Mencari ‘Jalan Pulang’ Mencari ‘Jalan Pulang’ Mencari ‘Jalan Pulang’ Mencari ‘Jalan Pulang’

Mencari ‘Jalan Pulang’

Hidayatullah.com–Jumat (09/11/2018) siang, puluhan anak-anak duduk rapi melingkar. Dipandu seorang guru, ia membaca terbata-bata huruf hijaiyah dari Buku Iqra’, Cara Cepat Belajar Membaca Al-Quran karya K.H. As’ad Humam (pengasuh Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushola Kota Gede Yogyakarta).

Jangan keliru, kegiatan ini bukan di masjid atau Taman Pendidikan al-Quran (TPA), tetapi terjadi di Kolong Jembatan, depan Stasiun Tebet, Jakarta.  Mereka adalah anak-anak  punk dan pengamen jalanan Ibu Kota Jakarta.

Tanpa risih atau malu, sebagian anak-anak yang tubuhnya penuh tato atau bertindik itu memulai belajar membaca Al-Quran dipandu Halim Ambiya, pendiri komunitas Tasawuf Underground (TU).>>> baca: Mereka Mencari Dai yang Membumi

Pertemuan Pengajian Undergoround masih Perdana, InsyaAllah akan diadakan setiap JUmat dari Jam 14.00 sampai jam 17.00. (di belakang Statiun Tebet)

“Pengajian di Tebet ini  baru 2 minggu, InsyaAllah nanti akan rutin,” kata Halim kepada hidayatullah.com.

Terbentuknya pengajian di kolong jembatan, di dekat Stasiun Tebet Jakarta ini, tidak terjadi tiba-tiba. Menurut salah satu anak jalanan yang ikut kegiatan ini, kisah pengajian ini bermula dari kegalaulan dan kerisauan  anak anak punk dan anak jalanan.

“Kami risau tentang kehidupan, terutaman adik-adik  anak jalanan yang masih belia, yang sebagian besar bekerja menjadi pengamen di angkot,” ujar Sapta (bukan nama sebenarnya). Karena itulah, Sapta  ingin adik adik mereka ada yang ngajari agama dan mengaji sebagai bekal hidupnya.

Dalam pertemuan perdana, ada sekitar 20 anak, antara usia SD, hingga SMA. Selain mengaji diawali tausyiah, sharing (berbagi cerita) dan tanya jawab seputar agama. Juga hadiah buku bagi yang bisa menjawab pertanyaan.

Halim Ambiya mengaku baru 3 tahun memulai membina anak jalanan dan anak punk di wilayah  Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi (Jabotabek).

Sampai saat ini,  ada sekitar 80 ‘anak terbimbing’, termasuk di Tebet.  Jumlah itu termasuk anak jalanan dan anak punk.

“Bentuknya selain pengajian, ada pembinaan, kursus-kursus ketrampilan seperti sablon dan pelatihan untuk menjadi mandiri,” ujarnya.

Terkait perbedaan anak jalanan dan anak punk, Halim menjelaskan, bahwa anak punk, biasnya berangkat karena ideologi musik dan life style. Sementara anak jalanan biasanya anak pengamen dan bekerja di rimba kota.

Dengan komunitas TU ini, ia berharap bisa menjemput mereka, karena menurutnya,  mereka tidak mungkin dan selama ini belum tersentuh oleh mimbar-mimbar masjid.

Meski tiga tahun amal ini dilakukan, ia mengaku mengalami suka-duka dan ikut merasakan bagaimana mereka hidup di jalanan. Halim bahkan mencerutakan pernah menemui sendiri kehidupan anak-anak jalanan yang belum banyak diketahui masyarakat umum.

“Bahkan tadinya ada yang beranak-pinak di kolong jembatan, tapi sekarang sudah tidak,” ujarnya.

Dengan adanya pertemuan dan pengajian, sebagaian  sudah berhasil dan kembali ke rumah.

“Yang yang tadinya mentato tubuh, dialihkan kerja sablon dan usaha usaha digital. Ada juga yang bekerja di barista, jualan kopi,” tambahnya.

Target Halim sendiri tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin mengenalkan mereka dengan Allah Subhanahu Wata’ala, bisa hidup survive sebagaimana layaknya orang umum, tidak bukan terus terusan di hidup di kolong jembatan dan untuk mengenalkan mereka ‘jalan pulang’ (kembali pada keluarga).

“Menjemput dan merangkul mereka. Berusaha untuk bersahabat dengan anak-anak punk dan jalanan. Lalu, membuka peta untukmenawarkan mereka jalan pulang,” ujar Halim.*/Cha, Zak. Forografer: Zaki Hidayatullah

Baca Juga