Rabu, 31 Maret 2021 / 17 Sya'ban 1442 H

Saintek

Susu Tercemar China Sebabkan Perkembangan Seksual Dini

Bagikan:

Hidayatullah.com–Di tengah-tengah gelombang lain yang mungkin timbul dari produk susu bubuk tercemar dari China, perusahaan susu raksasa Selandia Baru Fonterra  mengatakan pada 11 Agustus bahwa sebagai pemasok susu bubuk ke perusahaan susu Synutra International China, perusahaan “masih yakin 100% tentang kualitas produknya.”
 Synutra adalah perusahaan susu formula bayi terkemuka di China, dengan pangsa pasar berada dalam peringkat tiga terbesar.
 Media China melaporkan bahwa tiga anak bayi perempuan di Kota Wuhan, Propinsi Hubei tumbuh dengan gejala perkembangan seksual dini dan dicurigai penyebabnya adalah hormon pertumbuhan yang terkandung pada susu bubuk dari Synutra.
 Synutra mengeluarkan pernyataan pada 9 Agustus bahwa perusahaan telah “berpartisipasi dalam pengujian kontrol kualitas menyeluruh di semua tingkatan pemerintah yang diperlukan,” dan bahwa “pemasok bahan juga handal dan terpercaya di seluruh dunia.”
 Di situs webnya dalam bahasa mandarin, Synutra memuat bahwa pemasok formula susu bubuk adalah Fonterra dari Selandia Baru yang sebelumnya dipasok oleh Eurosérum dari Prancis.
 Namun, perusahaan juga memiliki jenis formula lain yang menggunakan susu bubuk dari timur laut China.
 Banyak ibu-ibu muda China prihatin setelah masalah ini terungkap dan bereaksi dengan membawa bayi mereka ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Tidak lama kemudian, media China melaporkan selusin kasus serupa terjadi di Jiangxi, Shanghai, Shandong, Guangdong dan tempat-tempat lain.
 Health Times (Jiankang Shibao), sebuah surat kabar mingguan yang dikeluarkan oleh corong rezim, People’s Daily, melaporkan bahwa seorang gadis bayi dari Wuhan didiagnosis dengan tingkat estradiol setinggi 48,83 pmol / L. Sebaliknya, tingkat minimal seorang perempuan dewasa adalah 22 pmol / L.
 Perkembangan seksual dini yang terjadi, diduga setelah mengkonsumsi susu Synutra, termasuk gejala seperti pertumbuhan payudara, pengerasan jaringan di bawah kulit dan radang vagina.
 Dalam pernyataan di situs webnya pada 9 Agustus, Synutra berkata, “Kami tidak menambahkan hormon untuk produk kami dan kami telah berinvestasi dalam penelitian, kontrol kualitas, formula dan bahan-bahan.”
 Seorang ibu korban membawa masalah ini ke perusahaan. Menurut Qianjiang Evening Newspaper, Ms. Deng dari Wuhan menunjukkan bahwa radang pada vagina putrinya jelas setelah minum susu formula Synutra, jaringan keras juga timbul pada payudara bayi. Dia ingin produk ini dianalisis, tetapi lembaga yang relevan tidak akan menangani permintaan individu dan tes hormon tidak termasuk dalam pengujian analisis standar susu.
 Health Times melaporkan bahwa kejadian ini memiliki kemiripan dengan kejadian di perusahaan Sanlu di tahun 2008: skandal susu bubuk tercemar melamin – yang menewaskan sedikitnya enam bayi dan ratusan ribu mederita sakit. Seorang wartawan di Wuhan berkomentar pada  Health Times bahwa sebelum Sanlu mengakui kejahatan itu, “Saya telah mengunjungi semua tempat yang memungkinkan. Namun tidak ada yang peduli dan tidak ada satupun departemen pemerintah ingin menjadi yang  pertama untuk melakukan penyelidikan.”
 Deng Haihua, juru bicara Departemen Kesehatan China, mengatakan bahwa para pejabat keamanan makanan sedang menyelidiki formula merek tertentu penyebab gejala seksual dini pada bayi terkait dengan susu yang dikonsumsi. [ept/eb/hidayatullah.com] foto: efek susu formula China yang tercemar menyebabkan dada pria ini mirip payudara wanita
  

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Di Jerman Guru dan Murid Dilarang Kontak di Facebook

Di Jerman Guru dan Murid Dilarang Kontak di Facebook

Kanker Prostat Diduga Ditularkan dari Hubungan Intim

Kanker Prostat Diduga Ditularkan dari Hubungan Intim

Dengan Jelantah Pesawat Bisa juga Terbang

Dengan Jelantah Pesawat Bisa juga Terbang

Banyak Konsumsi Ikan Dinilai Lebih Panjang Umur

Banyak Konsumsi Ikan Dinilai Lebih Panjang Umur

Kematian di Rumah Lebih Banyak Dibanding dalam Perang

Kematian di Rumah Lebih Banyak Dibanding dalam Perang

Baca Juga

Berita Lainnya