Rabu, 24 Maret 2021 / 10 Sya'ban 1442 H

Feature

Melengkapi Spirit Perjuangan di Pernikahan Mubarak

Saat Khutbah nikah
Bagikan:

Hidayatullah.com–Ahad (26/12) matahari bersinar terang. Sempurna, menyinari kampus yang masih lekat dengan suasana alam ini. Hari yang cerah. Secerah wajah-wajah peserta Pernikahan Massal Mubarak angkatan ke-II di ruang utama Masjid Agung Ummul Quraa Pondok Pesantren Hidayatulllah Kota Depok, Jawa Barat.    

Sang penghulu dari Kecamatan Sukmajaya, H. Syamsuri, hadir tepat waktu mengendarai motor. Mengenakan batik sulaman kuning, sisiran klimis dibalut kopiah hitam, berkacamata, ia menenteng tas besar. Syamsuri disambut hangat pagar “ayu”.

Sepanjang acara akad nikah, keringat tak berhenti mengucur dari dahi pria yang sudah beruban ini. Ia menuntun para peserta mengucapkan akad nikah. Tidak ada pengulangan. Lancar. Tandas. Hanya memakan waktu sekitar 1 jam saja untuk 6 orang mempelai.  

Sementara di sisi yang lain, senyum mengembang sempurna di wajah 6 orang pasang santri putra dan putri Pondok Pesantren Hidayatullah dari berbagai wilayah di Jawa Barat ini.

Mereka berjejer rapi, duduk bersila di shaf paling depan. Pakaian putih-putih yang dikenakan, ditambah hiasan bunga di dada kiri, menampakan kebersahajaan. Bersih kemilau.

Pun demikian dengan mempelai wanita. Di dampingi ibu pendiri Hidayatullah Ustadzah Aida Chered, keenam mempelai berada tidak jauh dari mempelai laki laki. Tidak bersanding. Memang beginilah pernikahan di Hidayatullah. \”Dikepung\” puluhan ibu-ibu, mempelai wanita tampak kepanasan. Kipas yang tersedia tidak cukup untuk mengusir hawa itu. Tapi yang pasti, senyum mereka terus mengembang. Matanya berbinar-binar.

Keluarga besar keenam mempelai hadir sebagai sahibulbait bersama ratusan undangan, menjadi saksi hari bersejarah pada acara yang sudah menjadi tradisi ormas Hidayatullah ini sejak dahulu.

Acara berjalan lancar. Namun sempat terjadi “kecelakaan” kecil saat menjelang akad nikah. Amri Kasim bin Kasim Thahir, 24 tahun, asal Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur, salah satu peserta yang duduk di urutan akhir mengikrarkan akad, tampak kerap kali menundukkan pandangan seraya menjejali jari jemarinya. Sesekali ia mengumbar senyum jumawa. Ratusan pasang mata yang menatapnya ketika itu membuat dirinya sedikit grogi.

“Iya, tegang. Campur bahagia,” katanya kepada Hidayatullah.com, ketika ditanya perasaannya.

Surat Belum Lengkap

Dari 6 peserta itu, Amri ternyata peserta yang belum lengkap betul mengurus administrasi. Waktu yang mepet dan penawaran menikah yang mendadak, dekat sebelum acara dihelat, membuat pria murah senyum ini agak keteteran mengurus surat-surat.

Tak pelak, hingga detik-detik akad, surat belum jua tiba di tangan penghulu. Amri diserang rasa galau di hati. Penghulu masih bertanya-tanya perihal surat-surat administrasi.

“Saya belum terima semua berkasnya,” kata penghulu.

Surat sebenarnya telah selesai diurus, tapi karena kendala teknis, surat-surat pun belum dapat diterima hingga hari-H tiba.

Panitia menjelaskan duduk persoalan kepada penghulu. Sementara hadirin menunggu, suasana kian henyak. Akhirnya penghulu siap menikahkan dengan syarat, surat harus segera diurus dan menyusul secepatnya.

\”Saya pikir, saya tidak jadi nikah. Namun ternyata, Alhamdulillah, semua dimudahkan,\” ucap Amri penuh syukur.

Amri adalah dai yang bertugas di Pesantren Hidayatullah Karawang, Jawa Barat. Dia guru di sana. Sebelumnya, ia tak tahu menahu siapa sebenarnya kelak wanita yang akan menjadi istrinya. Sebab hal ini memang hanya diketahui oleh panitia. Sedangkan peserta hanya bisa mengetahui nama pasangan mereka jelang beberapa hari pernikahan. Amri akhirnya mempersunting dara cantik asal Surabaya, Anjasari Kustantia.

“Pacaran itu memang terasa indah setelah menikah,” selorohnya sumringah.

Ustadz Nasfi Arsyad, Lc dalam taushiah pernikahan, memaparkan, pernikahan massal mubarak yang telah sejak lama menjadi tradisi Pesantren Hidayatullah ini tak sekedar ingin tampil beda dari yang lain. Namun ada muatan dakwah dan perjuangan di sana.

Paling tidak, kata Nasfi, ada 3 hal yang menjadi dasar pijakan pernikahan yang digelar Hidayatullah selama ini.

Pertama, kata dia, pernikahan di Hidayatullah adalah pernikahan untuk membedakan antara pernikahan yang digelar oleh orang Muslim dan bukan orang Muslim.

Kedua, orang yang menikah di Hidayatullah dengan pesertanya yang tidak saling kenal sebelumnya, tidak ada pacaran, adalah untuk membedakan antara orang yang mengerti Islam dan orang tidak paham Islam.

Ketiga, orang yang menikah di Hidayatullah adalah mereka yang paham dakwah dan perjuangan dalam menegakkan peradaban Islam.

“Allahuyarham Abdullah Said tentu saja tidak sekedar mau tampil beda dengan mengadakan pernikahan massal mubarakah semacam ini, tapi ada nilai-nilai perjuangan di dalamnya,” kata salah satu Pengurus Pusat Hidayatullah ini.

Peserta Pernikahan Massal Mubarak ini adalah Ahmad Maghfur dengan Emi Nur Aqidah, Edirman dengan Imroatus Sholehah, Usman Abdul Hamid dengan Khairunnisa, Yusran Yauma dengan Hariyanti, Rusdin Mancu dengan Firliwati Hippy, dan Amri Kasim dengan Kustantia Anjasari.

Peserta pernikahan ini relatif anak-anak muda. Semoga spirit perjuangan kian membara, ditemani sang kekasih hati. Amiiin. [ain/www.hidayatullah.com]

Rep: Ainuddin Chalik
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sang Penjaga Terakhir Masjid Al-Aqsha

Sang Penjaga Terakhir Masjid Al-Aqsha

Bermula dari Motor Mogok

Bermula dari Motor Mogok

Kisah Mantri Muslim “Menjaga” Kesehatan Masyarakat Pedalaman Papua [2]

Kisah Mantri Muslim “Menjaga” Kesehatan Masyarakat Pedalaman Papua [2]

Kisah dari Dunia Karpet

Kisah dari Dunia Karpet

“Saya Lebih Baik Kehilangan Jabatan daripada tak Bisa Membela Kesucian Al-Qur’an”

“Saya Lebih Baik Kehilangan Jabatan daripada tak Bisa Membela Kesucian Al-Qur’an”

Baca Juga

Berita Lainnya