Dompet Dakwah Media

Jika tak Mau Memikul Beban di Akhirat, Hindari jadi Pemimpin Zalim

jika kematian sudah menjemput, maka semua kezaliman yang pernah dilakukan, lebih-lebih yang disengaja akan benar-benar menjadi beban tak terpikulkan di hari yang abadi nanti

Jika tak Mau Memikul Beban di Akhirat,  Hindari jadi Pemimpin Zalim

Terkait

TAHUN 2014 baru saja bergulir, tetapi rakyat sudah hidup dalam ketidakmenentuan. Mulai dari harga komoditi penting dalam kehidupan yang tiba-tiba melonjak naik sampai pada stigmatisasi negatif yang tanpa proses hukum langsung jatuh vonis. Terlepas dari apa pun, dua kasus tersebut sudah cukup memberikan bukti bahwa telah terjadi kezaliman yang dirasakan oleh rakyat dan umat negeri ini.

Publik mengalami kesulitan besar untuk bisa menganalisa kasus-kasus yang sering terjadi dengan banyak keganjilan semacam itu. Nalar logika manusia secara umum pun tidak mampu mencerna dengan baik. Bukan karena publik yang tidak mngerti, tetapi karena secara fakta banyak sekali terjadi keganjilan yang membuat publik ‘curiga’ terhadap sikap pemimpinnya.

‘Kecurigaan’ semacam itu sangat wajar. Karena publik pada umumnya seolah dibiarkan hidup dalam kesulitan demi kesulitan. Sementara sebagaian pemimpin di negeri ini hidup dalam gelimangan harta dan kenyamanan. Tanpa harus menggunakan wahyu sebagai sudut pandang, kondisi tersebut sudah cukup untuk orang berkata bahwa telah terjadi kezaliman pada diri pemimpin negeri ini.

Lebih-lebih jika menjadikan wahyu sebagai sudut pandang, jelas kezaliman adalah sesuatu yang sangat diharamkan. Hal ini ditegaskan secara gamblang oleh Rasulullah dalam beberapa haditsnya yang termaktub dalam kitab Riyadhus Sholihin buah karya dari Syeik Imam Nawawi.

“Barangsiapa mengambil hak seorang Muslim dengan tangan kanannya, maka Allah telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan surga untuknya. Maka seseorang bertanya, “Sekalipun barang sedikit wahai Rasulullah?” Maka beliau menjawab, “Meskipun sebatang siwak.” (HR. Muslim).

Jika mengambil sebatang siwak saja neraka sudah pasti, lantas bagaimana jika mengambil hak rakyat dan umat. Bukankah Undang-Undang Dasar di negeri ini menyatakan segala bentuk kekayaan alam dikuasai negara untuk seluas-luas kemakmuran rakyat?

Amanah

Seorang pemimpin mestinya bersikap amanah, setia pada ikrar syadatya dan komitmen dengan ikrar sumpahnya baik yang diucapkan kala pelantikan atau pun kala mencari dukungan agar dirinya menjadi pemimpin. Meskipun sebenarnya seorang Muslim dilarang mencari dukungan untuk meraih kekuasaan.

Amanah di sini berarti bisa dipercaya atau dapat diandalkan. Sebagaimana kepemimpinan seorang Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan maupun Sayyidina Ali. Mereka adalah tipe pemimpin yang untuk diri dan keluarganya tidak begitu ingin dlayani, tetapi justru sebaliknya. Sangat ingin melayani rakyat dan umatnya.

Bahkan, Umar rela tidur di atas pasir dengan hanya beralas pelepah kurma demi menjaga sikap amanah. Ketika ditanya seorang Badui, siapa temannya khalifah Umar, Umar menjawab, “Fakir miskin dan yatim piatu.”

Lalu ditanya lagi, “Dimana tempat tidurnya?” Beliau menjawab, “Di atas padang pasir dengan beralas pelepah daun kurma.” Yahudi yang bertanya itu pun kebingungan dengan sikap dan mentalitas pemimpin umat Islam itu.

Mengapa Umar melakukan itu semua? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena rasa setianya kepada rakyat dan umatnya. Di samping karena keimanan dan ketakwaannya yang sangat kuat, sehingga kala memimpin, Umar tidak pernah tenang dan nyaman, apalagi ongkang-ongkang di atas pembaringan. Beliau justru menghabiskan hari-harinya untuk memantau langsung kondisi rakyatnya.

Jangan Korupsi

Pemimpin sejati tidak akan pernah berpikir buruk apalagi melakukan tindak korupsi. Selain akan mengikis sifat amanah yang mestinya dijaga, pada akhirnya juga akan menjerumuskan diri dan keluarganya pada kesengsaraan.

Terkait hal ini Rasulullah bersabda, “Siapa diantara kamu yang kami serahi tugas amal, lalu menyembunyikan jarum dan yang lebih dari itu dari kami, maka itu termasuk ghulul yang akan dia pikul pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim).

Jadi, Islam sangat mencegah dan begitu tegas melarang terjadinya kezaliman-kezaliman, lebih-lebih pada diri seorang pemimpin. Jika menyembunyikan satu jarum saja sudah pasti neraka, bagaimana jika lebih dari itu? Yang dampaknya bukan saja pemerintah, tetapi rakyat dan umat? Di sinilah hendaknya para pemimpin benar-benar membuka hati untuk tidak korupsi.

Mungkin di dunia masih bisa lolos dari tanggung jawab hukum, tetapi di akhirat semua akan diperhitungkan. Bahkan, siapa berbuat korupsi atau kezaliman, kebaikan apa pun yang dilakukannya, termasuk jihad di medan tempur tidak akan memalingkan dirinya dari siksa api neraka.

Dari Umar bin Khaththab, dia berkata, “Ketika selesai perang Khaibar, beberapa sahabat Nabi datang menghadap beliau. Mereka melaporkan, “Fulan Syahid, Fulan Syahid, hingga ketika mereka sampai pada nama seseorang mereka menyatakan, “Fulan Syahid.” Maka Nabi bersabda, “Tidak, sesungguhnya aku melihatnya di neraka, karena burdah (pakaian bergaris-garis) yang diambilnya (dari ghanimah) atau jubah.” (HR. Muslim).

Tidak ada Penolong

Bagi siapa pun yang berbuat zalim memang Allah tidak langsung memberikan hukuman kepadanya. Bahkan mungkin diberikan keleluasaan oleh Allah untuk bertindak sesuka hati, sebagaimana yang dialami oleh Fir’aun, Qarun dan Namruz. Semuanya malah berkuasa cukup lama dalam hitungan manusia. Tetapi, bila saatnya datang siksa, baginya tidak ada satu penolong pun.

  مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (QS. Al-Mukmin [40]: 18).

Kemudian di dalam firman-Nya yang lain;

وَالظَّالِمُونَ مَا لَهُم مِّن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong.” (QS. As-Syuro [42]: 8).

Kemudian hal ini diperkuat dengan sabda Nabi dalam Kitab Riyadhus Sholihin yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, “Sesungguhnya Allah menangguhkan orang yang zalim, maka apabila Allah menghendaki menghukumnya tidak akan melepasnya (dari siksa).

Kemudian beliau membaca;

وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

“Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.” (QS. Hudd [11]: 102).

Oleh karena itu, selagi masih ada umur dimana kita bisa manfaatkan untuk muhasabah atau intropeksi diri, terutama para pemimpin negeri ini, pergunakanlah sebaik-baiknya untuk bertaubat dan meluruskan niat dan bekerjalah untuk kepentingan rakyat dan umat. Bukan kepentingan nafsu syahwat yang sesaat.

Karena jika kematian sudah menjemput, maka semua kezaliman yang pernah dilakukan, lebih-lebih yang disengaja akan benar-benar menjadi beban tak terpikulkan di hari yang abadi nanti. Boleh jadi tidak ada hukuman dari penegak hukum, tapi cepat atau lambat hukuman Allah pasti akan diterima. Jadi, mari jauhi kezaliman karena tidak ada keuntungan berupa apa pun dari berbuat zalim. Wallahu A’lam.*

Rep: Imam Nawawi

Editor:

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !