Mempertajam Otak Dapat Menangkal Demensia

Korteks SuperAgers lebih tebal dibandingkan dengan 21 peserta lansia lainnya yang memiliki kinerja kognitif normal.

Mempertajam Otak Dapat Menangkal Demensia

Terkait

USIA tua sering dikaitkan dengan kepikunan, namun ada sejumlah individu tertentu berusia di atas 80 tahun yang berhasil mempertahankan memori dengan akurat secara luar biasa. Tim ilmuwan menunjukkan, otak mereka yang unik bisa mendorong strategi untuk menangkal demensia.

Disebut Cognitive SuperAgers, para lansia ini memiliki karakteristik otak yang tidak biasa, mencakup wilayah kortikal lebih tebal. Dalam arti memiliki sejumlah neorun substansial –disebut von Economo — terkait dengan kecerdasan sosial tinggi dan kusut lebih sedikit.

Kekusutan, menurut Asosiasi Alzheimer berbasis di AS, terbentuk di dalam sel-sel saraf otak. Kondisi ini bisa mengganggu proses pengiriman pesan, dan merupakan penanda utama dari penyakit Alzheimer.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neuroscience, tim peneliti meneliti otak post-mortem dari 31 SuperAgers dengan menggunakan teknolgi magnetic resonance imaging (MRI).

Korteks SuperAgers lebih tebal dibandingkan dengan 21 peserta lansia lainnya yang memiliki kinerja kognitif normal. Korteks SuperAgers juga lebih besar dibanding 18 lansia berusia 50 dan 60 tahun.

Korteks anterior cingulate berhubungan secara tidak langsung dengan memori yang mempengaruhi fungsi eksekutif, resolusi konflik, motivasi, dan ketekunan.

Lima dari otak SuperAgers memiliki kekusutan sekitar 87 persen lebih sedikit dibanding rekan-rekan mereka dan 92 persen lebih sedikit dibandingkan mereka yang mulai mengalami proses kerusakan.

Neuron para SuperAgers von Economo memiliki sekitar 3-5 kali lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol.

“Mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap SuperAgers dengan kapasitas memori yang tidak sebagaimana biasa, memungkinkan kami menemukan strategi membantu pertumbuhan secara normal populasi para lansia yang dapat mempertahankan fungsi kognitif, serta menemukan petunjuk terapi masa depan guna mengobati demensia tertentu,” kata peneliti Tamar Gefen, kandidat doktor neuropsikologi klinis di Feinberg, sebagaimana dilansir AFP.*

Rep: Insan Kamil

Editor: Syaiful Irwan

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !