Berburu Rahmat di Sarang Maksiat

Andai ia bisa memilih, Aminah ingin memilih tinggal di lingkungan yang lebih baik. Apa daya, kondisi belum berubah

Terkait

Hidayatullah.com– Matahari perlahan beringsut ke ufuk barat. Sinarnya masih terasa menusuk kulit. Beberapa anak kecil asyik bermain. Ada yang berlarian di sudut gang sempit. Beberapa berlarian main petak umpet. Sebagian hanya duduk sambil bercanda. Yang pria memakai songkok, sarung, dan tas yang berisi kitab Iqro’ dan Al-Qur’an. Sedang yang perempuan mengenakan kerudung. Sore itu, suasana sangat ramai dan gaduh.

Seperti hipnotis, muncul dua pria muda dari arah selatan gang. Kedatangannya, membuat para santri yang semula bermain bebas dan liar, berhenti. Satu per satu anak-anak yang tadi bermain menghentikan kegiatannya. Mereka merapikan pakaian dan masuk ruangan. “Kak ayo kita ngaji,” teriak seorang santri bernama Taufiq kepada sang ustadz.

Tanpa diberi instruksi, para santri langsung mengerumuni ke dua ustadz tersebut. Untuk memudahkan pengajaran, para santri dibagi menjadi dua kelompok. Untuk santri yang masih belajar Iqro’ dibimbing ustadz Taufiqurrahman. Sedang santri yang telah pandai mengaji Al-Quran diasuh ustadz Iman. Satu per satu mereka mendapat giliran mengaji di hadapan sang ustadz.

Bagi yang belum mendapat giliran, diwajibkan muroja’ah (mengulang) bacaan yang lalu. “Kak, bacaan yang benar ayat ini gimana,” tanya Dwidya Ayu Lestari penuh semangat kepada ustadz Taufiqurrahman. “Aaaliif laaammiiin, bacaannya panjang. Sebab ayat ini termasuk khuruful muqotta’ah (huruf-huruf yang terputus),” jawab Iman dengan lembut. “Makasih ya kak,” balas Ayu sambil mengulas senyum.

Jangan keliru, pemandangan ini bukanlah kegiatan di pondok pesantren atau madrasah. Cerita ini adalah kisah aktivitas setiap sore Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Mushola Raudhotul Jannah. Salah satu tempat ibadah yang berada di Jl. Dukuh Kupang Barat 1 Buntu 3 Surabaya, hanya beberapa meter dari kawasan Gang Dolly dan Jarak.

Dolly atau lebih sering disebut Gang Dolly adalah nama sebuah kawasan lokalisasi pelacuran yang terletak di daerah Jarak, Pasar Kembang, Kota Surabaya, Jawa Timur. Kawasan lokalisasi yang konon disebut-sebut terbesar di Asia Tenggara, lebih besar dari Patpong di Bangkok, Thailand, dan Geylang di Singapura.

Dulunya, Jl. Dukuh Kupang Barat ini bernama Jl. Mataram. Sebelumnya, kawasan ini bekas makam China. Karena makin tingginya tingkat populasi pendatang, kemudian diubah menjadi pemukiman. Hingga kini, status tempat tinggal mereka masih ilegal. Dari TPA Mushola Raudhotul Jannah menuju kawasan Dolly, hanya membutuhkan waktu beberapa menit jalan kaki.

Takdir

Para penghuni daerah ini rata-rata pendatang. Mereka berasal dari sekitar daerah di Jawa Timur. Ada dari Madura, Ponorogo, Madiun, dan daerah lainnya. Seperti Aminah. Penghuni yang telah tinggal sejak tahun 1966 ini berasal dari Ponorogo. Karena faktor ekonomi, kemudian memilih hijrah ke Surabaya dan tinggal di kawasan kumuh tersebut. Menurut Aminah, warga yang tinggal tak jauh dari musholla Raudhotul Jannah ini kebanyakan pemulung, pengamen, dan pekerja serabutan.

Aminah sendiri awalnya juga pemulung. Pernah juga mencoba keberuntungan dengan berjualan ayam. Tetapi, tidak beruntung. Sekarang dia bersama cucunya berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya. Kini, menurutnya, profesi para warga macam-macam. Ada yang jualan, jadi pemulung, jadi pengamen, atau usaha serabutan lainnya. Yang penting mendapat uang untuk melangsungkan hidup. Karena sulitnya ekonomi, terkadang anak-anak juga ikut bekerja. Kebanyakan menjadi pengamen.

Mirisnya lagi, selain sulit dari sisi ekonomi, anak-anak juga harus hidup di bawah bahaya psikologis dan moral.

Tak hanya itu, menurut Aminah, di kawasan itu juga ada beberapa pendatang perempuan yang ngekos dan sering keluar atau kerja malam.

“Dandanannya menor,” ujar Aminah.

Menurutnya, begitu dekatnya pemandangan dan lokasi Dolly, membuat anak-anak sangat mengenal kawasan lokalisasi itu. Bahkan tempat sekolah anak-anak juga berdekatan dengan lokasi mesum ini. Jadi otomatis setiap hari menjadi tempat lawat. Bahkan sering pula mereka bermain atau ngamen di Gang Dolly.

Siti Fatimah (12), contohnya. Siswi kelas satu SMP Panca Jaya Dukuh Kupang ini setiap usai sekolah langsung pergi mengamen. “Setiap hari usai sekolah, istirahat sebentar, baru pergi ngamen,” ujar gadis periang ini. Awalnya Fatimah malu-malu ketika ditanya mengamen. “Takut nanti bapak tahu jika saya ngamen,” imbuhnya.

Fatimah mengaku mengamen untuk tambahan uang jajan. Bapaknya hanya seorang pemulung. Sedang ibunya menikah lagi. Sekarang dia hanya tinggal bersama neneknya. Fatimah biasa mengamen mulai pukul 01.30 WIB dinihari. Jam 3.30 WIB baru pulang.

Tentu kawasan yang dijadikan objek ngamen Fatimah tidak lain lokalisasi jarak. Ia mendatangi tempat bordil ke tempat bordil lainnya. Fatimah mendendangkan lagu dengan ecek-ecek terbuat dari tutup botol. Kepada setiap wanita penjaja seks dan laki-laki hidung belang, dia berharap uluran tangan.

Setiap malam dapat antara Rp 3 ribu hingga 10 ribu. “Jika lagi nasib baik, paling banter dapat 11 ribu,” ujarnya.

Hal senada juga dilakukan Dwidya Ayu Lestari (13). Setiap usai pulang sekolah, gadis manis berkulit putih ini juga mengamen. Tempatnya tidak saja di lokalisasi Jarak, tapi juga Dolly. Seperti Fatimah, Ayu melakukan hal itu untuk menambah uang jajan sekolah.

Menurut keduanya, ada sedikitnya 5 santri yang mengaji juga mengamen. Karena dekat dengan lokalisasi, hampir setiap santri pernah jalan-jalan ke Dolly dan Jarak. Terkadang hanya lihat-lihat saja. Aldi contohnya. Siswa SMP yang baru berumur 14 tahun ini hampir setiap hari lewat di lokalisasi Dolly.

Karena saking seringnya lewat, setiap gang dia hapal. Bahkan, masya Allah, tarif PSK juga tahu. “Kalau yang biasa paling Rp 18 ribu. Tapi yang bagus bisa ratusan ribu,” ujarnya.

Tapi ketika ditanya, apakah pernah “mencoba”? Dia menjawab belum. “Kalau mencoba ya, belum lah. Kalau lihat sudah,” ujar Aldi sambil tersenyum.

Punya rumah dekat dengan lokalisasi bagi Aldi bukan bagian yang menyenangkan. Jika bisa, lebih baik pergi. “Sebenarnya nggak betah. Tapi mau gimana lagi,” ujar Aldi.

Meski demikian, kebanyakan anak-anak pengamen di tempat lokalisasi ini tak melupakan semangat belajar agama dan mengaji.

Hal itu pulalah yang ikut menjadikan Taufiq dan Iman bersemangat memberi motivasi dan mengajar mengaji.

Bagi pria yang masih berstatus mahasiswa di Sekolah Tinggi Agama Islam Lukman Al-Hakim (STAIL)-Pesantren Hidayatullah Surabaya semester 6 ini, motivasi dan semangat diharapkan bisa membangkitkan mereka dari rasa keputusasaan. Selain itu, tekanan sosial dan ekonomi yang dialami para santrinya ini, ikut membuat Taufik dan Iman bersemangat menjadi pengajar di tempat ini.

Mengajar di tempat tersebut merupakan tugas pengabdian masyarakat. Setiap hari, dengan mengendarai motor selama 30 menit, mereka berangkat. Peluh dan lelah hilang setelah berhadapan dengan para santri. Para santri mengaji gratis. Tidak satu pun dipungut biaya.

Mengajar di tempat seperti itu memiliki tantangan sendiri. Selain harus keluar tenaga, terkadang juga harus mengeluarkan uang.

“Terkadang, untuk mengambil hati santri, kita adakan makan bersama. Duitnya dari kita atau dicarikan,” tutur Taufik.

Selain itu, tantangan yang paling berat adalah godaan setiap pulang dan pergi mengajar mengaji, yang harus melewati kawasan lokalisasi itu.Terkadang, ia menjadi sasaran para makelar pezina komersial ini.

Pernah, suatu ketika, rintik hujan. Jalanan sepi. Tiba-tiba Taufik ditawari oleh seorang wanita cantik. “Ayo mas, murah koq, hanya Rp 300 ribu,” rayunya. Tanpa diduga, motor yang dia kendarai tiba-tiba macet.

Tiba-tiba pezina komersial itu menarik-narik baju gamisnya sambil menurunkan tarif. “Ya sudah 30 ribu saja,” rayunya. Alhamdulillah, belum sempat menjawab, motornya menyala. Dengan sigap, Taufik melajukan sepeda motornya.

Meski mengaku mendapat godaan begitu besar, menjadi pengajar di TPA di Gang Dolly bukanlah sesuatu yang hina bagi Taufiq dan Iman. Pria yang lebih suka dipanggil 25 santrinya dengan panggilan “kakak” daripada ustad ini, mengaku ingin beramal dan berbuat baik untuk membantu sesama. Ia hanya berharap, ilmu agama yang ia ajarkan bisa bermanfaat bagi para santrinya di masa depan.

Hal senada juga dirasakan Aminah. Orangtua santri TPA Mushola Raudhotul Jannah mengaku jujur, sebagai manusia normal ia juga tidak begitu kerasan tinggal di lingkungan seperti itu. Andai dia dan keluarganya bisa memilih, mungkin dia akan memilih yang lebih baik. Tetapi apa boleh buat kondisi belum berubah.

“Sebenarnya ya pingin pindah, tapi karena nggak ada tempat tinggal lagi, jadi dinikmati saja,” ujarnya kepada www.hidayatullah.com. [Syaiful Anshor/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom

Editor: Administrator

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !