Senin, 25 Oktober 2021 / 18 Rabiul Awwal 1443 H

Saintek

Pemalsuan Heboh Bukti Evolusi Jepang (Bagian 1)

Bagikan:

Hidayatullah.com–Detik-detik menjelang peringatan hari lahir Charles Darwin yang ke-200 membuat berbagai media massa sibuk memperbincangkan hal-hal seputar Darwin dan teorinya, Darwinisme. Tak terkecuali koran Inggris, The Sunday Times (11/1/2009), yang meliput sikap ilmuwan Inggris yang mendukung maupun menolak Darwinisme dalam tulisan berjudul; “For God’s sake, have Charles Darwin’s theories made any difference to our lives?” (Demi Tuhan, sudahkah teori-teori Charles Darwin membuat hidup kita berbeda?).

Darwin dan ateisme

Bagi pendukung Darwinisme, terutama dari kalangan ilmuwan, Darwinisme dianggap sebagai visi emas ilmu pengetahuan masa kini, kerangka berpijak biologi dan lambang kedigdayaan ilmu pengetahuan dalam mengungkap cara kerja alam materi.

Lain halnya dengan kalangan ilmuwan yang tidak ‘menuhankan’ Charles Darwin dan tidak mengabsolutkan teori yang dianggap ilmiah seperti Darwinisme. Bagi mereka, Darwinisme adalah teori yang dimunculkan di masa ketika sarana penelitian ilmiah masih sangat terbelakang, dan kini sudah ambruk di hadapan temuan ilmiah modern.

Salah satunya adalah dokter medis sekaligus penulis, James Le Fanu. Dalam karya teranyarnya, “Why Us? How Science Rediscovered the Mystery of Ourselves” (Mengapa Kita? Bagaimana Ilmu Pengetahuan Menemukan Kembali Misteri Diri Kita Sendiri) ia menegaskan bahwa temuan-temuan baru di bidang biologi telah merobohkan Darwinisme alias teori evolusinya Darwin mengenai kehidupan.

Darwinisme bukanlah sekedar teori di bidang biologi atau ilmu tentang makhluk hidup. Tapi Darwinisme adalah cara pandang terhadap makhluk hidup, hidup dan kehidupan itu sendiri. Menurut Le Fanu, Darwin telah mengubah dunia secara mendasar. Le Fanu melanjutkan:

“Along with those now fallen idols Marx and Freud, he accounts for the secularisation of western society. Darwinism is the foundational theory of all atheistic, scientific and materialist doctrines and of the notion that everything is ultimately explicable and that there is nothing special about …”

“Bersama dengan berhala-berhala yang kini telah ambruk itu, yakni [Karl] Marx dan [Sigmund] Freud, [Darwin] menyebabkan sekulerisasi masyarakat barat. Darwinisme adalah teori yang melandasi seluruh doktrin-doktrin ateis, ilmiah dan materialis serta gagasan bahwa setiap sesuatu pada akhirnya dapat diterangkan dan bahwa tidak ada yang istimewa mengenai hal itu…”

Sebagaimana ditulis Bryan Appleyard dalam koran The Sunday Times tersebut Charles Darwin sendiri bahkan menyadari bahwa teorinya memiliki dampak besar. Dari karyanya sendiri, Darwin lalu mulai menarik kesimpulan-kesimpulan yang semakin meragukan keberadaan Pencipta, kalaulah bukan dianggap ateis sama sekali. Inilah yang menjadi jurang pemisah antara Charles Darwin dan istri tercintanya yang taat beragama, Emma.

Pemalsuan Demi ’tuhan’ Darwin

Darwinisme bukanlah sekedar teori di bidang biologi, tapi lebih dari itu, landasan ideologi ateisme dan materialisme. Ini adalah fakta nyata yang tidak dipungkiri lagi. Tidaklah mengherankan jika para penganutnya di seluruh dunia berjuang mati-matian mempertahankannya. Sebab jika tidak, maka hal yang sangat mereka takutkan bakal terjadi: ambruknya seluruh tatanan kehidupan materialis-ateis global yang telah mereka bangun dengan susah payah selama ratusan tahun.

Sebagian dari pendukungnya bahkan tidak ragu-ragu membuat penipuan dan kebohongan demi mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai landasan ilmu pengetahuan yang menurut mereka harus absolut benar ini. Pemalsuan ini ternyata bukan saja dilakukan di Eropa, benua tempat kelahiran Darwinisme, namun juga di Asia. Sebut saja di Jepang. Pemalsuan memalukan ini mengulang sejarah kebohongan evolusionis akbar tanpa jera di Inggris dan di Jerman yang terkenal di dunia itu: Manusia Piltdown dan Manusia Hahnhöfersand.

Penipuan bukti evolusi manusia di Jepang ini sangatlah menghebohkan dunia ilmu pengetahuan, terutama masyarakat arkeologi Jepang di awal tahun 2000-an. Berita itu sedemikian memalukannya sampai-sampai jurnal ilmiah Harvard Asia Quarterly (Vol. VI, No. 3., 2002) menjulukinya sebagai “Japan’s Worst Archaeology Scandal” (Perbuatan Memalukan Arkeologi Terburuk Jepang).

Dalam skandal ini, pakar arkeologi terkemuka Jepang, Fujimura Shinichi, tertangkap basah oleh bidikan kamera video ketika sedang memalsukan temuan-temuan bukti evolusi nenek moyang orang Jepang. Ia kepergok sedang mengubur benda-benda palsu itu di lubang-lubang yang ia gali sendiri. Rekannya, Kagawa Mitsuo, dituduh memalsukan pula, tapi bukan hal yang terkait dengan pemalsuan Fujimura Shinichi. Tuduhan ini membuat Kagawa Mitsuo, profesor emeritus di Beppu University Jepang, melakukan bunuh diri sebagai protes bahwa ia tidak bersalah. (bersambung). [ah/the-Sunday-times/harvard-asia-quaterly/bbc/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

“Electronic Jihad” Ancaman Serius Barat

“Electronic Jihad” Ancaman Serius Barat

Kado Inggris di Ulang Tahun Darwin ke-200 [Bagian I]

Kado Inggris di Ulang Tahun Darwin ke-200 [Bagian I]

Awas, Media Jejaring Sosial Bisa Bikin Cemas

Awas, Media Jejaring Sosial Bisa Bikin Cemas

Pikiran Positif Diwujudkan dalam Tubuh yang Sehat

Pikiran Positif Diwujudkan dalam Tubuh yang Sehat

Waspadai Disfungsi Keterampilan Motorik Anak

Waspadai Disfungsi Keterampilan Motorik Anak

Baca Juga

Berita Lainnya