Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Saintek

Genetikawan Inggris Membuktikan Evolusi Dengan Jam Rolex

Bagikan:

Hidayatullah.com–Koran kondang Jerman, Die Welt terbitan 20 Oktober 2008 menurunkan wawancara dengan pakar genetika Inggris, Steve Jones dengan judul “Die Evolution ist am Ende” (Evolusi Telah Usai). Profesor evolusionis di University College London, Inggris itu mengemukakan pendapatnya bahwa evolusi manusia telah berakhir.

Dalam wawancara itu sang profesor sama sekali tidak menyentuh bukti-bukti fosil makhluk setengah kera setengah manusia yang selama ini diajukan sebagai bukti evolusi manusia. Fosil-fosil yang tidak disebutkan itu seluruhnya sudah terbantahkan secara ilmiah.

Dengan kata lain, yang ada hanyalah fosil kera sesungguhnya atau fosil manusia sesungguhnya. Tidak ada bentuk pertengahan ataupun pohon silsilah evolusi manusia, kecuali sekedar lukisan khayalan manusia. Tidak heran jika teks wawancara itu dihiasi bukti berupa gambar tidak ilmiah alias lukisan khayal runtutan evolusi dari makhluk mirip kera hingga manusia.

Mengakui evolusi bisa salah

Hal menarik lain adalah jawabannya ketika ditanya sang wartawan:

Die Welt: Was, wenn die Evolutionstheorie irgendwann widerlegt wird?
(Die Welt: Bagaimana, jika Teori Evolusi suatu saat dibuktikan keliru?)

Jones: Das wäre für die Wissenschaft eigentlich ganz normal: Man hat eine Hypothese und versucht, sie zu widerlegen. Gelingt das nicht, dann stimmt sie vermutlich. Jede Theorie kann widerlegt werden, auch Newton wurde widerlegt. Sollte ich also jemals einem Cro-Magnon-Menschen begegnen, der eine Rolex trägt, würde ich die Evolutionstheorie sofort verwerfen. Aber das ist mir noch nie passiert. Deshalb werde ich sie akzeptieren, zumindest vorläufig.

(Jones: Hal itu bagi ilmu pengetahuan sesungguhnya hal yang sama sekali lumrah: Orang punya hipotesa dan orang berupaya menyangkalnya. Jika itu tidak berhasil, maka teori itu mungkin benar. Setiap teori bisa dibantah, juga Newton telah dibantah. Jadi andai saya pernah bertemu manusia Cro-Magnon yang memakai [jam tangan] Rolex, maka saya akan segera membuang Teori Evolusi. Tapi itu belum pernah terjadi pada saya. Karenanya saya akan tetap menerimanya, setidaknya untuk sementara waktu).

Di satu sisi, adalah jujur untuk berkata bahwa Teori Evolusi, sebagaimana teori lain, bisa saja suatu saat terbantahkan. Namun di sisi lain alasan tentang “jam tangan Rolex” yang disebut sang profesor untuk tetap mempercayai teori itu sungguh keliru, dan tidak mencerminkan pendapat dari kalangan ilmiah sama sekali.

Bukti tidak ilmiah “Jam Rolex”

Perhiasan, pakaian, teknologi, perkakas dan benda apa pun yang dipakai atau digunakan manusia atau makhluk hidup tidaklah membuktikan secara ilmiah evolusi yang dikhayalkan ada itu. Di zaman dahulu ada manusia, sebagian berbudaya maju, sebagian berperadaban rendah, namun mereka sama-sama manusia. Budaya rendah, perhiasan primitif bukanlah bukti bahwa mereka spesies lebih rendah.

Bahkan di zaman superkomputer secanggih sekarang, masih ada manusia di Afrika, Kalimantan, Papua, dan hutan Amazon misalnya, yang nyaris tidak berpakaian dan hidup dengan perhiasan dan perkakas sangat primitif, termasuk tanpa jam tangan Rolex. Namun mereka yang secara teknologi sangat terbelakang ini tetaplah manusia. Mereka 100% manusia secara morfologis dan genetis, dan bisa menghasilkan keturunan ketika menikah dengan lawan jenisnya dari negara berteknologi paling modern sekalipun.

Perkakas sederhana dari batu, kayu atau kulit binatang yang mereka punya bukanlah bukti bahwa mereka makhluk yang lebih menyerupai kera, atau berada pada anak tangga lebih rendah dalam proses rekaan evolusi manusia.

Sebaliknya, banyak manusia masa kini yang katanya modern justru bergaya hidup menyerupai manusia primitif. Sebut saja mereka yang gemar berpakaian minim, atau enggan mengenakan perhiasan apa pun, atau bahkan menganut budaya nudisme, yakni hidup tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun.

Jika kaum pemuja telanjang itu hidup terus, berketurunan yang juga nudis, hal itu lantas tidak menjadikan mereka mengalami evolusi secara morfologis-genetis dan berubah menjadi makhluk mirip kera. Mereka secara biologis dan genetis tetap 100% manusia, tidak berubah.

Fakta tentang manusia Cro-Magnon

Manusia Cro-Magnon hidup sekitar 30,000 tahun silam. Tengkoraknya mempunyai penonjolan alis mata tebal dan tonjolan tulang di bagian belakang. Ini adalah ciri manusia Neanderthal dan Homo erectus.

Walaupun dianggap ras Eropa, volume dan struktur tengkorak Cro-Magnon sangatlah menyerupai beberapa ras di Afrika dan di daerah tropis saat ini. Berdasarkan kesamaan ini, diperkirakan Cro-Magnon adalah ras Afrika kuno.

Beberapa paleoanthropolog lain menunjukkan bahwa Cro-Magnon dan ras Neanderthal bercampur satu sama lain dan menjadi pendahulu bagi ras-ras yang ada di zaman sekarang. Kesimpulannya, manusia Cro-Magnon bukanlah “spesies primitif”, tapi manusia ras lain yang pernah hidup pada zaman dulu dan bisa jadi telah berasimilasi dan bercampur dengan ras yang lain, atau telah punah dan menghilang dalam sejarah.

Evolusionis terpojok

Alasan tidak ilmiah yang dikatakan Steve Jones barangkali akan mudah dimaklumi jika mengingat semakin tidak dipercayainya teori evolusi oleh masyarakat Eropa sekarang. Banyak bermunculnya karya para ilmuwan Barat yang menyanggah teori evolusi secara ilmiah menjadikan kebohongan teori evolusi semakin tersingkap jelas di mata masyarakat, setelah lebih dari seabad ditutup-tutupi.

Kenyataan di atas membuat evolusionis, termasuk profesor Steve Jones, sangat khawatir . Ini menyebabkan mereka tidak lagi mampu menggunakan bukti-bukti yang katanya ilmiah itu, selain tipuan kata-kata seperti “manusia Cro-Magnon berjam tangan Rolex” yang bisa menyesatkan masyarakat.

Namun masyarakat semakin cerdas dan mudah membedakan mana fakta ilmiah dan mana kebohongan. Bahkan, seperti diakui sendiri oleh Steve Jones dua tahun silam di majalah ilmiah Nature, 23 November 2006, murid sekolah pun sudah semakin berani dan kritis tentang teori asal-usul makhluk hidup:

“Steve Jones, a geneticist at University College London who has lectured widely about evolution, is one of those concerned by the growing influence of creationist groups. `I have talked about evolution in front of more than 100,000 British schoolchildren in the past 20 years during most of that time I was never asked questions about creationism,’ he says. `But in the past couple of years, wherever I go I am asked about it.'” (Special report Anti-evolutionists raise their profile in Europe Nature 444, 406-407, 23 November 2006)

(“Steve Jones, pakar genetika di University College London yang telah berceramah di mana-mana tentang evolusi, termasuk satu di antara mereka yang khawatir dengan pengaruh membesar kelompok-kelompok pendukung penciptaan. ‘Saya telah berbicara evolusi di depan lebih dari 100.000 murid sekolah Inggris selama 20 tahun silam di sebagian besar masa itu saya tidak pernah ditanya hal-hal tentang penciptaan, ‘katanya. `Tapi dalam beberapa tahun lalu, di mana pun saya pergi, saya ditanya tentang hal itu.'”) [wwn/DieWelt/Nature/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Mahasiswa Calon Guru di Jerman Meragukan Teori Darwin

Mahasiswa Calon Guru di Jerman Meragukan Teori Darwin

Cara Mudah Mengingat Password

Cara Mudah Mengingat Password

Pesawat Panel Surya Sukses Terbang Lintas Benua

Pesawat Panel Surya Sukses Terbang Lintas Benua

Kurang Tidur? Matikan Ponsel dan TV!

Kurang Tidur? Matikan Ponsel dan TV!

Benarkah Masa Puncak Kecerdasan Manusia Sudah Lewat?

Benarkah Masa Puncak Kecerdasan Manusia Sudah Lewat?

Baca Juga

Berita Lainnya