Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Feature

Susahnya Mau Shalat di Pesta Syukuran Rakyat

Muh. Abdus Syakur/Hidayatullah.com
Seorang peserta pawai di depan salah satu panggung pesta Syukuran Rakyat di Monas
Bagikan:

RIBUAN manusia berjubel di sepanjang Jalan Sudirman sampai Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Sorak sorai massa sahut menyahut. Berbagai jenis bendera dan kostum dikibarkan dan dipamerkan. Mereka, yang mengatasnamakan rakyat Indonesia itu, tengah menanti dua sosok manusia terpilih, yaitu Joko Widodo alias Jokowi dan Jusuf Kalla (JK).

Senin (20/10/2014) pagi jelang siang itu, Jokowi-JK baru saja dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) Republik Indonesia. Bertempat di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, pelantikan keduanya dihadiri ribuan jurnalis lokal maupun asing, serta tetamu dari negara-negara jiran dan sahabat.

Resminya Jokowi-JK sebagai pemimpin Indonesia memang disambut gegap gempita oleh berbagai kalangan rakyat Indonesia. Lihatlah Senin itu, lautan manusia nyaris tak sanggup ditampung di jalan protokol kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Namun, situasi agak kurang menyenangkan sempat terjadi. Ketika pada  sekitar pukul 13.03 Wib, belum ada tanda-tanda kedatangan rombongan Jokowi-JK ke arena pawai. Padahal sebelumnya, satu rombongan relawan pendukung Jokowi-JK melintas dari HI menuju Monumen Nasional (Monas). Saat itu, seorang oratornya mengatakan bahwa Jokowi-JK akan datang sebentar lagi.

“Tujuh menit lagi, tujuh menit lagi,” ujarnya melalui pengeras suara di atas mobil komando sekitar pukul 12.16 Wib.

Pawai tersebut saat itu direncanakan dimulai dari Bundaran HI, dimana Jokowi-JK akan diarak massa. Karena keduanya tak kunjung datang, para wartawan foto dan kameramen yang menongkrong di atas Jembatan Penyeberangan Orang Bundaran HI mulai kesal menunggu.

Gonjang-ganjing pun bermunculan, setidaknya di kalangan jurnalis. Pengamatan hidayatullah.com Senin itu, sebagian awak media yang selama ini pemberitaannya pro Jokowi-JK menggerutu. Mereka pun melontarkan berbagai prasangka negatif. Ada yang menduga jangan-jangan Jokowi-JK batal ikut pawai. Ada pula yang menebak-nebak kalau keduanya akan merubah rute pawai.

“Nggak jelas sih. (Katanya) ntar lagi datang, ntar lagi datang,” keluh seorang kameramen sebuah televisi swasta.

“Pegel nih. Ada refleksi nggak di sini?!” keluh seorang wartawan lain sambil berguyon.`

Sementara itu, ribuan peserta pawai yang sejak pagi menunggu di sepanjang Bundaran HI – Jl MH Thamrin – Monas mulai kepanasan. Sebagian lantas mengeluarkan payung masing-masing guna menghindari sengatan matahari. Massa lainnya tetap rela berpanas-panasan.

Barulah pada sekitar pukul 13.17 Wib, dari kejauhan tampak iring-iringan Jokowi-JK dari arah Semanggi mulai bergabung dengan kerumunan massa. Para wartawan yang tadinya sempat kesal akhirnya lega. Mereka segera bersiap memotret momen-momen diaraknya dua sosok pemimpin baru Indonesia.

Keterlambatan kedatangan Jokowi-JK membuat Daen, nama rekaan seorang peserta pawai, terlambat melaksanakan shalat Zhuhur karena ‘keasyikan’ menunggu. Yang sebetulnya dia juga bingung mau shalat dimana saat itu. Sepemantauan hidayatullah.com, tidak ada tempat shalat khusus yang disediakan panitia acara untuk umat Islam peserta pawai.

“Menariknya”, panitia menyediakan fasilitas konsumsi gratis di sepanjang rute dari Bundaran HI ke Monas. Tampak deretan gerobak pedagang kali lima (PKL) yang menjajakan berbagai jenis makanan seperti bakso dan sebagainya. Namun, makanan gratis itu keburu ludes bahkan sebelum Jokowi-JK tiba di arena pawai. Harap maklum, massa begitu membeludak. Daen yang seorang perantauan asal Sulawesi Selatan pun kecewa.

“Padahal sudah siap-siap makan banyak. Terlalu berharap (makan gratis) sih” ujar Daen yang tahu dari media massa jika panitia menyediakan kuliner gratis. Ia pun memilih makan siang mi ayam di warung PKL dekat Monas seharga Rp 15 ribu per porsi, cukup mahal untuk ukuran mahasiswa jurusan ekonomi seperti dirinya.

"Ribuan orang itu di mana shalat Zhuhur, Ashar, Maghribnya? Dari tadi masih pada di situ terus….” [Foto: Syakur]

“Ribuan orang itu di mana shalat Zhuhur, Ashar, Maghribnya? Dari tadi masih pada di situ terus….” [Foto: Syakur]

Dimana Mushalla?

Sementara itu di atas kereta kuda, Jokowi-JK yang sama-sama mengenakan kemeja putih tampak sumringah disambut masyarakat. Iring-iringannya pun mendekati Monas sekitar pukul 14.10 Wib. Saat itu waktu shalat Ashar tidak lama lagi tiba. Awak hidayatullah.com pun memutuskan untuk singgah shalat di area Parkir IRTI Monas, Jl Medan Merdeka Selatan. Awak media ini beberapa waktu sebelumnya pernah shalat berjamaah di mushalla Parkir IRTI. Namun rupanya, kini mushalla di situ sudah tak ada.

“Dulu ada (mushalla di sini). Sekarang udah nggak. Kalau mau shalat coba di samping situ,” ujar seorang pekerja di kawasan IRTI kepada media ini seraya menunjuk ke dalam pagar taman selatan Monas.

Sempat kecewa, media ini pun bergegas keluar pagar IRTI, lalu masuk ke area taman Monas. Tapi di taman itu sama sekali tidak tampak adanya mushalla atau pun aktifitas shalat. Massa yang hadir seperti sedang berpiknik. Padahal waktu Ashar sudah masuk. Suara azan tak terdengar lagi, kalah nyaring dengan dentuman suara musik dari panggung utama pesta jelang konser Salam 3 Jari di halaman Monas.

Bersama Daen, awak media ini pun bermaksud shalat di area tugu Monas. Di situ selama ini memang terdapat mushalla. Dalam perjalanan menuju tugu, melintaslah seorang petugas patroli Monas di taman dekat Silang Barat Daya. Kami pun menanyakan kepadanya siapa tahu ada tempat khusus shalat.

Namun jawabannya agak mengecewakan. Menurut Budi, petugas berseragam dan bersepeda motor itu, tidak disediakan tempat shalat di area pesta Syukuran Rakyat itu.

“Adanya di Gambir. (Di sini) nggak ada,” terangnya sembari menunjuk Stasiun Gambir yang terletak 200 meteran dari tempat kami bertanya. Jarak segitu terasa jauh ditempuh ketika azan Ashar telah berlalu cukup lama. Saat itu sudah lewat jam 3 sore. Untuk menuju Gambir, kami harus keluar lagi dari area Monas melalui pintu Silang Tenggara.

Setelah berjalan kaki belasan menit, kami pun tiba di Masjid at-Tanwir, Stasiun Gambir. Di sini tampak hilir mudik sejumlah massa peserta pesta, baik yang akan, sedang, maupun yang telah melaksanakan shalat. Seorang pria pendukung presiden-wapres baru Indonesia yang kami temui di Masjid at-Tanwir mengaku, ia tak menemukan tempat shalat di kawasan Monas.

“Nggak ada kayaknya. (Iya) nggak ada (tempat shalatnya)!” tegas pria berbaju kaos dengan gambar dan tulisan “Jokowi & JK” itu.

Usai shalat di at-Tanwir, kami kembali ke Monas memantau situasi pesta. Beberapa saat kemudian, matahari tampak mulai turun ke peraduannya. Maghrib tak lama lagi menjelang. Sebelum kejadian telat shalat tadi terulang, awak media ini bergegas pergi menuju arah Masjid Istiqlal tak jauh dari Monas.

Esoknya, Selasa (21/10/2014), banyak kritikan masyarakat terlontar atas pesta tersebut, khususnya di media sosial. Ada yang kecewa karena kehabisan makanan gratis. Ada pula yang mempertanyakan pelaksanaan shalat ribuan massa Syukuran Rakyat yang diyakini mayoritas Muslim itu.

Misalnya, akun Facebook bernama Achmad Rifa berkomentar, “Ribuan orang berkumpul di Monas bergembira menyambut pelantikan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden yang baru. Mereka penuh harap adanya perubahan dan perbaikan kehidupan rakyat Indonesia. Selamat kepada Bapak Ir H Joko Widodo dan Bapak Drs H Muhammad Jusuf Kalla semoga sukses memimpin Indonesia. Serta menjadikan Indonesia Hebat. Tapi, ribuan orang itu di mana shalat Zhuhur, Ashar, Maghribnya? Dari tadi masih pada di situ terus….”

“Mestinya difasilitasi panitia supaya pada shalat dulu. Baru ada tanda-tanda Revolusi Mental,” timpal akun lain bernama Yosep Riana terkesan menyindir slogan pendukung Jokowi itu.*

Rep: Muhammad Abdus Syakur
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Al Azhar, Orang-Orang Tunanetra dan Louis Braille

Al Azhar, Orang-Orang Tunanetra dan Louis Braille

Islam di Hati Luo Xiang Fei

Islam di Hati Luo Xiang Fei

Warga Hindu Memprotes Guru Muslim yang Mengenakan Abaya

Warga Hindu Memprotes Guru Muslim yang Mengenakan Abaya

Viking Dan “Harta Karun” Islam [Bagian 2]

Viking Dan “Harta Karun” Islam [Bagian 2]

Skandal dan Kriminal Paus Borgia [3]

Skandal dan Kriminal Paus Borgia [3]

Baca Juga

Berita Lainnya