Selasa, 30 November 2021 / 25 Rabiul Akhir 1443 H

Kesehatan

Memperhatikan Makanan

Bagikan:

Oleh: Hasanuddin

 

Hidayatullah.com | BANYAK sekali rubrik diberbagai media mengulas tentang kandungan makanan. Para ahli kesehatan gizi menguraikan satu persatu  manfaat, kelebihan dan kekurangan zat-zat yang dikandung oleh buah-buahan, tumbuhan, daging, ikan, relur, air, minyak, dan seterusnya..

Boleh dikata bahwa informasi apapun tentang makanan dan kandungannya dengan mudah dapat diperoleh. Hanya saja umumnya informasi yang tersedia baru sebatas makanan dalam arti kandungan zat makanan.

Sehingga pada umumnya juga disertai pembahasan mengenai pengaruh zat makanan itu terhadap dimensi pisik manusia dan belum banyak tersedia informasi bagaimana zat makanan itu memberi pengaruh baik atau buruk terhadap dimensi psikhis, terlebih lagi dimensi spritulitas seseorang.

Manusia dapat dikatakan sebagai makhluk tiga dimensi jika dilihat dari keadaannya. Lahiriahnya menunjukkan bahwa manusia itu tidak ubahnya seperti binatang, dengan tubuh yang juga terbuat dari saripati tanah, dengan kombinasi unsur tanah, air, udara dan api. Sehingga secara pisik manusia dengan simpanse misalnya memang memiliki kemiripan.

Aspek psikologis manusia, juga banyak dipengaruhi oleh makanan. Karena pada makanan yang kita makan melekat padanya sifat zat.

Dengan kata lain, psikologis hewan, binatang dan manusia itu melekat pada sisi lahiriahnya, yang merupakan tabiat dari unsur materi yang dikonsumsi oleh manusia. Karena itu amat penting memperhatikan zat apa yang dikonsumsi.

Allah swt berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓۙ

falyanẓuril-insānu ilā ṭa‘āmih

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS: ‘Abasa [80] : 24)

Ayat ini tentu saja berlaku umum, meliputi pengertian lahiriah dan batiniah. Sehingga kata “makanan” yang diingatkan agar diperhatikan, pun dalam makna lahiriah dan batiniah.

Makanan untuk lahirah kita itu diperoleh dari luar diri, yang kita masukkan ke dalam tubuh kita dengan berbagai cara, bisa dengan diminum, dikunyah lalu ditelan, atau diinjeksikan misalnya dengan menyuntikkannya. Sementara itu makanan untuk aspek batin “bagian luar” kita masuk melalui pendengaran dan penglihatan, jika hal itu dari luar diri, misalnya dengan mendengar lantunan musik atau melihat keindahan. Ia masuk kedalam diri dan diterima oleh hati bagian luar yang disebut akal.

Namun pada aspek batin “bagian dalam” informasi ini diterima oleh hati bagian dalam yang disebut qalbu. Informasi yang diterima oleh qalbu ini bersumber dari Allah, sementara informasi yang diterima oleh akal bersumber dari sesama makhluk.

Sebab itu bisikan hati, berisi informasi yang suci, bersih dan dengan demikian pasti kebenarannya. Sementara informasi yang diterima melalui alat indera bercampur atau dipengaruhi oleh tabiat materi, sehingga diperlukan akal guna melakukan verifikasi atas informasi yang “keru” atau bercampur  (baik-buruk, benar-salah). Akal memilih mana informasi yang harus di eksekusi, mana yang mesti dikesampingkan atau diabaikan.

Sementara jika informasi itu datangnya dari qalbu, akal akan bersikap taat dan patuh, karena sudah naluri alamiah akal itu untuk memutus suatu perkara dengan memihak kepada yang benar. Penyimpangan biasanya terjadi jika unsur tarikan hawa nafsu lebih kuat dari unsur tarikan qalbu.

Dominasi unsur hawa nafsu karena besarnya kapasitas tarikan dari tabiat materi. Dalam hal inilah anjuran puasa menemukan relevansinya, agar tubuh manusia tidak berlebihan kapasitasnya, sehingga mengalahkan sinyal informasi yang datang dari qalbu. Makin lemah tubuh, makin kuat sinyal informasi dari qalbu. Demikian sebaliknya.

Allah swt berfirman:

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa ‘anil-hawā

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya.” (QS: An-Nazi’at [79] : 40)

Bagi orang yang telah meraih iman, dan keimanannya telah meningkat ke level takwa, ia akan senantiasa membatasi kekuatan hawa nafsunya, dengan mengurangi makan dan minum. Atau akan memperbanyak puasa, karena khawatir jika bisikan qalbunya tidak dapat terdengar dengan baik, karena gemuruh suara nafsu yang menguasai dirinya.

Mereka menjadikan informasi atau petunjuk atau jalan dari Allah lebih utama untuk mereka dengar, daripada informasi yang datang dari makhluk.

Sebagaimana firman-Nya;

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا

żālikal-yaumul-ḥaqq, fa man syā’attakhaża ilā rabbihī ma’ābā

“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS: An-Naba’ [78] : 39)

Kesadaran akan tujuan kembali kepada Allah, itulah motivasi mereka yang bertakwa untuk memberi prioritas menerima informasi dari Allah melalui bisikan qalbunya, daripada informasi dari makhluk.

Demikianlah sekilas tentang pentingnya memperhatikan maknanan, dari sisi lahir dan batin.  Dan orang yang beriman, dengan demikian  menjadikan Al-Quran sebagai asupan informasi bagi dirinya, dalam rangka perjalanannya kembali kepada Allah.

Namun tidak banyak orang yang telah sadar akan hal ini. Padahal tidak ada kitab petunjuk untuk kembali kepada-Nya, memasuki surga-Nya, menghindari berbagai penyakit, azab neraka selain Al-Quran,

Allah swt berfirman:

فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ ۔

fa bi’ayyi ḥadīṡim ba‘dahū yu’minūn

“Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur’an) ini mereka akan beriman?” (QS: Al-Mursalat [77] : 50)

Carilah kitab yang lebih baik sebagai petunjuk selain Al-Quran, jika memang ada. Tapi jangan menyalahkan Allah dan Rasul-Nya, jika kemudian tersesat karena mengabaikan petunjuk yang telah Allah dan Rasul-Nya sampaikan dalam Al-Quran. Ayat tentang makanan ini amat banyak dalam Al-Quran, kami persilahkan mencarinya sendiri, semoga Allah swt memberikan kemudahan memahaminya.

Dan semoga Allah swt senantiasa memberikan bimbingannya kepada kita semua.*

Penulis mantan Ketua Umum PB HMI

Baca:  6 Alasan Mengapa Rasulullah ﷺ Melarang Meniup Makanan dan Minuman

Dampak Makanan Halal terhadap Perilaku

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

vaksinasi calon jamaah haji

WHO: COVID-19 Tidak Akan Berakhir sampai 70% Populasi Dunia Divaksinasi

Pengobatan Herbal Belum Dibarengi Pengetahuan yang Cukup

Pengobatan Herbal Belum Dibarengi Pengetahuan yang Cukup

Ibu Merusak Ikatan Alami dengan Bayinya

Ibu Merusak Ikatan Alami dengan Bayinya

Gangguan Bipolar Picu Bunuh Diri

Gangguan Bipolar Picu Bunuh Diri

Rokok Membunuh 37,6 Persen Pria Turki

Rokok Membunuh 37,6 Persen Pria Turki

Baca Juga

Berita Lainnya