Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Kesehatan

Kurang Tidur Diperkirakan Penyebab Penyakit Alzheimer

Bagikan:

SESEORANG yang sulit tidur dalam satu malam, bisa menunjukkan adanya protein yang lebih tinggi dari tingkat normal pada otak dan memberi tanda adanya penyakit Alzheimer, menurut studi baru dari Belanda.

“Kami pikir tidur sehat yang normal membantu mengurangi jumlah  (amyloid) beta di otak, dan jika tidur terganggu penurunan tidak bisa terjadi,” kata peneliti senior Dr Jurgen Claassen dari Radboud University Medical Center di Nijmegen.

Pada orang yang berulang kali gagal mendapatkan tidur malam yang baik, konsentrasi amyloid-beta dapat terbentuk dan bisa menjadi salah satu faktor munculnya penyakit Alzheimer, katanya.

Alzheimer adalah bentuk paling umum dari demensia dan penyebab utama kematian keenam untuk orang-orang usia tua di Amerika, menurut Centers for Disease Control and Prevention. Lebih dari 5 juta orang Amerika memiliki penyakit tersebut. Demikian dilaporkan Daily News (3/6/2014).

Berbeda dari bentuk lain dari demensia, Alzheimer sebagian ditentukan oleh akumulasi di otak dari protein amyloid-beta. Penyebab penyakit Alzheimer belum diketahui, tetapi plak amyloid-beta telah lama diduga memainkan peran penting.

Claassen dan rekan-rekannya menulis dalam JAMA Neurology, penelitian pada tikus telah menemukan penurunan jumlah amyloid-beta dalam otak hewan yang sehat setelah tidur malam yang baik. Itu menunjukkan tidur memainkan peran dalam membersihkan protein dalam semalam.

Untuk melihat apakah hal yang sama berlaku pada manusia, para peneliti meneliti 26 pria paruh baya dengan kebiasaan tidur normal untuk mengukur kadar protein sebelum dan sesudah tidur, atau jika kurang dari itu.

Orang-orang yang diteliti itu dibawa ke klinik, di mana kateter dimasukkan ke dalam tulang punggung mereka untuk diambil sampel cairan sebelum mereka pergi tidur dan setelah mereka bangun. Setengah dari pria secara acak melakukan tidur malam yang baik, sementara separuh lainnya tetap terjaga.

Para peneliti menemukan, orang-orang yang mendapatkan tidur malam yang baik, memiliki tingkat amyloid-beta dalam cairan tulang belakang mereka sekitar 6 persen lebih rendah di pagi hari dibanding saat sebelum tidur. Orang-orang yang tetap terjaga sepanjang malam tidak mengalami perubahan tingkat amyloid-beta.

Kualitas tidur pun diteliti untuk mendapatkan berapa banyak terjadi penurunan amyloid-beta, yang menunjukkan lebih banyak asam amino dapat dibersihkan saat tidur yang lebih baik, sebut tim dalam tulisannya.

“Kami menyimpulkan beta bisa dibersihkan atau tidak dari kondisi tidur seseorang,” kata Claassen kepada Reuters.

Claasen menyebutkan, walaupun orang mungkin tidak begadang sepanjang malam selama berminggu-minggu pada satu waktu, tetapi kemudian secara parsial tidak tidur beberapa malam, dapat terjadi peningkatan (amyloid-beta).

“Kami meneliti, kurang tidur yang agak ekstrim semalam, mirip dengan kurang tidur secara parsial dalam seminggu,” ujarnya.

“Berdasarkan hal ini dan juga penelitian yang lain, sebaiknya seseorang melakukan kebiasaan tidur yang baik, yang juga jangan terlalu khawatir jika waktu tidurnya terlewatkan hanya semalam saja,” tambahnya.

Dr Michael Shelanski, Wakil Direktur Columbia University Medical Center’s Taub Institute for Research on Alzheimer’s Disease and the Aging Brain di New York City, memperingatkan bahwa studi baru tersebut masih belum dapat membuktikan protein amyloid-beta memiliki hubungan dengan risiko Alzheimer.

“Kami belum yakin dengan bukti-bukti dari makalah tersebut,” kata Shelanski, yang tidak terlibat dalam penelitian baru tersebut.

“Tetapi ini merupakan studi yang menarik,” katanya. “Ini studi yang baik, tapi masih belum dapat dikatakan apakah penyakit Alzheimer memiliki hubungan dengan pola tidur.”

Claassen mengakui bahwa hasil timnya tidak membuktikan bahwa melakukan cukup tidur akan mencegah penyakit Alzheimer, atau menumpuknya amyloid-beta menyebabkan kondisi tersebut. Tidur mungkin hanya salah satu dari banyak faktor risiko pada penyakit, katanya. Lainnya termasuk genetika, tekanan darah tinggi, dan obesitas.

“Kami pikir, penyakit itu memiliki beberapa penyebab. Tidak hanya satu. Tapi kita tidak tahu yang mana,” tambahnya.*

Rep: Insan Kamil
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Studi: Madu Terbukti Lebih Baik dalam Meredakan Batuk Daripada Obat Antibiotik

Studi: Madu Terbukti Lebih Baik dalam Meredakan Batuk Daripada Obat Antibiotik

Survey: Pernikahan Kurangi Risiko Kematian akibat Kanker Prostat

Survey: Pernikahan Kurangi Risiko Kematian akibat Kanker Prostat

Autis Tak Bisa Sembuh? Siapa Bilang!

Autis Tak Bisa Sembuh? Siapa Bilang!

Malaysia Tetapkan Syarat pada Penjual Makanan yang Gunakan Pembungkus Koran

Malaysia Tetapkan Syarat pada Penjual Makanan yang Gunakan Pembungkus Koran

Metode Pengobatan Rasulullah: Herbal untuk Ruqyah

Metode Pengobatan Rasulullah: Herbal untuk Ruqyah

Baca Juga

Berita Lainnya