jika hati merasa dosa yang dilakukan sudah sangat besar terasa dan menghimpit rasa hati dalam dada. Tenang, kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Allah Maha Pengampun dan akan mengampuni segala dosa kecuali syirik. Dan, siapa berputus asa dari rahmat Allah maka ia telah sesat sejauh-jauhnya.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُوْلَئِكَ يَئِسُوا مِن رَّحْمَتِي وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih” (QS. Al-Ankabut [29]: 23).*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Tiga Solusi Tegakkan Kembali Peradaban Umat Islam

Tiga Solusi Tegakkan Kembali Peradaban Umat Islam

Jauhi Azab dengan Cara Menolak Maksiat

Jauhi Azab dengan Cara Menolak Maksiat

Jadikan Rumah Tangga Kita sebagai “Baiti Jannati”

Jadikan Rumah Tangga Kita sebagai “Baiti Jannati”

Muslim Harus Miliki Cita-Cita Tinggi

Muslim Harus Miliki Cita-Cita Tinggi

Biasakanlah Dzikir, Karena Dzikir Itu adalah “Obat”

Biasakanlah Dzikir, Karena Dzikir Itu adalah “Obat”

Baca Juga

Berita Lainnya