Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Saintek

Dikembangkan Pembangkit Listrik dari Bahan Urine

Bagikan:

SATU universitas di Inggris tengah mengembangkan alat pembangkit listrik yang memakai daya dari air kencing. Diharapkan, bahan baku ini bisa membantu pengadaan listrik di kamp-kamp pengungsi wilayah konflik, bencana, atau wabah.

Penelitian ini dilakukan oleh University of the West of England bekerja sama dengan Oxfam. Purwarupa toilet pembangkit listrik ini telah ditempatkan di sekolah Bristol untuk mengumpulkan sel bahan bakar mikrobiologi (MFCs) yang digunakan membangkit listrik.

Tujuannya mengumpulkan kencing dalam jumlah banyak untuk memastikan bisa menyalakan listrik di toilet kamp penampungan.

“Kami telah membuktikan bahwa cara ini bisa membangkitkan listrik. Proyek dengan Oxfam ini bisa berdampak besar bagi kamp pengungsi,” kata Professor Loannis Leropoulos, pemimpin riset.

Sebelumnya Leropoulos yang mengepalai Pusat Bioenergi Bristol dalam penelitian 2013 telah membuktikan bahwa MFCs mampu menciptakan listrik yang cukup untuk menjalankan telepon seluler.

MCFs yang dikumpulkan di toilet mengandung bakteri yang menggunakan urine untuk hidup dan mempertahankan diri, dan turunannya bisa membangkitkan listrik. “Kami menyebutnya energi kencing atau listrik-urine,” kata Leropoulos, seperti diberitakan Time dan dikutip CNN.

Dia mengatakan, manusia di seluruh dunia menghasilkan sekitar 6,4 triliun liter urine per tahun, menjadikan teknologi ini sebagai pembangkit listrik yang sangat berkesinambungan.

“Teknologi ini sangat ramah lingkungan, kita tidak perlu menggunakan bahan bakar fosil dan kami menggunakan produk pembuangan yang pasokannya berlimpah,” lanjut Leropoulos. Selain itu, harganya sangat murah.

Leropoulos mengatakan, untuk satu sel bahan bakar mikrobiologi hanya menghabiskan sekitar 1 pound sterling, sekitar Rp19 ribu.

“Satu unit kecil pembangkit yang kami buat untuk demo eksperimen ini hanya seharga 600 pound sterling (sekitar Rp11,6 juta), merupakan bonus yang besar karena teknologi ini dalam teorinya bertahan selamanya,” lanjut Leropoulos.

Pengungsian menjadi salah satu masalah terbesar di banyak wilayah konflik, salah satunya Suriah. Jutaan orang mengungsi ke negara-negara tetangga, dan kondisi mereka mengenaskan karena kurangnya fasilitas.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Benarkah Masa Puncak Kecerdasan Manusia Sudah Lewat?

Benarkah Masa Puncak Kecerdasan Manusia Sudah Lewat?

Bill Gates: TV Masih Lebih Murah Ketimbang Internet

Bill Gates: TV Masih Lebih Murah Ketimbang Internet

Sedikit Marah Baik Untuk Kesehatan

Sedikit Marah Baik Untuk Kesehatan

Kosakata Anak Tercemar Lagu Dewasa

Kosakata Anak Tercemar Lagu Dewasa

Komputer Pengendali Drone AS Diserang Virus

Komputer Pengendali Drone AS Diserang Virus

Baca Juga

Berita Lainnya