Rabu, 17 Februari 2021 / 5 Rajab 1442 H

Saintek

Website Gereja China Pasca Hengkangnya Google

Bagikan:

Hidayatullah.com–Keputusan Google untuk menarik mesin pencarinya  dari China daratan karena sensor pemerintah, tidaklah mengejutkan bagi para webmaster dan blogger Katolik, yang mengatakan bahwa perjuangan mereka untuk mewartakan Injil ternyata jauh lebih sulit karena ditekan oleh negara.

Google meluncurkan interface bahasa Chinanya tahun 2000 dan masuk ke China daratan, pasar Internet terbesar di dunia dengan 400 juta pemakai, tahun 2006. Dia mengumumkan keputusan untuk menarik diri dari China daratan dan membangun pelayanan mesin pencari dalam bahasa China sederhana di Hong Kong pada 22 Maret.

Pastor Joseph, yang mengelola beberapa website Katolik, percaya bahwa dampak penarikan Google akan kecil, karena sahamnya di pasar mesin pencari Internet di China daratan lebih kecil dari saham milik provider lokal Baidu, yang menguasai 58 persen saham.

Sejak Internet berkembang di China, negara semakin ketat mengontrolnya, kata sang pastur.

Selain situs pornografi, “polisi Internet” juga menyensor situs-situs yang dianggap membawa pandangan pembangkang. Setiap artikel yang mungkin menggambarkan citra negatif pemerintah atau menimbulkan reaksi yang berbahaya, diblok, katanya.

Banyak situs Katolik yang berbasis di Hong Kong dan luar negeri tidak dapat diakses di China daratan, termasuk CathNews China, situs berbahasa China yang baru yang diluncurkan oleh UCA News pada bulan Januari.

Tidak seperti pemain internet berpengaruh seperti Google, umumnya situs-situs kecil dan menengah, termasuk CathNews China, “dipaksa tidak menimbulkan kebencian ketika ditekan oleh pemerintah,” kata Pastor Joseph.

“Kami tidak berani mengambil risiko untuk website kami dengan mem-posting artikel atau kalimat yang secara politik sangat sensitif,” katanya.

Pastor Peter, seorang blogger aktif di China utara, mengatakan dia sering dipantau oleh para pejabat dari berbagai departemen. “Saya baru saja diberitahu oleh para pejabat hari ini [Maret 25] untuk berhati-hati atas blog saya dan agar tetap sejalan dengan semangat dari [pemerintah] pusat,” katanya kepada UCA News.

Sensor berarti “banyak kebenaran tidak bisa diberitakan dan banyak berita tidak bisa diketahui,” katanya penuh penyesalan, dengan mencontohkan aturan pemerintah untuk situs-situs keuskupan agar tidak mempublikasi berita kematian para uskup “bawah tanah.”

Pemimpin Gereja terbuka itu berbicara tentang kesedihannya itu ketika baru-baru ini dia diminta untuk menghapus beberapa artikel dan gambar-gambar kegiatan di parokinya, termasuk kegiatan-kegiatan evangelisasi sudut jalan, anak-anak sekolah non-Katolik yang mengunjungi gereja untuk belajar tentang Natal, dan bahkan perayaan 20 ulang tahun pentahbisannya.

“Kebebasan beragama boleh hanya dalam tempat-tempat keagamaan. Kita tidak boleh mempromosikan agama di luar gereja,” katanya, dengan mengulang teguran pejabat yang pernah dilontarkan kepadanya.

Paroki-paroki bisa melanjutkan kegiatan-kegiatan keagamaan, tetapi dilarang melakukan propaganda online, demikian dia ditegur.

Seorang perempuan awam Katolik di China bagian timur mengatakan, situs tempat dia bekerja pernah beberapa kali ditutup karena mem-posting hal-hal sensitif. “Service provider-nya dipanggil untuk memberi peringatan agar menghilangkan hal-hal sensitif, atau situs kami akan ditutup,” katanya.

Penutupan terakhir berlangsung seminggu, setelah situs kami mem-posting berita kematian Uskup Wenzhou Mgr James Lin Xili, karena prelatus yang wafat pada Oktober 2009 itu adalah seorang uskup bawah tanah.

Namun, katanya, “Meskipun kita kurang menikmati kebebasan berbicara, kita akan bertahan dalam kerasulan ini.” [ucan/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Yuk Jalan Kaki, Bisa Cegah Kepikunan

Yuk Jalan Kaki, Bisa Cegah Kepikunan

Tewas Setelah Operasi Perbesar Payudara 6 Kali

Tewas Setelah Operasi Perbesar Payudara 6 Kali

Malaysia Lepaskan 6.000 Nyamuk dalam Eksperimen Demam Berdarah

Malaysia Lepaskan 6.000 Nyamuk dalam Eksperimen Demam Berdarah

Media “Online” Dinilai Ancaman Serius Koran dan majalah

Media “Online” Dinilai Ancaman Serius Koran dan majalah

Dua Pertiga anak Amerika Pegang Tablet tapi Tak Dibaca

Dua Pertiga anak Amerika Pegang Tablet tapi Tak Dibaca

Baca Juga

Berita Lainnya