Ahad, 28 November 2021 / 23 Rabiul Akhir 1443 H

Feature

Madinah Al-Zahrah Awal Arsitektur Islam Andalusia

Bagikan:

Hidayatullah.com–Tahukah Anda bahwa penggalian Madinah Al-Zahra, istana peninggalan budaya Islam dari abad ke-10 di dekat Cordoba, dimulai sejak 100 tahun silam?

Hingga kini ekskavasi situs kota bersejarah peninggalan khalifah Abdurrahman III itu baru mencapai 11%. Namun, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi ekskavasi, tidak dibutuhkan waktu hingga berabad lagi untuk memunculkan kembali kota tersebut.

Teknik-teknik baru seperti pencitraan jauh, yang sedang digunakan untuk lebih mendalami situs seluas 115 hektar itu, merefleksikan perkembangan teknik pembangunan yang digunakan di sana seribuan tahun silam, yang kemudian dikenal sebagai ciri khas arsitektur gaya Andalusia.

Sebuah museum yang selesai dibangun pada 2008 di dekat lokasi, dan masuk dalam daftar Aga Khan Award untuk arsitektur tahun ini, menjadi basis kegiatan penelitian dan restorasi benda-benda yang ditemukan di situs arkeologi tersebut.

Arkeolog Ramon Fernandez menunjukkan sisa-sisa istana tempat tinggal khalifah. Istana tersebut berdiri di tempat yang lebih tinggi dari bagian kota lainnya, sehingga memberikan kelebihan pada suasana psikologis sang penguasa, yang dapat dibanggakan kepada para bawahan, kolega, dan duta dari negeri-negeri asing.

“Menempatkan istananya 5km di luar kota Cordoba, (berarti) memaksa orang-orang penting/pejabat melakukan perjalanan keluar dari ibukota politik, budaya dan pemerintahan Andalusia,” paparnya.

“Markas besar khalifah yang sangat memesona itu terletak di sebuah gunung, yang bisa dilihat dari kejauhan. Pada masa sekarang mungkin sulit untuk merasakan perbedaannya, tapi pada abad ke-10, tempat itu menjadi kota yang paling hebat di bumi.”

Istana khalifah dibuat dari bahan material yang tahan lama dan mahal, seperti gading, marmer, mutiara dan emas, hal itu membawa pengaruh yang sangat lama terhadap seni dan desain. Khalifah menggunakan kekuatan budaya, untuk mengatakan pada dunia bahwa dirinya adalah seorang penguasa yang tidak terbantahkan di kawasan Afrika Utara dan Semenanjung Iberia, yaitu dengan merevolusi arsitektur yang sudah ada sebelumnya.

Antonio Vallejo, direktur yang mengepalai situs sejarah dan museumnya itu, membenarkan hal tersebut. Katanya, gaya arsitektur klasik Andalusia, pertama kali dikembangkan di Madinah Al-Zahra.

“Ciri-ciri khasnya muncul pertama kali di sini, di bangunan-bangunan ini,” ujar Vallejo. Ciri-ciri arsitekturnya ada di bagian halaman, luar dan di dalam bangunan. Tempat seperti teras dan taman serta portico, menjadi bagian dari gaya arsitektur di kemudian hari, bahkan ciri-ciri khas tersebut bisa dilihat pada karya arsitektur zaman sekarang.

Diperlukan waktu 30 tahun untuk membangun kompleks istana tersebut, di mana jumlah penduduk pada abad ke-10 saat itu sekitar 200.000 orang.

Para seniman didatangkan dari berbagai pelosok negeri Islam untuk membangun kota tersebut, yang kemudian menjadi model bagi pembuatan bangunan-bangunan terkenal lainnya, seperti istana Al-Hambra di Granada, Spanyol.

Pakar geometrinya didatangkan dari Iraq, yang bekerjasama dengan tukang batu paling mahir pada masa itu, menghasilkan karya arsitektur luar biasa.

Immaculata Munoz Matuta, teknisi restorasi di situs Madinah Al-Zahra, menunjukan sebuah papan marmer besar yang berasal dari kamar mandi khalifah.

Papan marmer tersebut dihiasi dengan dekorasi motif daun dan tetap utuh selama lebih dari seribu tahun.

“Sangat fantastis, karena ukurannya sangat besar dan berat. Belum lagi diukir dengan cara yang sangat halus dan detil, sehingga serasi dengan motif yang ada di dinding,” jelas Matuta.

“Dekorasi di Alhambra dibuat dari semen, tapi hasil karya di sini sangat rumit dan memakan waktu lama karena semuanya terbuat dari batu,” tambah wanita itu.

Sebagaian potongan arsitektur sudah dibersihkan, diperbaiki, dan dikembalikan ke situs bersejarah tersebut. Sementara sebagian lainnya dipajang di museum.

Sangat berbeda dengan istana Madinah yang sangat tinggi, bangunan museum yang terletak di dekatnya hanya setinggi satu tingkat, dan menggunakan ruang bawah tanah yang luas untuk penyimpanan dan perbaikan.

Vallejo yang sudah bekerja di tempat bersejarah itu selama lebih dari 25 tahun, mengatakan bahwa hubungan antara situs dan museum yang ada di sana unik. Karena museum digunakan secara penuh untuk menunjang konservasi dan menjelaskan tentang Madinah Al-Zahra.

Kota yang dibangun Khalifah Abdurrahman Al-Dakhil itu hanya berumur singkat. Setelah pembangunan selama 30 tahun, kota terabaikan karena terjadi perang sipil dan dinasti yang berkuasa tumbang. Namun reputasinya tetap menggema. Menurut Ramon Fernandez, Madinah Al-Zahra menjadi simbol keagungan sekaligus takdir.

Banyak orang berusaha mendapatkan kenang-kenangan dari legitimasi dinasti besar yang tumbang itu dengan menjarah barang-barang peninggalannya. Madinah Al-Zahra, menjadi simbol keseimbangan yang menarik, yaitu antara kekuasaan yang besar dengan kepunahan menyeluruh, yang terjadi hanya dalam kurun waktu 70 tahun kemudian. [di/bbc/hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Ismi, Penderita Hisprung Bisa Tersenyum Kembali

Ismi, Penderita Hisprung Bisa Tersenyum Kembali

Di Ujung Jalan Berliku Terdapat Telaga Kedamaian

Di Ujung Jalan Berliku Terdapat Telaga Kedamaian

‘Alhamdulillah, Bayiku Kencing’

‘Alhamdulillah, Bayiku Kencing’

Membela Akidah di Kampung Laut

Membela Akidah di Kampung Laut

Hatinya Tak Tenang, Pria Ini Kembalikan Laptop Temuan

Hatinya Tak Tenang, Pria Ini Kembalikan Laptop Temuan

Baca Juga

Berita Lainnya