Ahad, 28 Maret 2021 / 14 Sya'ban 1442 H

Kesehatan

Produsen Obat Hepatitis C Dianggap Mengutamakan Keuntungan

Para demonstran menentang tingginya harga obat yang diproduksi perusahaan farmasi Gilead dalam unjuk rasa di Atlanta, Georgia, AS.
Bagikan:

Hidayatullah.com–Produsen obat terobosan baru bagi perawatan Hepatitis C dianggap mengutamakan keuntungan perusahaan di atas pasien, dengan mematok $1.000 (hampir Rp 14 juta) untuk harga sebuah pil yang bisa menyembuhkan penyakit hati tersebut, menurut para peneliti Senat AS.

Satu laporan bipartisan dari Komite Keuangan Senat AS menyimpulkan, perusahaan farmasi “Gilead Sciences” yang berbasis di California berusaha memaksimalkan keuntungan perusahaan, walaupun hasil analisis internal menunjukkan bahwa dengan harga obat yang lebih rendah akan memungkinkan lebih banyak pasien yang bisa mendapatkan perawatan.

Dilaporkan VOA, Jumat (4/12/2015), meskipun laporan ini menyoroti hanya pada satu obat yang telah menjadi berita utama dalam beberapa tahun terakhir, para senator yang memimpin penyelidikan mengatakan, hasil temuan mereka adalah peringatan mengenai kemungkinan biaya perawatan yang mahal lainnya bagi penyakit kanker, diabetes, Alzheimer dan HIV.

Dalam pernyataannya perusahaan obat Gilead mengatakan tidak setuju dengan kesimpulan laporan itu.

Biaya Perawatan Rp 1,2 Miliar

Pil terobosan bagi penyakit Hepatitis C produksi Gilead disebut “Sovaldi” dengan harga $1.000 (hampir Rp 14 juta) untuk setiap pil, atau akan menghabiskan $84.000 (hampir Rp 1,2 miliar) untuk seluruh pengobatan.

Gilead kemudian memperkenalkan pil generasi berikutnya yang lebih mahal yang disebut “Harvoni”, yang sangat efektif dan dan lebih mudah dikonsumsi oleh pasien. Dengan Harvoni, biaya seluruh pengobatan akan memakan biaya $ 94.500 (lebih dari Rp 1,3 miliar).

“Gilead menentukan harga (pil) Sovaldi dan Harvoni secara bertanggung jawab dan mempertimbangkan dengan serius,” menurut pernyataan resmi perusahaan. Gilead menyatakan, lebih dari 600.000 pasien di seluruh dunia telah diobati sejak diperkenalkannya Sovaldi dua tahun lalu.

Namun Senator Wyden dan Senator Chuck Grassley, mengatakan, hasil investigasi mereka selama 18 bulan menemukan bahwa harga obat yang mahal membatasi secara signifikan kemampuan pasien mendapatkan obat itu dan memberikan beban biaya yang besar terhadap program layanan kesehatan pemerintah.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Virus dari Tikus Hantui Pelancong di Amerika

Virus dari Tikus Hantui Pelancong di Amerika

Tips Memilih Menu Makanan Sehat Menurut Islam

Tips Memilih Menu Makanan Sehat Menurut Islam

Masa Remaja Awal Kecanduan Alkohol dan Narkoba

Masa Remaja Awal Kecanduan Alkohol dan Narkoba

Khitan Si Gemuk di Rumah Sunatan

Khitan Si Gemuk di Rumah Sunatan

Jumlah Perokok Dunia Capai Satu Miliar

Jumlah Perokok Dunia Capai Satu Miliar

Baca Juga

Berita Lainnya