Manuskrip Kuno Ungkap Kisah Jejak Tsunami Aceh

Disebutkan pada kitab tersebut, bencana tsunami telah terjadi lebih dulu sebanyak 4 kali pada masa Kesultanan Aceh, antara lain pada tahun 1833 dan 1861.

Manuskrip Kuno Ungkap Kisah Jejak Tsunami Aceh
muhammad abdus syakur/hidayatullah.com
Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh.

Terkait

Hidayatullah.com– Para ilmuan Kota Serambi Makkah terdahulu telah menuangkan tradisi tentang kebencanaan dalam sebuah karya tulis, jauh sebelum peristiwa bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 melanda Aceh yang menewaskan ratusan ribu korban jiwa itu.

Diketahui Aceh merupakan daerah yang rentan terhadap terjadinya bencana. Musibah yang terjadi di Aceh selama ini ternyata sudah dipelajari oleh para leluhur terdahulu.

Leluhur pada masa itu, sesuai kondisi dan kemampuan mereka, telah mewariskan dalam bentuk tulisan manuskrip yang disesuaikan dengan alam dan geografis wilayah Aceh kala itu.

Tarmizi A Hamid, kolektor manuskrip (kitab kuno) Aceh, mengungkapkan, dari ratusan kitab kuno yang ia koleksi, ada salah satu kitab tanpa nama, karya ulama dan pemikir sufi abad ke-18, yang begitu detail menjelaskan tentang terjadinya bencana di Aceh.

“Naskah ini begitu detail, menyebutkan pada bulan apa dalam kalender Islam, kalau bulan Rabiul akhir terjadi apa, pada bulan Rajab, pokoknya dalam 12 bulan Islam ada tertulis,” ujar Tarmizi saat ditemui di kediamannya, Ahad lansir INI-Network, Senin (04/03/2019).

Baca: Jejak-jejak Tsunami Aceh

Menurut Tarmizi detailnya penulisan bencana dalam kitab tersebut menunjukkan fakta di Aceh dulunya memang sering terjadi bencana gempa maupun tsunami.

“Kalau tidak ada peristiwa masa lalu, tidak akan ada tertulis manuskrip, artinya manuskrip adalah rekaman catatan masa lalu ketika ini ditulis oleh orangtua kita dahulu, leluhur yang telah mendahului kita yang dirangkum kembali abad ke-18. Dari naskah gempa ini bisa menjadi pengetahuan bencana alam di Aceh maupun di Nusantara,” ujar pria yang kerap disapa Cek Midi ini.

Kolektor manuskrip Aceh, Tarmizi A Hamid menunjukan kitab kuno. [Foto: INI-Network]

Kala bencana gempa dan tsunami 2004 silam, hampir semua peneliti maupun ilmuwan tertuju ke Aceh untuk melakukan penelitian guna mencari penyebabnya.

“Kita mengakui para ilmuan saat ini sesuai dengan teknologi sekarang. Namun, dengan keilmuan para leluhur kita masa lalu, kita juga perlu menelusuri, perlu mengeja kembali tradisi, supaya kepentingan generasi kita akan datang terhadap bencana bisa diantisipasinya,” ungkapnya.

Baca: Tsunami Aceh, Pemerintah Diminta Tetapkan 26 Desember Hari Kesiapsiagaan Bencana

Disebutkan pada kitab tersebut, bencana tsunami telah terjadi lebih dulu sebanyak 4 kali pada masa Kesultanan Aceh, antara lain pada tahun 1833 dan 1861.

Maka kalau dikaitkan dengan hasil penelitian saat ini, tsunami di Aceh telah terjadi sejak 7.400 tahun silam.

Hal itu dibuktikan dengan adanya hasil temuan peneliti terhadap bekas gua tsunami purba di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar. Hasil temuan berupa endapan dan kandungan pasir di dalamnya menunjukkan tsunami pernah terjadi di sana.

Manuskrip kuno Aceh milik Tarmizi A Hamid. [Foto: INI-Network]

Tarmizi mengatakan, abad –abad sebelumnya sudah pernah terjadi tsunami besar, sehingga menghilangkan kota dan perkampungan semua, contohnya di Banda Aceh.

“Dulu lokasi pusat kota Banda Aceh itu berada di tengah laut kawasan kampung Pande saat ini, nah ini yang tidak pernah diungkap,” sebut pria yang telah mengumpulkan lebih dari 600 naskah kuno sejak tahun 1995 itu.

Baca: “Bangkit” dari Terjangan Tsunami Aceh

Selain itu, pada salah satu bab khusus dalam kitab tersebut, ia menemukan adanya literasi yang terputus terkait kearifan lokal.

Isinya adalah, budaya mitigasi bencana masyarakat terdahulu seperti teriakan Ie Beuna (air laut akan naik ke darat) merupakan istilah di wilayah pesisir daratan Aceh. Sedangkan di kepulauan Simeulue beristilah Smong (tsunami).

“Dulu di saat gempa besar itu semua masyarakat berteriak Ie Beuna. Begitu juga di Simeulue, ada istilahnya Smong, jika terjadi gempa, maka warga saat itu berlari dan langsung mencari tempat tinggi untuk menyelamatkan diri,” jelas Cek Midi.

Sebutan Ie Beuna dan Smong sebenarnya jadi cara komunikasi masyarakat dahulu dalam mengartikan tentang gelombang besar yang memiliki daya rusak hebat, serta dapat memusnahkan apa saja yang didahuluinya .

Kata ini menjadi salah satu sistem kearifan lokal (budaya) untuk mengantisipasi dini ketika nantinya terjadi bencana alam dan tsunami.*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !