Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Gaya Hidup Muslim

Rajut Persaudaraan, Raih Kemenangan

Bagikan:

Hidayatullah.com–Dua laki-laki itu baru saja dipersaudarakan. Sebelumnya, mereka tidak pernah kenal satu sama lain. Anehnya, sekalipun demikian, rasa cinta, persaudaraan yang mereka miliki, bak cinta sepasang kekasih yang telah lama tak bersua.

Demi kebahagiaan si-sahabat, salah satu dari mereka yang memang tergolong kolomerat, menawarkan separuh hartanya untuk diambil secara cuma-cuma. Tidak hanya itu, yang cukup mencengangkan, dia juga siap ’menghadiahkan’ salah satu istrinya untuk dijadikan pasangan hidup, sekiranya si-sahabat menghendaki. Bertepatan dia memang memiliki dua istri.

Dia berujar, ”Sesungguhnya aku adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshor. Ambillah separoh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih, agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis, maka nikahilah ia.”

Pernyataan yang sangat luar biasa, yang tidak mungkin terucap, kecuali dari orang yang memiliki kecintaan tinggi terhadap sahabatnya. Lalu, siapakah gerangan dua sahabat yang saling mencintai satu sama lain itu?

Tidak lain mereka adalah Sa’ad bin Arabi’ (dari Anshor) dan Abdurrahman bin ‘Auf (dari Muhajirun), yang baru saja dipersaudarakan oleh Rosulullah Sholallahu ’Alaihi Wasallama (SAW), tidak lama setelah kaum muslimin Mekkah, menapakkan kaki di Madinah.

Memang, setibanya di kota yang awalnya bernama Yatsrib tersebut, ada dua hal yang sangat menumenal yang langsung dilakukan oleh Rosulullah. Yaitu; membangun masjid (Nabawi), dan mempersaudarakan antara kaum muslimin, dari kalangan Muhajirun (Mereka yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah), dengan golongan Anshor (Kaum muslimin yang berdomisili di Madinah). Tujuannya, agar kaum muslimin saling membantu antara satu sama lain. Dan supaya kaum muslimin menyingkirkan belenggu jahiliyah dan fanatisme kekabilahan, yang notabene lebih memilih mementingkan kepentingan pribadi/kelompok, dari pada kemaslahatan ummat pada umumnya.

Hasilnya, potret persaudaraan yang dijalin oleh Sa’ad bin Arabi’ dan Abdurrahman bin ’Auf ini, adalah cerminan dari persaudaraan kaum Muslimin saat itu, yang berjumlah ± sembilan puluh orang. Di kemudian hari, jalinan persaudaraan yang kuat menghujam di sanubari ini pula lah, yang menjadi cikal-bakal bangkitnya kaum muslimin hingga menguasai Jazirah Arab dan sekitarnya.

Islam dan Persaudaraan

Dalam satu riwayat, Rosulullah pernah meanalogikan kaum Muslim dengan kaum Muslimin lainnya, bagai sebuah bangunan, yang mana antara satu komponen dengan komponen yang lain saling menguatkan.

Sabda beliau, ”Al-Mukminu lilmukminin kalbunyaan yasyuddu ba’duhum ba’dhan.” (Mukmin yang satu dengan mukmin yang lainnya bagai satu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya).

Layaknya satu bangunan, tidak akan pernah sempurna, bila saja antara material yang ada; batu, bata, pasir, daun pintu, jendela, genteng, dll, ’berjalan’ sendiri-sendiri, dan tidak pernah ’ridho’ untuk menyatukan diri, menempati posisinya masing-masing, guna menjadi sebuah bangunan yang kuat, kokoh, elok, lagi memberikan kenyamanan bagi setiap orang yang berteduh di dalamnya.
Beliau juga mengibaratkan kaum muslimin dengan kaum muslimin lainnya bagai satu badan. Tatkala ada salah satu unsur badan tersebut merasakan ketidaknyamanan –misal- sakit perut, maka seluruh anggota tubuh, akan ikut terkena getahnya. Demikianlah sejatinya, gambaran persaudaraan antar kaum Muslimin.

Dalam kontek membangun peradaban Islam, persaudaraan menempati posisi yang sangat sentral dalam menyukseskan misi tersebut. Sepanjang sejarah, telah terbentang catatan, betapa persaudaraan yang kokoh antara kaum muslimin, telah menghasilkan kemenangan-kemenangan gemilang dalam pertempuran. Begitu pula sebaliknya, kekalahan demi kekalahan acap kali hinggap di pihak kaum muslimin, manakala tali persaudaraan antar mereka mengalami ’kelonggaran’. Dampaknya, mereka mudah dicerai-beraikan, diadudomba, dan kemudian dihancurkan oleh musuh-musuh Islam.

Kekalahan kaum muslimin pra kepemimpinan Sholahuddin Al-Ayyubi, dan kemenangan ketika kepemimpimnan berada di pundaknya, dalam perang Salib, adalah satu bukti betapa persaudaraan dan perceraiberaian umat ini, telah menjadi ’urat nadi’, yang menentukan kemenangan atau kekalahan kaum muslimin dalam menghadapi bangsa-bangsa lain.

Bukan Nasab atau Materi

Yang perlu dicamkan, bahwa pondasi yang mendasari persaudaraan kaum Muslimin, yang mampu melahirkan energi yang maha dahsyat, yang menjadi penompang tegaknya peradaban Islam, itu bukanlah nasab, harta, atau kekuasaan.

Persaudaraan yang bahan ’material’ pondasinya terdiri dari tiga unsur ini, merupakan pondasi yang sangat rapuh. Tidak usah jauh-jauh mengambil contoh akan hal itu. Saat ini, betapa sering kita dapatkan berita dari media massa, karena harta, seorang anak tega menuntut orang tuanya di pengadilan. Bahkan, kalau perlu menghabisi nyawa salah satu dari mereka, atau keduanya sekaligus.

Karena kepentingan kekuasaan, para politikus saling menjatuhkan. Padahal, sebelumnya, mereka sangat akrab. Ini sebuah fakta yang tak terbantahkan, betapa nasab, harta, dan kekuasaan bukanlah pondasi yang tepat dalam membingkai persaudaraan hakiki itu. Kalau demikian, lalu apa?

Iman lah jawabannya. Ketika iman benar-benar menjadi unsur penyatu, maka, tidak ada satu pun yang mampu merobohkannya. Kenapa kaum Anshor, salah satunya Sa’ad bin ’Arabi dengan sukarela menawari kaum muhajirin bantuan yang begitu spektakuler, padahal mereka baru saja dipertemukan antar satu sama lain? Kekuatan apakah yang mampu menggerakkan hati mereka untuk melakukan demikian? Adakah unsur lain, selain iman?

Tentu tidak ada. Iman lah yang telah memotivasi kaum muslimin untuk berani berkorban dengan harta, bahkan jiwa mereka sendiri, demi kemuliaan saudaranya. Dan sejatinya, pondasi macam inilah yang ditawarkan Allah bagi kaum muslimin dalam membangun persaudaraan satu sama lain.

Allah berfirman dalam al-Quran: “Dan Berpeganglah kamu semua kepada tali (Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara……” (Al-Imron: 103)

Membinasakan Persaudaraan

Untuk menjaga tali persaudaraan, yang juga patut kita waspadai adalah penyakit yang bisa merapuhkan tali persaudaraan kaum Muslimin itu sendiri.

Saban hari, Rosulullah pernah menerangkan ke pada para sahabat, bahwa akan tiba suatu masa, di mana keadaan kaum Muslimin bak buih di lautan. Mereka mayoritas, tapi tidak memiliki otoritas. Jumlah mereka melimpah-ruah, tapi tidak memiliki wibawah. Penyebabnya, karena kebanyakan dari mereka, telah terjakit penyakit ’wahn’.

Ketika para sahabat meminta penjelasan prihal penyakit tersebut, beliaupun menjawab,”Hubbud Dunyaa Wa Karihatul Mauti.” (cinta dunia dan takut akan mati).
Tatkala kaum Muslimin, telah terjakit ’virus’ ini, maka yang timbul adalah karakter individualis mereka. Tidak ada lagi yang namanya persaudaraan yang murni. Semua syarat kepentingan, keuntungan diri sendiri, keluarga, atau kelompok masing-masing.

Sebab itu, jangan pernah alpa untuk senantiasa bermunajat kepada-Nya, agar kita terhindar dari penyakit yang akan membinasakan keeksistensian kaum muslimin ini. Dan berharap, semoga tali persaudaraan kaum muslimin –yang saat ini bisa dikatakan cukup renggang- kembali erat lagi, diikat dengan hablullah’ (tali –agama- Allah), bukan hablun yang lainnya, sehingga kejayaan Islam, kembali bisa direngguh, sebagaimana dahulu kala. Amin-amin, yaa rabbal ’aalamin. * Robinsah

Rep: Cholis Akbar
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Kenalilah Muru’ah dan Pilar-pilarnya

Kenalilah Muru’ah dan Pilar-pilarnya

Jangan Galau, Allah Selalu Menyertaimu!

Jangan Galau, Allah Selalu Menyertaimu!

Tiga Langkah Menumbuhkan Kecintaan Anak Baca Al-Qur’an

Tiga Langkah Menumbuhkan Kecintaan Anak Baca Al-Qur’an

Agar Hati Tetap Hidup, Jagalah dengan Do’a

Agar Hati Tetap Hidup, Jagalah dengan Do’a

Sehat Islami: Pilih Yang Halal Sekaligus Thayyib

Sehat Islami: Pilih Yang Halal Sekaligus Thayyib

Baca Juga

Berita Lainnya