Jum'at, 9 Juli 2021 / 29 Zulqa'dah 1442 H

Feature

Dakwah di Jembatan Victoria Park

Doa bersama setelah oengajina
Bagikan:

Hidayatullah.com–Hidup dinegara orang, dalam keadaan tertekan dan penuh kesibukan, tak membuat BMI (Buruh Migrant Indonesia) Hong Kong patah semangat dalam menuntut ilmu. Disela-sela waktu indahnya menikmati liburan, mereka menyisihkan waktu untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa melalui kegiatan organisasi.

Adalah Ar rahmah, organisasi yang terdiri dari kumpulan beberapa Muslimah Indonesia di Hong Kong, berdiri sejak tiga tahun lalu dibawah jembatan di salah satu sudut taman Victoria Park, Causeway Bay.
 
Kegiatan dakwah mereka meliputi kajian kitab kuning ‘Safinatun Najjah’, belajar tajwid, dan mengaji.  
 
“Kami melakukan kajian rutin sabtu malam, melalui telpon, pembimbingnya ustazd Indonesia, dalam satu waktu telpon bisa diconference hingga lima atau enam orang, lalu minggunya baru disharingkan kebanyak anggota Ar Rahmah,” Ujae Ely sang Ketua Ar Rahmah.
 
Kendala terbesar bagi pengurus Ar Rahmah, menurut penuturan Ely adalah perbedaan pendapat.
 
“Kami sering adu argumen saat mencari solusi, namun Alhamdulillah semua dari kami mampu membuang ego dan bisa lapang menerima tiap perbedaan, sehingga kami selalu mendapat pemecahan dari segala permasalahan yang menyangkut keorganisasian,” jelas wanita  asal Cilacap tersebut.
 
Rokiah, sekertaris Ar Rahmah punya cerita unik mengenai kiprah dakawahnya. Selain mengaji, mereka juga ikut bergulat melawan gerakan pemurtadan. 
 
“Tantangan dakwah yang cukup berat bagi kami adalah saat terbentur kasus pemurtadan, sebagai upaya mencegah gugurnya akidah, maka kami adakan pembinaan seperti ini, dan kami juga membuang pintu seluas-luasnya bagi siapa yang ingin ikut belajar bersama kami,” ujar Rokiah kepada hidayatullah.com.
 
Yang tak kalah megagumkan dari para Muslimah ini adalah, di balik kelembutan hijab yamg dikenakan, mereka bisa tampil garang dan penuh keberanian bila memperjuangkan hak-hak buruh yang ditindas pemerintah Indonesia.
 
Ar Rahmah selalu tampil bersama GAMMI (Gabungan Migrant Muslim Indonesia) dan ATKI (Aliansi Tenaga Kerja Indonesia dalam menggalang aksi demonstrasi memprotes konsulat Indonesia.
 
“Amar ma’ruf nahi munkar adalah tujuan kami,” ujar Ely.
 
“Saya sangat menyukai aksi-aksi yang diadakan GAMMI, semangat membela dan memperjuangkan hak-hak BMI yang terampas pemerintah adalah suatu bentuk aksi yang memberi nilai lebih bagi prestasi gemilang BMI,” ujar  Ibu satu anak itu menjelaskan.
 
Sebuah potret mengagumkan.  Di tengah kesibukan mereka mengumpulkan uang untuk keluarga, mereka masih juga masih menyempatkan dakwah. [yul/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Transeksual di Iran: Sebuah Hukum Liberal di Negeri Mullah [1]

Transeksual di Iran: Sebuah Hukum Liberal di Negeri Mullah [1]

Selamatkan Mualaf yang Mau Dibakar, Peti Mayat pun Dibongkar

Selamatkan Mualaf yang Mau Dibakar, Peti Mayat pun Dibongkar

Jelang Ramadhan, Muslim Soagimalaha, Iuran Membangun Masjid

Jelang Ramadhan, Muslim Soagimalaha, Iuran Membangun Masjid

“Alhamdulillah, Pertama Kalinya Dibolehkan Shalat Jumat”

“Alhamdulillah, Pertama Kalinya Dibolehkan Shalat Jumat”

Saudara Ipar Pembawa Kematian!

Saudara Ipar Pembawa Kematian!

Baca Juga

Berita Lainnya