Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Feature

Bertafakur di ”Gunung Moshaddeq”

Gerbang Wana Gunung Bunder
Bagikan:

SHALAT Subuh berjamaah baru saja usai. Udara begitu dingin. Suhunya berkisar antara 18 – 23 celcius. Embun terlihat menempel di kaca jendela vila yang dijadikan tempat shalat berjamaah.

Para jamaah yang sebagian besar anak-anak usia sekolah dasar tidak beranjak dari tempat duduknya. Mereka terlihat antusias menyimak tausyiah dan muhasabah yang diberikan salah seorang guru mereka. Udara yang sejuk membuat segelintir dari anak-anak itu tak kuasa menahan kantuk. Maklum suhu udara yang saat itu mereka rasakan berbeda sekali dengan suhu udara di kota mereka biasa beraktivitas.

Cuplikan kehidupan ini bukanlah di sebuah panti asuhan. Bukan pula di pondok pesantren. Aktivitas apakah ini?

Ini adalah sebuah acara pelatihan motivasi anak-anak dhuafa yang digelar oleh Yayasan Al Mustadh’afiin (YAM) Jakarta di Desa Gunung Bunder 2 Salak Endah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Hidayatullah.com berkesempatan mengikuti acara yang berlangsung dua hari pada akhir Januari lalu itu.

Salim Abdullah, Ketua YAM, mengatakan bahwa acara tersebut bertujuan untuk memompa semangat anak-anak dhuafa dalam meraih mimpi dan cita-citanya. “Persoalan anak-anak dhuafa adalah minimnya kerpercayaan diri. Mereka minder dengan kemiskinannya itu. Untuk itu semoga acara ini menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak,” kata Salim.

Gunung Bunder dikenal sebagai kawasan yang berudara sejuk. Daerah yang sempat dijadikan tempat pertapaan Ahmad Moshaddeq, seseorang yang mengaku nabi itu juga memiliki panorama alam yang eksotik. Itu sebabnya pengurus YAM memutuskan pelatihan motivasi diadakan di sana.

“Selain outbond, kami ingin mengajak peserta untuk bertafakur atas ciptaan Allah berupa alam yang indah ini,” kata salah seorang pengurus YAM, Muhammad Irfan kepada hidayatullah.com.

Tafakur sendiri merupakan kegiatan berfikir dan merenungi secara mendalam. Tafakur berarti bagaimana kita sebagai hamba Allah selalu memikirkan, merenungi akan kekuasaan Allah yang meliputi langit bumi beserta seluruh ciptaan-Nya.

******

Matahari mulai menampakkan diri. Jam di handphone menunjukkan pukul 6.45 WIB. Para peserta bersiap melakukan perjalanan outbond ke air terjun (curug) yang berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat penginapan mereka. Sepanjang perjalanan menuju curug yang terlihat adalah hamparan sawah dan kebun yang hijau. Seperti informasi yang hidayatullah.com dapatkan, sebagian besar masyarakat Gunung Bunder berprofesi sebagai petani dan peternak.

Rute jalan yang berkelok dan menanjak juga menjadi sensasi yang tak pernah terlupakan.Tidak ada macet. Tidak ada polusi seperti di Jakarta. Udara di dalam bus sewaan yang ditumpangi hidayatullah.com begitu sejuk, meski tidak memiliki AC (alat pendingin ruangan).

Sesaat sebelum sampai di Curug terdapat barisan pohon pinus yang tinggi dan kokoh. Daun dan ranting pohon-pohon itu menutupi langit-langit hingga berbentuk seperti atap perteduhan. Ketika memasuki kawasan konservasi alam itu kita akan sulit menjumpai sinar matahari. Suasananya benar-benar damai dan sejuk.

Mungkin itu sebabnya Moshaddeq memilih tempat ini untuk melakukan pertapaan.

*****

Menyoal tempat pertapaan Moshaddeq, hidayatullah.com sempat berbincang dengan Juanda, Kepala Desa (Lurah) Gunung Bunder 2. Juanda mengatakan bahwa tempat pertapaan Moshaddeq bukan berada di wilayah kekuasaannya. Pertapaan itu berada di Desa Gunungsari, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Namun entah mengapa, nabi palsu itu lebih suka menyebut, telah menerima wahyu di Gunung Bunder. Desa Gunung Sari maupun Desa Gunung Bunder sama-sama berada di Kecamatan Pamijahan.

“Jarak dari sini (rumah Lurah Juanda) ke sana (pertapaan Moshaddeq) sekitar 4 kilometer,” kata Juanda.

Meski begitu, kejadian ini, kata Juanda, juga berdampak negatif ke Desa Gunung Bunder 2. “Ya, desa ini sempat dianggap sarang aliran sesat. Namun, Alhamdulillah warga desa ini tidak ada yang menjadi jamaah al-Qiyadah al-Islamiyah (jamaah besutan Moshaddeq),” jelasnya.

Juanda berkisah, sebelum kasus ini terungkap, ia menerima laporan intelijen yang mengatakan ada seseorang mengaku nabi yang melakukan pertapaan di salah satu vila. Namun, laporan itu tidak menyebutkan letak vilanya.

Juanda beserta warga lalu menindaklanjuti laporan ini dengan mengamati vila-vila yang memang bertebaran di kawasan Gunung Bunder. “Ketika itu hampir setiap malam kami mengamati aktivitas vila-vila yang ada di sini, apakah mencurigakan atau tidak,” terang Juanda.

Selain kasus Moshaddeq, Desa Gunung Bunder 2 juga sempat “dikotori” oleh Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI).

“Kasus Ahmadiyah ada di sini. Bahkan di bawah sana warga memasang tulisan pengumuman bahwa Ahmadiyah dilarang melintasi wilayah ini,” terang Juanda seraya menunjukkan lokasi yang dimaksud.

Juanda mengaku geram dengan keberadaan JAI. Tidak menjadi masalah, kata Juanda, bila JAI tidak mengaku bagian dari Islam.

Juanda mengatakan bahwa maraknya kasus-kasus aliran sesat tidak terlepas dari keberadaan vila-vila. “Karena di sini tempat tujuan wisata, maka sulit sekali kami mengetahui tujuan mereka ke sini,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi bahaya aliran sesat pada masa mendatang di Kecamatan Pamijahan dibentuklah organisasi bernama Format yang beranggotakan para ulama dan tokoh Islam. “Organisasi ini rutin menggelar pengajian kitab kuning,” kata Juanda.

*****

Entah apa yang terfikir dibenak Moshaddeq ketika itu? Mengaku Islam, tetapi juga mengaku nabi. Meski mengaku Islam, tentu Moshaddeq ketika berada di Gunung Bunder bukan dalam upaya bertafakur kepada Allah. Melainkan sedang melakukan pertapaan dengan memanfaatkan keindahan dan kedamaian alam milik Allah.

Karena bertafakur bukanlah berkhayal dan berangan-angan kosong, bukan memikirkan keduniaan yang tak berujung. Tetapi mengarahkan kita untuk memikirkan semua fenomena alam dan kaitannya dengan menguatkan keimanan. Bukan malah mengaburkan keimanan.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa mereka.”. (al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 190-191) .*/hidayatullahl.com

Rep: Ibnu Syafaat
Editor: Syaiful Irwan

Bagikan:

Berita Terkait

47 Orang Filipina Bersyahadat Lewat Telepon dari Makkah

47 Orang Filipina Bersyahadat Lewat Telepon dari Makkah

Asa Muslimah Kembali ke Penjara Berdakwah

Asa Muslimah Kembali ke Penjara Berdakwah

Tak Putus Didoakan Ibu, Anak Bandel Berubah Drastis

Tak Putus Didoakan Ibu, Anak Bandel Berubah Drastis

Tidak Kutemukan Tuhan di Dalam Musik

Tidak Kutemukan Tuhan di Dalam Musik

Yangon, dari Budaya Longyi sampai Parkir Gratis

Yangon, dari Budaya Longyi sampai Parkir Gratis

Baca Juga

Berita Lainnya