Jum'at, 22 Oktober 2021 / 16 Rabiul Awwal 1443 H

Feature

Jabal Nur, Masjid Eksotis di Lereng Semeru

Bagikan:

Hidayatullah.com–Jarum jam menunjukkan pukul 11.40 ketika azan Zuhur berkumandang. Tak begitu lama, satu per satu jamaah berdatangan. Rata-rata mereka mengenakan sarung yang diselempangkan di badan.

“Dingin mas,” ujar salah satu mereka. Hal itu dilakukan hampir setiap saat, tak terkecuali waktu salat.Tradisi seperti itu untuk menghilangkan hawa dingin. Maklum, mereka adalah suku Tengger yang tinggal di Dusun Puncak, Desa Argosari, Kec. Senduro, Kab. Lumajang, Jawa Timur.

Dusun ini paling tinggi di antara dusun-dusun lainnya di Argosari. Tak pelak, hawa dingin pun sangat menusuk.

Siang itu, Selasa (3/5), mereka salat di masjid yang baru saja dibangun, setelah beberapa tahun lamanya mereka memimpikan masjid itu. Dulu hanya berupa musala berukuran 5 x 5 m berdinding papan dan beratap karung. Bahkan, terkadang menjadi tempat tidur dan kencing kambing.

Masjid itu bernama Jabal Nur. “Jabal” artinya gunung, sedangkan “Nur” adalah cahaya (Islam). Menurut, Ali Farqu Thoha, tokoh dai yang berjasa atas syiar Islam di sana, nama itu sengaja dibuat karena ingin Islam menjadi cahaya di puncak tertinggi di Senduro itu.

Meski tak terlalu besar, sekitar 10 x 8 m, tapi setidaknya cukup jika menampung lebih dari 50 jamaah. Belum lagi di bagian teras luar masjid.

Desain masjid dibuat minimalis, tapi modern. Dihiasi kubah bundar besar, menambah masjid ini penuh wibawa. Apalagi, di pucuk kubah bertuliskan “Allah”.

Seluruh dinding masjid bercat putih dengan keramik lantai berwarna hijau muda. Yang menambah indah masjid ini, posisinya cukup tinggi dibanding dengan rumah-rumah para penduduk. Bagian tangganya dibikin semacam tangga yang berundak-undak tinggi. Eksotis sekali.

Seperti biasa, siang itu kabut tebal turun. Seperti gerimis, kabut tersebut serasa menitikkan beberapa bulir-bulir air. Rasanya menusuk kulit. Apalagi, ditambah gigitan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Tiga lapis baju terasa masih belum cukup menghangatkan badan. Tak hanya itu, karena kabut pandangan hanya berjarak sekitar 20 m. Kontan saja, sejauh mata memandang, warna putih yang terlihat.

Tapi, tak begitu lama, matahari keluar dari awan dan kembali mengeluarkan panasnya. Perlahan, sejengkal demi sejengkal, kabut tebal pun beringsut menjauh. Kini nampak aslinya Dusun Puncak; sebuah puncak di lereng Semeru yang indah. Dan, akan lebih indah lagi jika berdiri di teras masjid. Panorama mengagumkan akan terlihat jelas. Jurang yang menganga begitu terjal di kanan dan kiri.

Masjid itu betul-betul menjadi berkah bagi warga dusun Puncak. Mengingat, bukan hal mudah untuk mendirikannya. Bukan karena dana, tapi juga lahan yang akan dijadikan masjid. Tapi, itu semua berkah setelah mereka hijrah dari Hindu ke Islam. Allah pun mempermudah pendirian masjid tersebut.

Islam Sempat Redup

Ceritanya, sekitar beberapa dekade lalu, warga Dusun Puncak umumnya beragama Hindu. Sekitar 90 persen jumlahnya. Selebihnya Islam.

Tapi sebenarnya, menurut Warsito, salah satu dai, sebenarnya agama mayoritas warga Puncak adalah Islam. Terbukti dengan adanya sejumlah peninggalan berupa musala dan sebagainya. Tapi, setelah ditinggal juru dakwah, Islam di sana pun redup, bahkan mati.

Setelah ada dai kembali berdakwah, lambat laun gelombang masyarakat yang kembali ke Islam semakin besar. Hingga akhirnya dari sekitar 37 KK atau 250 jiwa, hanya 9 KK yang masih tercacat beragama Hindu.

Masuknya mereka ke Islam, tidak terlepas di antaranya dari sosok dai Ali Farqu Thoha. Dai tulen asli Lumajang ini sudah lebih 20 tahun mengabdikan dirinya sebagai juru dakwah.

Ali mengenalkan Islam dari hal yang paling sederhana; mengucap salam. Setiap ketemu dengan warga, selalu mengucapkan salam. Lambat laun, mereka pun terbiasa dan menerima Ali.

Ali sendiri dengan medan pegunungan seperti itu, sering menempuh dengan jalan kaki. Gelap, hujan, dan jatuh sudah menjadi menu yang menemaninya selama berdakwah.

Pernah suatu ketika, pukul 20.00 malam, Ali pulang dari berdakwah dengan mengendarai sepeda motor. Motornya sudah tak layak pakai. Nah, tiba-tiba, dari arah berlawanan datang truk. Karena jalan sempit dan gelap, Ali panik takut keserempet truk. Motornya lalu diarahkan ke bibir jalan. Naas, motor tersebut justru terpleset dan jatuh ke jurang. Untung tak begitu dalam. Tapi cukup membuat sekujur badannya sakit. Lalu motornya pun ditinggal.

Tapi, meski jalan dakwahnya terjal, tetap dilaluinya dengan ikhlas dan sabar. Hal itulah yang dikagumi para warga. Apalagi pembawaan Ali yang humoris, membuat warga akrab dan senang. Warga pun tertarik dengan pesan dakwah Ali.

Seperti yang dialami Karyo Slamet. Warga Hindu dengan dua anak ini memeluk Islam setelah mendapat dakwah dari Ali. Puncaknya, ketika lebaran Idul Fitri, dia mendengar suara takbir dan terkesan hingga menitikkan air mata. Lalu dia pun masuk Islam.

Begitu juga dengan Sukari. Awalnya, dia adalah pemangku Hindu di Dusun tersebut. Namun setelah mendapat hidayah, agama tersebut dia tinggalkan.

“Saya lebih nyaman dan bahagia dengan menjadi Islam,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Belakangan Sukari yang menjadi ujung tombak dan orang terdepan jika ada masalah dengan orang Hindu, termasuk ketika hendak membangun masjid Jabal Nur.

Waktu itu ada orang Hindu yang sengaja ingin membangun pura pas di depan lahan yang hendak dibangun masjid. Sukari pun tak terima jika mas masjid berhadap-hadapan langsung dengan pura. Untuk itu, Sukari meminta agar orang Hindu mau memindah rencana pembangunan tersebut. Walhasil Hindu pun setuju, namun setelah ditukar dengan sebidang tanah miliknya.

Kini, di sebelah timur masjid, sekitar 500 meter, ada Pura. Tapi hingga kini, pura tersebut belum difungsikan.

Dana pembangunan masjid itu pun tidak sedikit. Sekitar Rp 150 juta lebih. Dananya dari berbagai sumber. Ada dari lembaga amil zakat, LSM, swadaya, dan aghniya.

Dana tersebut memang cukup besar. Pasalnya, membawa material bangunan cukup sulit. Harus digotong sejauh sekitar 3 kilometer. Kontan, ketika masa pembangunan tersebut, para mualaf libur kerja selama lima bulan. Akhir Juni depan, jika tidak ada aral melintang, masjid tersebut akan diresmikan oleh Bupati Lumajang.

Kini dengan adanya masjid, Islam di Dusun Puncak makin bercahaya. Masjid tersebut setiap saat selalu ramai dengan kegiatan; salat wajib lima kali sehari, pengajian majelis taklim, dan Taman Pendidikan AlQuran (TPA).

Menurut Ali Farqu, keberadaan masjid tersebut sangat membantu proses dakwah. “Ya, dengan adanya masjid tersebut, dakwah semakin efektif,” ujarnya. Nah, adakah Anda termasuk yang tergerak untuk membantu dana guna menggerakkan dakwah ini? [Syaiful Anshor/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

“Hari Ini Saya Telah Menemukan Jalan ke Surga”

“Hari Ini Saya Telah Menemukan Jalan ke Surga”

Mengenalkan Tauhid di Pedalaman dengan Motor Dakwah

Mengenalkan Tauhid di Pedalaman dengan Motor Dakwah

Al Samaha, Desa Khusus Wanita di Mesir, Pria Dilarang Masuk

Al Samaha, Desa Khusus Wanita di Mesir, Pria Dilarang Masuk

Suku Muslim Bakarwal Tinggalkan Desa, Akibat Kasus Perkosaan Asifa Bano

Suku Muslim Bakarwal Tinggalkan Desa, Akibat Kasus Perkosaan Asifa Bano

Abu Ovan,  Sang “Pemburu” Maksiat TPU Pondok Kelapa

Abu Ovan, Sang “Pemburu” Maksiat TPU Pondok Kelapa

Baca Juga

Berita Lainnya