Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Kesehatan

Wanita Berdomisili Dekat Jalan Raya Cenderung Alami Ketidaksuburan

Bagikan:

WANITA yang tinggal dekat jalan raya utama, dengan kondisi udara tercemar oleh asap kendaraan, memiliki kecenderungan gangguan kesuburan daripada wanita yang tinggal lebih jauh dari jalan raya dengan udara lebih bersih, kata satu penelitian di AS.

Para peneliti mencermati lebih dari 36.000 wanita dari tahun 1993 hingga tahun 2003, dengan menganalisis polusi udara lalu lintas di dekat rumah mereka, dan bagaimana udara yang kotor itu berpengaruh terhadap proses kehamilan mereka.

Selama masa penelitian, ada sekitar 2.500 kasus dilaporkan terkait dengan infertilitas (ketidaksuburan). Wanita yang tinggal dekat jalan utama –dalam radius 199 meter– terdapat 11 persen wanita mengalami masalah infertilitas daripada wanita yang tinggal jauh dari jalan raya.

“Risikonya memang hanya sedikit,” kata pemimpin studi Dr Shruthi Mahalingaiah, peneliti di Boston University School of Medicine.

Tetapi walaupun risiko sedikitnya, hal itu dapat menjadi masalah global dalam kesehatan masyarakat, kata Mark Nieuwenhuijsen, seorang peneliti di Pusat Penelitian di Environmental Epidemiology and the Barcelona Institute for Global Health.

“Untuk seorang wanita secara individu, hasilnya mungkin tidak begitu penting karena risiko infertilitas hanya meningkat sedikit, tapi untuk masyarakat secara keseluruhan sangat penting karena begitu banyak wanita terkena polusi udara,” tambah Nieuwenhuijsen, seperti dilansir FMT News dari Reuters, Senin (18/1/2016).

Untuk melihat hubungan antara infertilitas dan polusi udara, Mahalingaiah dan koleganya meneliti data partikel –berupa campuran partikel padat dan tetesan cairan yang mencakup debu, kotoran, jelaga dan asap– pada rumah-rumah wanita pada jarak tertentu dari jalan-jalan utama.

Mereka memfokuskan perhatian pada apa yang dikenal sebagai infertilitas primer, ketika wanita mencoba untuk hamil selama setidaknya satu tahun namun tanpa hasil, serta infertilitas sekunder, yang mengacu pada pasangan yang berjuang untuk hamil setelah pernah mengalami setidaknya satu kehamilan sebelumnya.

Pada wanita tinggal dekat dengan jalan-jalan utama, terdapat 5 persen mengalami infertilitas primer, suatu angka yang secara statistik dianggap tidak signifikan.

Tapi terdapat 21 persen lebih wanita dilaporkan mengalami infertilitas sekunder dibandingkan wanita yang tinggal lebih jauh dari jalan raya. Ini peningkatan signifikan secara statistik, kata peneliti dalam laporannya dalam jurnal Human Reproduction.

Kondisi itu terjadi saat konsentrasi dari partikel relatif lebih rendah, atau udara kurang tercemar. Diperkirakan kaitan infertilitas akan lebih kuat jika level polusi lebih meningkat.

Namun dalam penelitian ini terdapat keterbatasan, yakni peneliti tidak tahu tanggal yang tepat ketika upaya kehamilan dimulai atau infertilitas didiagnosis, sehingga sulit untuk meneliti bagaimana waktu paparan polusi dapat mempengaruhi peluang kehamilan.

Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum membuat rekomendasi medis berdasarkan hasil, kata Mahalingaiah.

Meski begitu, temuan tersebut menambah semakin banyak bukti menunjukkan bahwa polusi dapat memberikan hasil negatif dalam upaya kehamilan, kata Dr Sajal Gupta, seorang peneliti di Cleveland Clinic di Ohio, AS, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Pasangan yang menderita infertilitas perlu berhati-hati, terutama jika mereka berada di daerah dengan lingkungan partikulat tinggi,” kata Gupta.

“Berpindah ke daerah dengan kontaminasi partikel rendah, merupakan alternatif untuk mencegah dampak ketidakkesuburan.”

Infertilitas adalah salah satu dari banyak masalah kesehatan yang terkait dengan polusi udara, kata Christopher Somers, seorang peneliti biologi di University of Regina, Kanada, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

“Polusi udara jauh lebih buruk pada jalan utama dengan volume lalu lintas tinggi, sehingga perlu menghindari tinggal di daerah ini jika memungkinkan,” kata Somers. “Jika ini tidak memungkinkan, perhatikan petunjuk-petunjuk yang terkait kualitas udara dan atur aktivitas yang terkait dengan kegiatan di luar rumah.”*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Hormon Stres Bisa Sebabkan Ingatan Jangka Pendek Hilang

Hormon Stres Bisa Sebabkan Ingatan Jangka Pendek Hilang

Gaya Hidup ‘Bermalasan’ Bisa Sebabkan Gangguan Tulang Belakang

Gaya Hidup ‘Bermalasan’ Bisa Sebabkan Gangguan Tulang Belakang

Mengangguk-angguk Ratusan Warga Uganda Tewas

Mengangguk-angguk Ratusan Warga Uganda Tewas

Zaitun, Buah Halal yang Diberkahi

Zaitun, Buah Halal yang Diberkahi

Meningkatnya Jumlah Perokok Ancaman Serius Indonesia

Meningkatnya Jumlah Perokok Ancaman Serius Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya