Ahad, 23 Januari 2022 / 19 Jumadil Akhir 1443 H

Feature

Kamera “Kebencian” Non-Muslim Inggris

Bagikan:

Hidayatullah.com–Amil Khan berpura-pura berprofesi sebagai tukang cat dan dekorator paruh waktu, sementara Tamanna Rahman yang berkerudung, berpura-pura sebagai seorang wanita yang hanya bisa berbahasa Inggris sepatah dua patah kata saja.

Dua orang ini melakukan investigasi langsung untuk mengetahui sifat rasialis orang Inggris, hanya beberapa bulan setelah Trevor Philips, Kepala Equality and Human Rights Commission mengatakan dalam sebuah wawancara, memiliki tetangga yang berbeda suku bangsanya tidak lagi menjadi masalah bagi masyarakat Inggris modern, jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Trevor Philips mengatakan, pernyataannya itu didasarkan pada hasil 2 jejak pendapat Mori, yang katanya menunjukkan mayoritas orang Inggris semakin bisa menerima keragaman atau perbedaan rasial.

Tapi kenyataan membuktikan, jauh panggang dari api.

Amil Khan dan Tamanna Rahman yang berwajah dan berkulit layaknya orang Asia dan tidak menunjukkan jika mereka fasih berbahasa Inggris, mendapatkan lebih dari 50 kali serangan bersifat rasial selama menetap di lingkungan perumahan Southmead. Tidak hanya berupa kata-kata hinaan, mereka bahkan mendapat serangan fisik.

Dua reporter BBC yang merupakan orang keturunan Asia Selatan, sengaja melakukan penyamaran untuk mengetahui tanggapan orang Inggris terhadap Muslim. Berpura-pura sebagai pasangan suami-istri Muslim, mereka tinggal selama delapan pekan di lingkungan perumahan Southmead di kota Bristol.

Sebelum film itu dibuat, Support Against Racist Incidents (SARI), kelompok yang memperhatikan serangan-serangan rasial di Inggris, menunjukkan kepada BBC bahwa Southmead adalah lingkungan di mana kekerasan rasial sering terjadi, di samping banyak tempat lain tentunya.

Lingkungan perumahan Southmead adalah lingkungan kelas pekerja kulit putih. Namun, beberapa tahun belakangan semakin banyak orang kulit hitam dan etnis minoritas pindah ke sana.

Sejak awal memasuki jalan di lingkungan itu, Amil dan Tamanna mendapatkan tatapan tak bersahabat.

“Kami mendapatkan tatapan yang paling dingin yang pernah saya alami,” kata Tamanna.

Ternyata hal itu menjadi tanda atas apa yang akan segera dialaminya dalam dua bulan ke depan.

“Sering kali tiap keluar rumah saya mendapati dahi berkerut di wajah-wajah orang yang saya jumpai, dan umumnya sengaja dibuat untuk menunjukkan saya tidak diterima –baik ketika mereka berada di jalan, di kebun, sedang melihat dari jendela kamar, atau ketika mereka berada di dalam mobil.”

“Kami orang baru di sana, dan tidak ada orang yang datang untuk sekedar menyapa. Butuh waktu satu minggu berada di sana ketika akhirnya ada sebuah senyuman dari seorang wanita paruh baya yang saya jumpai di jalan,” cerita Tamanna.

Hari kedua, Tamanna mendapatkan sebuah lemparan batu ketika pulang dari berbelanja. Orang-orang bergumam membisikkan kata-kata kotor kepadanya ketika ia melintas. Selain itu ia juga dipanggil dengan sebutan “Paki.” Paki adalah sebutan bernada menghina yang ditujukan kepada orang-orang Pakistan.

Selama dua bulan tinggal di Southmead, Tamanna mendapatkan lemparan gelas, kaleng, botol, dan batu.

“Saya hampir dirampok 3 kali dan diancam dengan batu bata,”

Seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun bahkan pernah akan merampas dompetnya dan mengancam akan membunuh Tamanna.

Seorang remaja laki-laki berkata kepadanya, “Saya akan meledakkanmu dalam satu menit.”

“Saya dihina dua kali, disebut ‘Paki bau’ dan disuruh mandi. Pelecehan yang saya terima, termasuk sumpah serapah paling buruk yang bisa dibayangkan, baik itu dari anak-anak, remaja maupun orang dewasa,” kata Tamanna.

Tidak jauh berbeda dengan Tamanna, Amil Khan mengalami hal serupa. Ia bahkan ditinju oleh seorang laki-laki kulit putih.

Ketika akan berjalan di trotoar, seorang lelaki kulit putih –sambil disaksikan temannya yang tertawa nyengir di pinggir pagar– meneriakinya, “Bye-bye Paki.”

Laki-laki itu kemudian berjalan keluar pagar dan mendekatinya seraya berkata, “Saya akan menghajar kepalamu.” Seketika itu pula sebuah hantaman mendarat di kepala Amil Khan.

Pada satu malam di hari Jumat, Amil berjalan melewati sebuah lapangan, remaja-remaja kulit putih yang sedang berkumpul di sana mengganggunya.

Seorang remaja berjalan mendekatinya, sementara temannya yang lain berteriak, “Ia seorang Yahudi.”

Seorang pemuda berkata dengan nada mengancam, “Jam sembilan.”

“Ambil teleponnya, ambil teleponnya,” begitu kata mereka sambil mengikuti Amil dari belakang.

Sebuah lemparan kaleng pun terlihat melayang ke arah kepalanya.

Amil berjalan melintasi sekelompok pemuda, mereka pun segera bersahutan meneriakinya, “Oi kamu Taliban! Ooh kamu Taliban!”

Seorang pemuda pura-pura bertanya, “Siapa namamu?” Lantas dijawab oleh seorang temanya yang lain, “Jihad.”

Saat Amil sudah berada jauh dari mereka, masih terdengar teriakan, “Paki… Paki.”

Amil bercerita, satu saat ketika ia sedang berjalan kaki, ada yang berkata dengan nada mengejek, “Tolong jangan ledakkan kami.”

Tetap rasialis

Tahun 2000, ketika Tamanna masih berusia 16 tahun, di lingkungan sekolahnya yang multiras dan multikultur di Manchester, ia pernah ditanya oleh reporter berita dari sebuah televisi lokal. Memasuki millenium baru, apakah menurutnya rasisme di Inggris hanyalah merupakan bagian dari sejarah masa lalu?

Ketika itu dengan wajah yang cerah, naif dan optimis, ia menjawab, “Ya, rasisme telah mati.”

Hari berganti, bulan berganti, dan tahun pun berganti, tapi apa yang berubah di Inggris mengenai rasisme? Jawabnya sekarang, tidak ada.

Sebelum Tamanna melakukan investigasi langsung, ia telah banyak mendengar cerita dari orang-orang yang mengalami kekerasan rasial, termasuk dari teman-temannya sendiri.

Pengalaman pahit selama delapan pekan di Southmead rupanya begitu membekas pada diri Tamanna. “Saya sudah kembali ke Manchester sekarang, tapi saya masih berusaha menguatkan diri tiap kali saya berjumpa dengan sekelompok anak-anak yang bersepeda atau remaja yang berkumpul di pojok jalan. Meskipun anak-anak Manchester belum pernah punya masalah dengan saya, tapi sekarang (perasaan itu) seperti menjadi naluriah.”
Dengan menggunakan kamera tersembunyi, Amil Khan dan Tamanna Rahman merekam semua perlakuan yang mereka terima dari orang-orang Inggris sejak pertama kali memasuki lingkungan Southmead. Pengalaman mereka itu ditayangkan di BBC pada Senin (19/10) dalam program Panorama, dengan judul “Hate on The Doorstep”. [di/bbc/www.hidayatullah.com]

Rep: Admin Hidcom
Editor: Administrator

Bagikan:

Berita Terkait

“Saya Makin Kaya Sejak Dekat Anak-Anak Yatim”

“Saya Makin Kaya Sejak Dekat Anak-Anak Yatim”

“Tolong, Mas, Makanan Saya Ini Diambil!”

“Tolong, Mas, Makanan Saya Ini Diambil!”

Talaqqi Dr.Hisyam  Kamil, Dapat Ilmu, Kitab, Sanad dan Makan

Talaqqi Dr.Hisyam Kamil, Dapat Ilmu, Kitab, Sanad dan Makan

Dua Anaknya Lumpuh, Menganggapnya Hadiah (2-habis)

Dua Anaknya Lumpuh, Menganggapnya Hadiah (2-habis)

Ketika Anak-anak TK di Depok ”Naik Haji”

Ketika Anak-anak TK di Depok ”Naik Haji”

Baca Juga

Berita Lainnya