Jum'at, 22 Oktober 2021 / 16 Rabiul Awwal 1443 H

Saintek

Polisi dan Penjahat Facebook-an

Bagikan:

Hidayatullah.com—Kongres Polisi Eropa tanggal 19-20 Februari 2013 di Berlin menyoroti perang siber yang belakangan semakin marak dengan diretasnya situs-situs milik pemerintah maupun perusahaan besar di berbagai negara. Dan polisi ternyata bisa berhasil membekuk targetnya dengan bantuan situs jejaring sosial Facebook.

Dilansir Deutsche Welle (21/2/2013), berdasarkan laporan perusahaan sekuriti Symantec, terjadi 5,5 milyar serangan siber di dunia internet sepanjang tahun 2011. Angka itu naik 81 persen dari tahun sebelumnya.

Wakil presiden Symantec Jurgen Maurer mengatakan, di Jerman saja menurut data Kantor Kepolisian Kriminal Federal (BKA), pada periode yang sama terjadi sekitar 60.000 serangan siber. Dia menambahkan, tidak ada orang yang tahu pasti mengenai ancaman siber ini.

Para penjahat internet seringkali satu langkah di depan dibanding aparat keamanan, oleh karenanya di dalam dan di luar negeri diperlukan intelijen siber yang kuat. Demikian dikatakan Hans-Georg Maasen, mantan presiden lembaga intelijen luar negeri Jerman BfV.

Menurut Maasen, Kantor Federal untuk Keamanan Informasi yang bermarkas di Bonn, hanya bertanggungjawab menjaga agar infrastruktur berjalan dengan baik, tetapi mereka tidak punya wewenang melakukan investigasi atau pemantauan.

Dalam konferensi itu Maasen menjelaskan bagaimana lembaganya melacak orang-orang yang menjadi target intelijen seperti para peretas, jihadis, ekstrimis sayap kanan di internet.

Perangkat teknologi bisa digunakan untuk melacak keberadaan mereka, seperti dengan memfilter informasi teks dan video tentang target, atau dengan mengamati simbol dan tanda khusus yang biasa dipakai oleh kelompok mereka. Pelacakan lewat IP-address target dalam prakteknya tidak sesederhana kedengarannya, sebab pelaku kerap mengganti komputer dan server mereka, kata Maasen.

Nick Keane dari Akademi Kepolisian Inggris berpendapat, internet ibarat jalan bebas hambatan yang tidak memiliki batas kecepatan.

Sebagian besar pakar setuju bahwa pihak keamanan siber Jerman tidak banyak memiliki “senjata perang” dibandingkan sejawat mereka di angkatan bersenjata. Oleh karena itu menurut mantan direktur Europol Max-Peter Ratzel, polisi siber juga harus aktif di media sosial.

Polisi, kata Ratzel, tidak hanya melacak target lewat situs jejaring sosial, tetapi mereka juga harus memiliki akun di media semacam Facebook atau Twitter. Aktif di forum-forum diskusi di internet juga menjadi bagian penting dari investigasi oleh aparat keamanan.

Axel Brockmann kepala kepolisian di Honover negara bagian Niedersachsen, Jerman, menyoroti peran media sosial dalam memerangi kriminalitas di dunia nyata. Dia mengatakan sedikitnya ada delapan macam kasus kejahatan yang bisa diselesaikan dengan bantuan media sosial, termasuk tindak perkosaan, penganiayaan berat dan pencurian barang pribadi. Caranya adalah dengan mengumumkan ke publik kasus dan tersangka yang sedang diburu oleh polisi di Facebook.

Tidak hanya memburu penjahat lewat Facebook, Kepolisian Niedersachsen juga membuka pendaftaran calon taruna polisi lewat media sosial. Dengan demikian, mereka akan mudah diketahui latar belakangnya.*

Rep: Ama Farah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Otak Orangtua Berfungsi Optimal di Pagi Hari

Otak Orangtua Berfungsi Optimal di Pagi Hari

Video Game Kekerasan Dapat Membentuk Remaja Berperilaku Kriminal

Video Game Kekerasan Dapat Membentuk Remaja Berperilaku Kriminal

Jalan Kaki Selamatkan Ribuan Penderita Kanker dan Diabetes

Jalan Kaki Selamatkan Ribuan Penderita Kanker dan Diabetes

Profesor Psikologi Terkenal Belanda Palsukan Data Bertahun-tahun

Profesor Psikologi Terkenal Belanda Palsukan Data Bertahun-tahun

Walah, Remaja Inggris Dianjurkan Seks Bebas !

Walah, Remaja Inggris Dianjurkan Seks Bebas !

Baca Juga

Berita Lainnya