Selasa, 23 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Feature

Sampai Kedua Ustadz ‘Dilempari’ Uang Berjamaah…

Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com
Panitia dari Pro-U Media dan SA-SS mengumpulkan dana kepedulian untuk Palestina-Suriah
Bagikan:

KOTAK persegi itu menempel pada sebuah dinding lebar. Ukurannya begitu besar. Di dalamnya memuat berbagai kepala orang berukuran raksasa. Meski demikian, makhluk gede itu bisa masuk ke sebuah kotak kecil segenggaman tangan.

Benda kecil itu hanyalah kamera handphone milik seorang wanita. Ia baru saja memotret suasana sebuah panggung di depannya. Bersama ribuan orang di sekitarnya, pengunjung Istana Olahraga (Istora) Senayan, Jakarta ini memenuhi area utama gedung.

Saat itu, 17 Jumadil Awal 1436 H, adalah hari terakhir gelaran Islamic Book Fair (IBF) ke-14. Di atas panggung utama IBF, sebuah layar lebar menampilkan agenda acaranya. “Talkshow Ukhuwah dan Soft Launching Buku Duet Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw.” Tulisan itu dilengkapi foto kedua tokoh tersebut.

Salim dan Felix, siapa yang tak mengenalnya? Ahad sore, 8 Maret 2015 itu, kehadiran mereka menyedot perhatian para pengunjung istora. Acara ini dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, usai shalat Ashar ditunaikan oleh kebanyakan pengunjung IBF.

Di atas dua kursi kayu coklat, kedua ustadz muda itu “kompak” bercelana panjang warna gelap. Kekompakannya diperjelas oleh kemeja masing-masing; Salim berbatik coklat tua khas Yogyakarta, sedangkan Felix berbatik coklat tua-muda khas Solo. Batik-batik itu memperkuat hastag #DukungDakwahDiNusantara yang mereka usung.

“Hujan” Uang
Ada suasana tersendiri sepanjang IBF 2015 yang berbeda dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan pengamatan dan informasi yang dihimpun hidayatullah.com, IBF kali ini terkesan tidak seramai tahun lalu.

Pada hari Ahad pertama pameran buku Islam itu, lapor seorang reporter media ini, pengunjungnya tidak begitu ramai. “Ahad (01/03/2015), pengunjung IBF agak sepi. Padahal hari libur,” ujarnya agak terheran-heran.

Anggapan itu diperkuat oleh Hidayat, staf marketing sebuah penerbit berkelas peserta IBF. Menurut Hidayat, stannya yang terletak di depan panggung utama sepi pengunjung jika dibandingkan tahun lalu.

“Tahun ini parah sepinya. Jam segini (pada tahun) biasanya masih ramai, tapi sekarang ini sudah sepi,” ujarnya saat bincang-bincang dengan media ini, sekitar pukul 7.48 malam, Rabu (04/03/2015).

Perbincangan itu berlangsung di dekat stan Hidayat, tepatnya di area tribun utara Istora Senayan yang melompong. Beberapa hari setelah itu, anggapan sepinya pengunjung IBF “terbantahkan” oleh acara duet Salim-Felix.

Ahad itu, kedatangan ribuan pengunjung ke istora, selain karena hari terakhir pameran, bisa dipastikan juga karena acara duet tersebut. Daya tarik kedua dai tenar ini memang tak bisa dipungkiri. Saat mereka tampil, tribun utara dan selatan dijubeli pengunjung. Apalagi di depan panggung utama, pria-wanita meluber sampai menyesaki stan-stan “istimewa”, termasuk yang dijaga Hidayat.

Momentum itu dimanfaatkan benar oleh penyelenggara acara; Pro-U Media, bekerjasama dengan Sahabat Al-Aqsha (SS) dan Sahabat Suriah (SS) –dua lembaga satu manajemen yang konsen membantu umat Islam di Palestina dan Suriah.

Pada penghujung acara, Host Muhammad Fanni Rahman (CEO Pro-U Media) mengajak para pengunjung untuk berinfaq dan menyalurkannya melalui SA-SS. Panitia pun membentuk tim yang disebar di kedua tribun. Waktu penggalangannya, sebut Fanni dari atas panggung, “terbatas”. Ia lantas menghitung angka mundur. Seiring itu, tim pengumpul infaq bergerak membawa sarung kosong. Sodoran panitia berseragam itu disambut uluran tangan pengunjung.

“Keluarkan infaq terbaik Anda hari ini. Semua isi dompetnya, keluarkan!” seru Fanni bersemangat.

Seruan itu semakin menyulut semangat pengunjung untuk berinfaq. Sebagian lainnya bersemangat mengabadikan momen itu dengan kamera masing-masing. Sang host pun nyeletuk, “Jangan cuma foto-foto, keluarkan juga infaqnya!”

Sementara itu di sekitar panggung utama, para pengunjung menyerahkan langsung infaqnya ke panitia. Mereka diarahkan meletakkan uangnya di lantai panggung. Karena padatnya kerumunan orang, pengunjung yang agak jauh dari situ susah untuk maju. Fanni melontar solusi, “Uangnya silakan dilempar ke panggung!”

Sontak saja, situasi jadi semakin menarik. Tatkala para Muslimin dan Muslimah mengambil duit-duit mereka, menggulung atau menggumpalnya agar lebih padat, lalu melemparkannya beramai-ramai dan bergantian. “Hujan uang horizontal” itu mengarah ke panggung, ketika Salim dan Felix masih duduk di kursi masing-masing. Tak ayal, saat hidayatullah.com menyaksikan pemandangan ini dari atas tribun utara, kedua pembicara itu terlihat seperti dilempari uang kertas dan –sebagian– logam secara berjamaah.

Para pengunjung "melempari" Salim dan Felix dengan uang. Fanni (baju putih) memberi semangat. [Foto Syakur]

Para pengunjung “melempari” Salim dan Felix dengan uang. Fanni (baju putih) memberi semangat. [Foto Syakur]

Tak berlebihan, sebab tampaknya ada uang yang hampir mengenai Salim. Ustadz berpeci hitam dan bersarungkan sorban ini sempat terlihat melakukan gerakan tangan seperti menghindari sesuatu. “Eits, eits,” mungkin sambil berkata begitu. Salim yang tertawa “ditimpa insiden pelemparan” itu mengundang Felix di samping kirinya ikut tertawa. Fanni dan sejumlah orang di dekat situ jadi tertawa pula.

Para pengunjung masih tiada henti melempari panggung. Hingga selama 7 menitan, acara penggalangan dana pun selesai. Media ini segera bergerak mengikuti seorang kru penggalang dana ke atas panggung. Di sini, sejumlah panitia mulai mengumpulkan uang yang berserakan dan hasil “sarungan”. Mereka agak kewalahan bekerja, karena rupanya pelemparan belum berakhir.

“Kalau ada yang menemukan uang tercecer di lantai, silakan di lempar ke atas panggung,” Fanni mengingatkan. Di dekat jubah putihnya, berbagai jenis dan nilai uang, dari warna hijau sampai merah hati, terkumpul membentuk gundukan semi lingkaran, dengan diameter sekitar 1×1 meter.

Antara Nda dan Nda
Berapa pun uang yang terkumpul saat itu; jutaan atau puluhan juta rupiah, seakan menegaskan betapa tingginya kepedulian umat Islam terhadap Palestina-Suriah. Antusiasme itu rasa-rasanya tak lepas dari magnet kata-kata yang disampaikan oleh Salim dan Felix. Dalam tausiyahnya sebelum penggalangan dana itu, Salim memantik jiwa welas asih para hadirin di depannya.

“Adakah orang yang menyambut seruan ini; bersama kami, dakwah nusantara, kamilah penolong-penolong agama Allah. Dengan setiap kesempatan dan kejadian, tolonglah agama Allah. Ketika agama Allah direndahkan, ketika agama Allah dilecehkan, ketika agama Allah dinistakan, tolonglah agama Allah. Dan bukan cuma ketika agama Allah direndahkan, dinistakan oleh orang, tetapi bagaimana kita li ilahi kalimatillah,” serunya penuh penghayatan.

Di penghujung acara, Felix mengambil alat pengeras suara. Pria bercukur pendek ini mengingatkan para pengunjung agar melakukan kebaikan karena Allah. Bahwa ia dan Salim hanyalah manusia biasa, jangan sampai membuat mereka terlena apalagi sampai mengkultuskannya.

“(Kami) masih punya –naudzubillah– mungkin sifat takabur. Jadi, lebih baik setelah ini, karena saya bukan selebritis, dan Nda Salim juga bukan selebritis, jadi tidak perlu ada sesi foto-foto. Juga tidak perlu kemudian maju ke depan. Kasihan nanti kalau panggungnya rusak. (Buku) yang sudah di depan biar nanti insya Allah kami tanda tangani. Ada hajat yang lebih besar; sebentar lagi shalat Maghrib. Dan kami juga nggak pengen ditanya oleh Allah, kenapa teman-teman saya nanti telat shalat Maghrib? Gara-gara Felix Siauw sama Salim Fillah. Jangan sampai. Allahu Akbar!” pesannya disambut takbir para hadirin.

Mendengar itu, Salim yang tengah memberesi buku-buku untuk ditandatangani tampak tersenyum. Selain karena nasihat tersebut, mungkin, ia juga senang karena untuk kesekian kalinya dipanggil “Nda”. Ini panggilan khusus antara Salim dan Felix. “Nda” diambil dari kata “Kanda” dan “Dinda”. Potongan ujungnya yang sama, jelas Felix sebelumnya, dipilih karena keduanya tak ingin merasa lebih tua atau lebih muda. Maklum, Salim-Felix sama-sama kelahiran tahun 1984.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

Tak Disangka, Bayi Kami Lahir di Usia 72 Tahun Republik Indonesia

Tak Disangka, Bayi Kami Lahir di Usia 72 Tahun Republik Indonesia

“Seandainya ‘La Tahzan’ Saya Tulis Setelah Mengunjungi Indonesia…”

“Seandainya ‘La Tahzan’ Saya Tulis Setelah Mengunjungi Indonesia…”

Kekurangannya Justru Menjadi Kelebihannya (1)

Kekurangannya Justru Menjadi Kelebihannya (1)

Kalungan Bunga untuk Abd el-Qadir

Kalungan Bunga untuk Abd el-Qadir

Mengasah Insting Bisnis dengan Doa

Mengasah Insting Bisnis dengan Doa

Baca Juga

Berita Lainnya