Kamis, 25 Maret 2021 / 11 Sya'ban 1442 H

Feature

Emrin Cebi; ‘Ibu’ 16 Ribu Yatim di Belasan Negara

Bagikan:

Hidayatullah.com & Sahabat Al-Aqsa–Di Atas Mavi Marmara—Jumat 29 Mei, 2010. Matahari mulai tergelincir ke Barat dan Mavi Marmara berhenti sekitar 180 mil dari garis pantai Gaza untuk menanti bergabungnya kapal-kapal barang dan penumpang yang datang dari beberapa arah yang berbeda.

Di salah satu sudut dek, gadis mungil bermantel dan berkerudung hitam ini duduk tenang membaca Al-Quran. Senyumnya manis menjawab salam kami. Mari berkenalan dengan Emrin Cebi, pendiri unit penyantunan anak yatim di Insani Yardim Vakfi (IHH)…

Pada tahun 2004, Emrin bertemu dengan pimpinan IHH Fahmi Bulent Yildirim dan menawarkan dirinya untuk bekerja sebagai relawan. “Kenapa hanya jadi relawan?” tanya Bulent. “Bergabunglah dengan IHH full time.

Itulah yang dilakukan Emrin yang ketika itu baru saja kembali dari Malaysia sesudah menamatkan studinya di bidang ilmu politik di IUM di Kuala Lumpur, Malaysia. Tugas pertamanya adalah menjadi periset di unit research and development dan di situlah dua tahun lamanya dia bekerja keras. Sampai “Allah menentukan nasib lain bagi saya” yaitu mendirikan unit penyantunan anak yatim pada tahun 2006. “Saya tidak diberitahu harus melakukan ini atau itu. Pimpinan saya hanya mengatakan, buatlah sistemnya. Jadi saya harus memulai dari nol,” tutur Emrin.

Emrin lalu belajar benar dari semua kerja sosial lainnya yang sudah dikerjakan oleh IHH di lebih dari 100 negara dan mendapati bahwa tidak sedikit masyarakat Muslim di Eropa yang sangat mementingkan penyantunan anak yatim lewat program sponsorship.

Maka dengan seorang kawannya di IHH, Emrin mulai menyiapkan mekanisme penyantunan tersebut, diawali dengan Iraq dan Gaza. Ketika itu di Gaza sudah ada sejumlah yatim yang disponsori oleh masyarakat Muslim yang berada di Eropa. Emrin lalu mencari anak-anak yatim yang belum memiliki sponsor. Diumumkannya lewat berbagai media, termasuk televisi dan website IHH, bahwa IHH membuka program sponsorship ini. Masuklah 200 lamaran dari berbagai negara, terutama dari Turki.

Termasuk dalam sistem yang dibangun oleh Emrin adalah membuat database anak-anak yatim, database keluarga sponsor, melakukan matching antara anak dengan keluarga sponsor, memastikan adanya kontak personal antara si yatim dengan keluarga sponsor lewat informasi dan pengiriman foto berkala, serta memastikan keberlangsungan sponsorship itu sejak awal sampai seorang anak yatim mengikuti pendidikan di universitas.

“Kami tanya kepada para pelamar sponsorship program itu apakah mereka berkomitmen untuk membiayai si yatim sampai pendidikan mereka selesai, karena memang kami menetapkan bahwa program ini berlangsung sampai si anak masuk perguruan tinggi,” cerita Emrin. “Karena alasan itulah maka kami beritahu kepada para orangtua dan keluarga sponsor untuk memilih anak-anak asuh mereka, misalnya yang berprestasi.”

Hal yang sama dilakukan Emrin di Lebanon dan dalam waktu kurang dari dua tahun program sponsorship ini pun berkembang luas. Kini anak-anak Emrin tersebar di Gaza, Iraq, Kosovo, Macedonia, Albania, Burkina Faso, Sierra Leone, Somalia, Sudan, Ethiopia, Aceh, Pakistan, Sri Lanka, di kalangan Muslim Arakan di Bangladesh, di kalangan Muslim di Filipina dan di Zanzibar.

Total jumlah anak Emrin saat ini adalah 16 ribu orang, termasuk lebih dari 6 ribu di Gaza.

“Beberapa saat sesudah penyerangan Israel ke Gaza pada akhir 2008 dan awal 2009, kami kebanjiran lamaran menjadi sponsor anak yatim Gaza,” cerita Emrin. “Dalam waktu tiga bulan, kami menerima lebih dari 6000 lamaran untuk menjadi sponsor bagi anak-anak yatim di Gaza.”

Jembatan

Emrin menggambarkan kerjanya di unit yatim di IHH adalah sebagai “jembatan.” “Para sponsor kami datang dari berbagai negara, terutama dari Turki tapi juga dari Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa. Kami berfungsi sebagai jembatan antara si yatim dengan para keluarga mereka.”

Bagaimana cara melamar menjadi sponsor anak yatim Gaza? Mudah, kata Emrin. Cukup mengisi formulir aplikasi yang disediakan di website IHH, termasuk menetapkan kapan ingin memulai sponsorship, dan mengirimkan dana sebesar sekitar US$ 40 per bulan. “Begitu Anda mengirimkan dana, kami akan memulai prosesnya. Anda bahkan bisa memilih dari benua mana anak yatim yang Anda sponsori berasal, dari Timur Tengah, dari Balkan, Afrika, Gaza…”

Penyesalan

Ketika bercerita tentang program yatimnya, Emrin tampak bersemangat sekali. Padahal, pada awalnya, dia sebenarnya tidak berminat melakukan tugas itu. “Bekerja di unit yatim IHH ini bukan pilihan saya,” tuturnya. “Saya sebenarnya ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan studi saya, yakni ilmu politik. Tapi ketika itu memang sedang sangat dibutuhkan pendirian unit yatim di IHH.”

“Belakangan timbul kesadaran dalam diri saya bahwa ini adalah amanah besar dan kalau saya tidak lakukan, saya akan menyesal (di Padang Mahsyar) nanti,” ujar Emrin. “This is also ‘nasib’ from Allah. Ini nasib dari Allah.”

Pada pandangan Emrin, masyarakat di negeri-negeri Arab lebih peduli kepada anak-anak yatim mereka. “Di Turki kami punya panti-panti asuhan. Tapi tidak ada panti asuhan di Gaza, karena semua anak yatim dilindungi dan dirawat oleh keluarga mereka sendiri!”

Didikan Ayah

Emrin yang tawadhu ini menggambarkan bahwa semangatnya bekerja untuk ummat dibentuk oleh keluarganya. Di masa kecilnya, Emrin sering dibawa oleh ayahnya mengikuti berbagai seminar dan aktivitas yang diselenggarakan organisasi-organisasi pemuda Muslim.

“Ayah saya, Ja’far, yang mengarahkan saya untuk ikut semua aktivitas ini. Saya juga bersekolah di SMA Islam…Ketika itu perang Bosnia pecah dan ayah saya membawa saya ke berbagai seminar, demonstrasi dan banyak lagi. Sesungguhnya kisah hidup saya bermula dari situ karena sesudah itu saya menjadi sangat sadar tentang apa yang menimpa ummat Islam di mana-mana.”

Bersama sejumlah teman perempuannya dalam halaqah-halaqahnya, Emrin lalu aktif memantau dan mengambil bagian untuk membantu kaum Muslimin yang tertindas.

“Kami mengumpulkan dana dengan mengadakan bazaar, demontrasi dan banyak lagi lainnya untuk (ummat Islam di) Bosnia, Aljazair, Indonesia… “

Semua peristiwa di masa-masa kecil dan remajanya itulah yang membentuk pribadi Emrin. “Allah gave me this ‘nasib’ and I follow it. Allah yang memberi saya nasib ini dan saya hanya mengikutinya.”

Ditendang Universitas

Termasuk dalam “nasib” Emrin yang menyebabkan semangatnya berjuang untuk ummat demikian tinggi ini adalah pengalamannya melawan pelarangan hijab di sekolah-sekolah dan di universitas. Emrin berasal dari Tekirdag, sebuah kota di barat daya Turki yang berjarak sekitar 2 jam perjalanan dengan bus.

Pada tahun 1999, ketika Emrin menjalani tahun terakhir studinya di jurusan kimia di universitas setempat, larangan berhijab mulai berlaku. Emrin ndableg dan dengan keras kepala berusaha tetap masuk ke kampusnya – tiga kali dia lakukan itu, dan tiga kali pula dia gagal membuka pintu pagar kampus yang ditutup bagi para Muslimah berkerudung. Pada akhirnya dia menerima secarik surat dari pihak universitas – dia resmi dikeluarkan karena tidak mau membuka hijabnya.

Emrin berangkat ke Istanbul untuk belajar bahasa-bahasa dan di sana pula dia mendengar bahwa ada universitas Islam di Malaysia. Maka saat itu jugalah Emrin memutuskan berangkat dengan seorang kawan perempuan yang bernasib sama.

“Saya tidak pernah mengira akan pergi ke luar negeri..tapi di Istanbul ketika mendengar kabar adanya universitas Islam di Malaysia itu, saya pikir, ‘why not‘?”

“Saya bukanlah seorang perempuan jagoan tanpa takut. Ada rasa cemas sebelum melakukan sesuatu yang tidak biasa. Tapi saya lakukan juga. Alhamdulillah ayah saya sangat mendukung, dan ibu saya, Tunjay, juga tidak mencegah.”

Karena lebih dari empat tahun belajar di Malaysia, tentunya Emrin bisa berbahasa Melayu, bukan? “Sikit-sikit,” tawa Emrin lebar.

Tiada Ikhtilat

Emrin yang pernah aktif di beberapa organisasi itu memutuskan untuk bergabung dengan IHH karena merasa organisasi ini memilih Muslim-muslim berkualitas tinggi untuk menjadi pekerjanya. Dia mencontohkan bahwa secara resmi jam kerja di IHH adalah antara pukul 9:00 sampai 18:30, tapi jarang sekali orang selesai bekerja pada waktu itu. Meski berjam-jam bekerja, tidak ada ikhtilat. Tidak ada campur baur lelaki dan perempuan yang bukan mahram.

“Tempat perempuan terpisah dari tempat kerja lelaki. Kalau pun harus bertemu dan bekerjasama, hijab tetap dipelihara,” tutur Emrin. “Di IHH, manusia sangat dihargai. Dan orang-orang yang ada di IHH peduli pada Islam dan menjalankan Islam.”

Teman-teman Emrin di IHH saling membantu, tidak memperdulikan status dan posisi. “Bahkan orang yang berkedudukan tinggi tidak merasa sulit bekerja dan bergabung dengan pekerja yang lebih rendah,” kata Emrin. “Saya berharap kami bisa terus seperti ini, menjadi orang-orang yang ikhlas dalam bekerja untuk ummat.”

Ingin Mengajar

Meski gembira bekerja di IHH, Emrin merasa bahwa akan tiba masanya dia harus menyerahkan tanggungjawabnya sekarang kepada orang lain, lalu bergerak mengambil amanah lainnya. “Saya ingin menyerahkan pekerjaan saya ini kepada orang lain, lalu saya ingin mengajar,” ujar Emrin. “Saya tidak tahu apakah istilah yang saya pakai ini benar atau tidak, tapi saya ingin ‘memproduksi’ manusia-manusia yang peduli kepada sesama.”

“Saya ingin melihat generasi baru yang lebih baik daripada kami dan mengambil-alih tugas-tugas kami ini. Selama ini kami bekerja dari hati kami, kami memberi dari hati kami, dan kami membangun banyak hal dari nol. Tapi saya ingin ada generasi baru yang lebih baik daripada kami.”

“Kalau kami mati, harus ada orang-orang baru yang lebih baik daripada kami.”

Perempuan Kuat

Satu hal lagi yang Emrin ingin lihat adalah semakin banyaknya Muslimah yang berani memanjat tembok-tembok larangan dalam masyarakat, lalu membangun kekuatan diri mereka untuk menolong ummat. “Bukan seperti konsep feminisme, tapi yang jelas ada batasan-batasan di masyarakat terhadap kaum perempuan yang sebenarnya tidak berdasar Syari’ah,” ujar Emrin penuh semangat.

“Saya ingin kaum perempuan untuk melek dan tidak mengikuti begitu saja dengan membuta. Perempuan sebenarnya cenderung lebih peduli masalah ummat, dan tidak mudah menyerah. Mungkin karena instink keibuan kita. Inilah kekuatan kita.”

“Para Muslimah harus menyadari kekuatan mereka, harus membangun kepemimpinan mereka, jangan takut pada celaan, lalu bekerjasama untuk membantu ummat mengatasi masalah mereka,” ujar Emrin. “Allah yang akan menyatukan kita semua.” [Dzikrullah, Santi Soekanto, Surya Fachrizal/www.hidayatullah.com]

Salurkan Bantuan Anda untuk Palestina melalui; Sahabat Al-Aqsha & Hidayatullah.com

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

Dari Nenek Lansia untuk Silatnas Hidayatullah

Dari Nenek Lansia untuk Silatnas Hidayatullah

“Kami Disetrum, Dipukul, Ditembak”

“Kami Disetrum, Dipukul, Ditembak”

Anak-Anak Gaza Pasca Perang

Anak-Anak Gaza Pasca Perang

Kisah Pengasuh Pesantren Di Tobelo

Kisah Pengasuh Pesantren Di Tobelo

Copet di Eropa Katanya Lebih “Canggih” dari Copet di Indonesia

Copet di Eropa Katanya Lebih “Canggih” dari Copet di Indonesia

Baca Juga

Berita Lainnya