Di Balik Perang Cyber #OpIsrael vs Elit Shin Bet (2)

S-74 dan Mitos Kehebatan Israel

Isu kehebatan Israel ternyata hanya mitos. Pusat penelitian strategis Yafi, menyebutkan bahwa kelompok yang bertugas menyembunyikan Gilad Shalit dinilai sangat exelent dalam manajemennya

S-74 dan Mitos Kehebatan Israel
ilustrasi
Isu kehebatan Israel ternyata hanya mitos. Pusat penelitian strategis Yafi, menyebutkan bahwa kelompok yang bertugas menyembunyikan Shalit dinilai sangat exelent dalam manajemennya

Terkait

Hidayatullah.com—Seolah ingin unjuk gigi, hampir setahun serangan “jihadis” cyber dalam “OpIsrael, Jumat (25/04/2014),  kemarin Channel 2  Israel mengungkap keberadaan satuan elit yang bertanggung jawab ‘melindungi’ negara Zionis-Israel di dunia maya.

Puluhan peretas (hacker) dikabarkan bekerja di unit berkode “S-74”, sebuah unit rahasia yang bekerja di bawah kendali Shin Bet.  Shin Bet atau juga disebut Shabak adalah lembaga yang bertanggung jawab atas keamanan dan perlindungan Perdana Menteri Israel dan pejabat pemerintah Israel, meliputi; industri pertahanan, lokasi ekonomi sensitif dan instalasi Israel.

Pekerajaan Shin Bet, layaknya Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI), yang juga memegang seluruh keamanan untuk maskapai penerbangan nasional Israel, El Al.

Unit S-74,  yang mengaku bekerja dan melindungi jagat maya “Israel” ini sepanjang hari, pekerjaan mereka berkeliling di sekitar komputer, melacak gerakan mencurigakan dari hacktivists “anonymous” di seluruh dunia.

Kemudian, beberapa saat sebelum peretas mengganggu sistem, mereka akan melancarkan serangan, tanpa seorang pun tahu bahwa Shin Bet terlibat.

“Kami telah mempersiapkan dengan baik dan canggih, kami menyusuri jaringan di seluruh dunia secara lekat dan mengumpulkan [data] intelijen melalui HUMINT dan SIGINT (intelijen manusia dan intelijen sinyal),” ungkap anggota S- 74, Alon, di laman  www.israelnationalnews.com, hari Jumat (25/04/2014).

Dikutip media itu,  S- 74 didirikan beberapa tahun lalu dan telah berubah cepat seiring perubahan cepat dalam pengembangan teknologi. Selain melindungi “Israel”, unit tersebut juga mengumpulkan data intelijen untuk meluncurkan sendiri serangan terhadap musuh, ujar Yuval.

“Biasanya, ini merupakan kawasan rahasia, tapi kami mendapat izin khusus untuk memberikan sekilas gambaran tentang dunia intelijen,” imbuh Yuval.

“Dalam upaya membuat keputusan penting terhadap keamanan ‘Israel’, kami menjalankan operasi di seluruh dunia untuk meretas komputer, database, dan jaringan, termasuk komputer pribadi,” jelasnya.

“Ketepatan waktu sangatlah penting, “ ujar Yuval. “Lawan duduk di muka untuk memastikan sebuah cyber-attack berhasil; yang harus dilakukan adalah menekan tombol dan sistem mulai gagal,” tambahnya.

Beberapa pekan menjelang #OpIsrael, Shin Bet telah membuka ruang operasi untuk mencari solusi  guna mencegah kehidupan warga Israel terganggu. #OpIsrael dikabarkan telah menerbitkan 1300 daftar situs, termasuk kantor pemerintahan, bank, industri pertahanan, lembaga akademik dan media massa.

Yuval, (29 tahun), mengaku mulai bekerja untuk Shin Bet 12 tahun yang lalu. Dia bekerja HUMINT dan SIGINT , salah satu unit data intelijen sebelum sebuah cyber-attack terjadi.

“Ini berarti menggabungkan kemampuan cyber-attack unit HUMINT dan SIGINT dan menyerang ‘rumah’ lawan – menggunakan informasi tentang penyerang atau lingkungan untuk keuntungan kita.”

“Kami mengumpulkan data dari mana-mana di setiap daerah.”

“Ada banyak lembaga yang bekerja secara strategis melawan ‘negara Israel’; kami diam-diam bekerja melawan mereka. Kemudian, bila seorang perwira intelijen memanggil saya dan menanyakan informasi itu, karakter dari operasi dapat berubah secara drastis,”  dikutip israelnationalnews.com.

Dimensi lain dalam pekerjaan tim ini adalah mengumpulkan intelijen sebelum operasi fisik melawan musuh Israel. Sebagai contoh, S-74 pernah terlibat dalam pengumpulkan banyak data dan informasi  dalam operasi yang ikut pembunuhan pejuang senior Hamas, Hamza Abu Alheja bulan lalu di Jenin.

Menurutnya, pekerjaan S-74 dangat luas, tapi tidak semua orang terkesan dengan pekerjaan cyber-security yang diklaim sebagai bagian ‘menjaga Israel’ ini.

Dr.Michael Orlov, Kepala Departemen teknik cyber-engineering di Universitas Be’er Sheva dikutip Arutz Sheva awal bulan ini, bahwa Israel perlu untuk meningkatkan usahanya untuk melatih lebih banyak hacker dan lebih terorganisir untuk bersaing menghadapi serangan anymous.

Orlov menilai, upaya kelompok anymous dalam #OpIsael hanyalah kerja kekanak-kanakan. Tapi ia seolah melupakan berbagai serangan terhadap Palestina dan Gaza sebagai hal serupa.

Meski demikian ia merasa cemas jika negara-negara Timur Tengah menyisihkan dana besar membangung kekuatan cybernya. Sebab itu akan jadi masalah serius bagi Israel di masa depan.

Hanya Mitos

Pengungkapan rahasia dapur S-74 oleh beberapa media Israel minggu ini hanyalah ‘gertak-sambal’  yang ditujukan pada hactivis pro-Palestina seolah Israel sangat kuat. Namun beberapa fakta dalam kurun lima tahun terakhir ini, kehebatan Israel dan elit-elit militernya sesungguhnya hanya mitos belaka.

Tahun 2010, dalam sebuah operasi khusus  Mujahidin Al-Qassam yang berhasil menewaskan Deputi Komandan Batalion 12 dari Brigade Golani, seorang prajurit dan melukai 5 tentara Israel lainnya terlihat bagaimana Israel terlihat kocar-kacir.

Mitos kehebatan tentara Israel sempat diungkap dalam sebuah video dokumenter saya pejuang Hamas, Brigade Izzudin Al Qassam saat menculik tentara Israel, Ghilad Shalit tahun 2006. [Lihat video dokumenter Penculikan Gilad Shalit 1 & Penculikan Gilad Shalid 2]

Selama lima tahun, Mossad dan agen-agen intelijen Zionis tak mampu memburu jejak Ghilad Shalid yang “disembunyikan” mujahidin. Dengan mengenakan seragam pasukan Israel, Brigade Izzudin Al Qassam video dokumenter bagaimana cara menculik Sersan Ghilad Shalid dan membawanya lari.

Pusat penelitian strategis Yafi, menyebutkan bahwa kelompok yang bertugas menyembunyikan Shalit dinilai sangat exelent dalam manajemennya, mereka sama sekali tidak menggunakan sarana teknologi baik email, komputer dan apapun yang berhubungan internet.

Jubir aparat intelijen Israel, Jendral Avi Meridor, dalam wawancaranya dengan radio militer Israel menyatakan, Hamas tidak melakukan kekeliruan sedikitpun dalam menyembunyikan Shalit.

Jenderal Moridor menyatakan, kelihaian keamanan Hamas nampak saat pertukaran yang diluar kebiasaan, terutama saat penyerahan tawanan Shalit, aparat intelijen Israel termasuk Shin Bet tidak mengetahui dari arah mana Shalit dibawa, mereka dikejutkan dengan 20 mobil 4×4 dengan satu warna dan satu tipe dengan sangat cepat, satu saja dari mobil tersebut yang membawa Shalit, sementara mobil lainnya penuh dengan kekuatan elit Al-Qassam yang bisa bergerak kapan saja jika diperlukan.

Melalui negosiasi panjang, Shalit akhirnya ditukar oleh 1027 tahanan Palestina yang dipenjara Israel. Bahkan pada detik-detik penyerahan, Israel juga tak mampu mendeksi darimana Shalit disimpan dan di mobil mana ia duduk.

Bagaimanapun, ‘kecanggihan’ “Buddax” dan elit S-74 hanya bagian hanya awal perang urat syaraf perang cyber antara penjajah Israel dan kelompok hacktivist  pro-Palestina. Di mana mendatang kemungkinan jauh lebih seru selama negara Yahudi ini masih merampas tanah Palestina.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !