Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Lima Do’a Reformasi dan Berbenah Diri

Bagikan:

TIAP bulan Mei rakyat Indonesia memperingati tonggak perubahan dari sistem totaliter dan otoriter menuju sistem kebebasan serta keterbukaan, perubahan dari era Orde Baru menuju era Reformasi. Setelah tiga dekade lebih hidup dalam keterbatasan akses informasi, politik, dan menyampaikan pendapat, kini semunya bisa menghidup udara kebebasan meski belakangan, kebebasan ini disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Semuanya berteriak lantang “Reformasi Total”.

Dalam Kamus Inggris-Indonesia oleh John M Elchos dan Hasan Syadiliy, reformasi yang memang berasal dari bahasa Inggris, reformation, berarti penyusunan kembali. Jika kita padankan dengan bahasa Arab, kita temukan islah yang bermakna memperbaiki.

Kata islah berasal dari akar kata aslaha-yuslihu. Secara singkat, kata ini jika ditambah dengan kata-kata tertentu akan mempunyai makna khusus. Jika ditambah dengan asy-sya`iu (sesuatu) artinya memperbaiki; jika ditambah dengan ilaihi (kepadanya) artinya berbuat/bersikap baik; jika ditambah dengan hu (nya) berarti membenarkannya, mengkoreksinya, memperindah, atau membuatnya lebih indah; jika ditambahkan dengan baynahum (di antara mereka) artinya, mendamaikan, menyatukan.

Dari keterangan di atas jelaslah bagi kita semua, beragam makna kata reformasi (islah) mesti mengilhami dan menginspirasi kita. Bagaimana bentuknya? Reformasi adalah merubah dari perbuatan yang merusak menjadi memperbaiki; merubah sikap jahat kita menjadi baik; merubah dari membiarkan bangsa kita dan saudara sesama muslim berlumur kedzaliman kepada sikap berani mengkritisi dan menasehati mereka yang berbuat demikian; merubah diri kita dari bercerai-berai dan berpecah-belah menuju sikap persatuan dan perdamaian; dari kufur nikmat menjadi syukur; dari malas menuju rajin.

Inilah makna reformasi yang harus kita hayati dengan seluruh kerendahan hati. Mewujudkan reformasi dalam diri orang yang beriman haruslah dibarengi dengan doa. Kalau kita mengkaji lebih jauh padanan reformasi dengan kata ishlah, sesungguhnya akan kita temukan arahan “doa reformasi” yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw nun jauh sebelum gembar-gembor pekikan reformasi.

Kita buka Kitab Shahih Muslim bab Adz-Dzikr wa Ad-du`a wa At-Taubah, kita temukan doa nabi di dalamnya:

“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku dimana ia adalah pelindung segala urusanku, perbaikilah (kehidupan) duniaku yang di dalamnya aku hidup, perbaikilah (kehidupan) akhiratku yang menjadi tempat kembaliku, jadikanlah kehidupan (dunia ini) sebagai penambah setiap amal kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala kejahatan.” (HR. Muslim)

Alangkah indahnya doa ini. Ia bukan sekadar doa juga acuan bagi tiap orang beriman agar selalu berbenah diri dalam segala aspek, khusunya dalam lima aspek seperti disinggung dalam doa tadi.

Pertama, reformasi agama. Tentu yang dimaksudkan di sini bukan mereformasi agama Islam yang telah sempurna namun titik tekannya kepada reformasi atas penghayatan dan pengamalan kehidupan, serta pemahaman tentang Islam.

Bukankah banyak tantangan yang membelit bangsa kita khususnya dan kaum Muslim pada umumnya mulai dari Krisis Ekonomi (Krismi), Krisis Iman (Krisman), Krisis Akhlaq (Krislaq), Krisis Ibadah (Krisdah). Maka hendaknya kita menghadapi dengan landasan nilai-nilai moral agama.

Kedua, reformasi kehidupan dunia. Hidup di dunia hanyalah untuk beberapa waktu. Manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Gunakan kesempatan yang ada dengan memperbanyak investasi dan donasi pahala agar kelak kita hidup bahagia. Mencari kehidupan tidak lain juga sebagai salah satu bagian untuk membuat kita lebih gesit dalam menjalankan amal ketaatan.

Kehidupan dunia tidak boleh dipandang sebelah mata hanya karena ingin lebih fokus kepada kehidupan tarekat atau tasawuf. Padahal Rasulullah saw jelas-jelas menyatakan agar kita beramal di dunia seakan-akan kita hidup selama-lamanya. Kita tidak boleh masa bodoh melihat pemurtadan, kemiskinan, kebodohan, korupsi, sebab hal itu termasuk upaya kita melakukan reformasi kehidupan dunia.

Ketiga, reformasi kehidupan akhirat. Inilah terminal akhir dari rangkaian sejarah tiap manusia. Sudahkah kita berpikir bagaimana kita melenggang masuk ke negeri akhirat dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan atau sebaliknya dengan wajah bermuram durja. Lewat “doa reformasi’ di atas Rasul mengajak kita, kaum Mukmin, untuk mereformasi pola pikir kita tentang akhirat, bahwa ia masih lama, jauh dari kita. Padahal, kita sedang berada di halte menunggu dijemput ‘bus’ untuk berangkat menuju akhirat. Dunia sekedar tempat transit sementara.

Keempat, reformasi pemanfaatan hidup dunia. Sudahkah kita gunakan untuk merajut kebaikan, sehingga hidup menjadi berkah dan berdaya guna bagi masyarakat? Hidup yang manfaat di dunia adalah hidup yang diisi dengan kesibukan belajar mencari ilmu, mengajarkan, dan mengamalkannya; hidup yang manfaat adalah hidup yang tidaklah berlalu satu detik kecuali padat dengan bacaan Al-Quran, Hadits, berbakti kepada orang tua, berani mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan adalah kebatilan.

Kelima, reformasi kehidupan di balik kematian. Acap kali kita mengantar jenazah saudara, teman atau salah seorang ke pemakaman. Namun di saat yang bersamaan kita seolah adalah ‘manusia super’ yang tidak merasa bahwa diri kitalah yang sebentar jua akan mati. Apa yang terjadi di balik kematian? apakah kita siap menerima segala konsekuensi setelah mati tersebut?

Menumbuhkan spirit kehidupan di balik kematian tidak berarti hidup menjadi lesu dan kurang bergairah, namun justru mereformasi kehidupan dengan menyelesaikan segala keburukan dan kejahatan dengan bertaubat agar tak sampai diangkut ke alam kubur dengan lumuran dosa dan maksiat.*

Ali Akbar, penulis adalah pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Demi Keamanan dan Kehormatan, Tutuplah Aurat

Demi Keamanan dan Kehormatan, Tutuplah Aurat

Siapkan Baju Takwa, Jangan Pusing dengan Baju Baru!

Siapkan Baju Takwa, Jangan Pusing dengan Baju Baru!

Inilah Karakter Dasar yang Harus Dimiliki Para Pendidik

Inilah Karakter Dasar yang Harus Dimiliki Para Pendidik

Lima Hal Ini Dilarang dalam Bersenda Gurau

Lima Hal Ini Dilarang dalam Bersenda Gurau

Ulama dan Salaf Rela Mati untuk Hindari Makanan Haram

Ulama dan Salaf Rela Mati untuk Hindari Makanan Haram

Baca Juga

Berita Lainnya