Selasa, 30 Maret 2021 / 17 Sya'ban 1442 H

Feature

Dari Ground-Zero Gempa Bengkulu

Bagikan:

 Laporan Lengkap Tim ACT

Dari Ground-Zero Gempa Bengkulu

Hidayatullah.com–Rabu, 12 September 2007, sekitar pukul 18.10 WIB, gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Bengkulu. Saat itu Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) mengeluarkan warning akan kemungkinan terjadinya tsunami. Sangat mungkin terjadi tsunami mengingat kekuatan gempa yang cukup besar, ditambah kedalamannya hanya 10 km. Masyarakat Bengkulu panik dan berhamburan keluar rumah, sebagian besar berlari menuju daerah perbukitan atau daerah ketinggian karena khawatir terjadi tsunami.

Bersyukur, tsunami yang dikhawatirkan itu tidak terjadi. Meski demikian masyarakat Bengkulu tetap panik dan berjaga-jaga karena gempa susulan terus menerus terjadi. Tim ACT mencatat –melalui early warning system (EWS) yang terpasang di kantor- sejak Rabu sore itu, hingga Kamis siang (13/9) sekitar pukul 13.30, terjadi 132 gempa susulan dengan kekuatan yang cukup besar, antara 6 hingga 7 skala richter.

Sebenarnya, guncangan di hari Rabu sore itu tidak hanya dirasakan masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Di waktu yang sama, warga Jakarta pun dibuat panik karena guncangan gempa itu terasa sampai Kota Jakarta. Demikian juga dengan masyarakat di Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Dilaporkan di berbagai media, guncangan itu juga dirasakan oleh masyarakat di negeri tetangga seperti Singapura dan Malaysia, bahkan India dan Bangladesh pun sempat merasakannya.

Khusus untuk Sumatera Barat, tentu sangat wajar mengingat posisinya yang berbatasan dengan Bengkulu, ditambah gempa di Rabu sore itu juga terjadi di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Beberapa wilayah yang terkena dampak serius di Pesisir Selatan itu antara lain Painan. Sedikitnya enam kecamatan di Pesisir Selatan terkena dampak serius gempa, yakni kecamatan Lunak Silaut, Tapan, Ranah Pesisir, Lenggayang, Linggusari Baganti dan kecamatan Sutra.

Relawan ACT yang juga koordinator MRI (Masyarakat Relawan Indonesia), Arifuddin Muchtar yang kini berada di Pesisir Selatan mencatat, 2.424 rumah rusak berat, 332 rusak sedang dan 1.164 rusak ringan. Sementara 22 tempat ibadah rusak berat, 11 sekolah rusak berat dan 9 bangunan sekolah rusak sedang. ACT dan MRI pun membuka posko di Nagari Lunang Kampung, Kecamatan Lunang Silaut.

Di Bengkulu sendiri, beberapa wilayah yang teridentifikasi rusak parah akibat gempa yakni Bengkulu Utara dan Kabupaten Muko-Muko. Lais misalnya, di salah satu kecamatan di Bengkulu Utara itu hampir 90% bangunan hancur dan rusak parah. Begitu juga di Muko-Muko, bangunan-bangunan hancur terdiri dari rumah warga dan sarana umum seperti sekolah, puskesmas, dan tempat ibadah.

Bantuan seret

Sabtu siang (15/9), seorang relawan ACT di Muko-Muko melaporkan. Kondisi wilayah tersebut memprihatinkan, ribuan pengungsi bertahan dengan makanan seadanya dan belum ada bantuan yang masuk, baik berupa makanan pokok maupun tim medis. Ratusan rumah hancur dan tak bisa lagi dihuni, sehingga warga mendirikan tenda-tenda darurat dengan terpal yang serba terbatas dan sangat tidak layak.

Tak hanya di Muko-Muko, di Lais, Bengkulu Utara, Novian relawan ACT yang lain menggambarkan bagaimana situasi para pengungsi pasca gempa. Menurut Novian, satu hari setelah gempa, Kamis (13/9), masyarakat muslim di Bengkulu tetap menjalankan ibadah puasa. Namun ternyata mereka tidak punya makanan yang cukup untuk berbuka puasa. "lima belas menit sebelum waktu berbuka, pengungsi tidak punya apapun untuk makanan berbuka," terang Novian.

Lain halnya dengan yang dialami Ahyuddin, komandan tim ACT untuk gempa bengkulu dan sekitarnya. Direktur Eksekutif ACT itu bersama rombongan dicegat sejumlah warga di Desa Airlako, Kecamatan Batikenau, Bengkulu Utara, Sabtu (15/9). Ratusan warga Desa Airlako mengaku kecewa karena beberapa truk bantuan hanya melewati saja desa mereka tanpa memberikan bantuan. "Lihat saja, 90% rumah kami hancur. Kenapa tidak ada bantuan untuk kami?" ujar Simin, Sekretaris Desa Airlako.

Setelah berbicara beberapa menit, akhirnya tim ACT sepakat untuk menurunkan bantuan di Desa tersebut serta mendirikan tenda pengungsi dengan terpal sepanjang 100 meter.

Sangat disayangkan memang, bencana dengan kekuatan gempa yang sangat besar serta cakupan area bencana yang sangat luas ini ternyata minim perhatian, terutama dari publik. Berita-berita di media dianggap tak segencar ketika gempa Jogjakarta dan Jawa Tengah, dan dikhawatirkan hanya dalam beberapa hari kemudian beritanya sudah redup. "Sangat disayangkan, sehingga tidak banyak publik yang tahu bahwa bencana ini sangat besar dan membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak," ujar Ahyuddin.

"Boleh jadi karena jumlah korban meninggal tidak mencapai ratusan, sehingga tidak menambah nilai berita. Atau jumlah korban yang hanya belasan itu tidak cukup membuat masyarakat terhenyak dan bergerak membantu," sesal Ahyuddin lagi.

Ahyuddin mengatakan, gempa Bengkulu dan Sumatera Barat ini bencana besar. Semestinya tidak dilihat dari berapa jumlah korban meninggal, karena berapa pun jumlah korbannya, perhatian dan kepedulian tetap harus diberikan. Terlebih, ratusan ribu pengungsi sangat berharap mendapatkan bantuan berupa makanan pokok, tenda, tikar, selimut, dan air bersih. "itu pun hanya berupa bantuan di fase emergency," tambahnya.

Ya, Ahyuddin secara langsung mengingatkan kepada publik bahwa seringkali kepedulian itu hanya berlangsung satu atau dua pekan di fase emergency. Setelah itu satu persatu menghilang, dan tinggallah para pengungsi berjuang sendiri tanpa bantuan untuk untuk pemulihan ( recovery).

Sejak Rabu malam (12/9) ACT telah mengirimkan tiga tim ke Bengkulu dan satu tim ke Pesisir Selatan – Sumatera Barat. Kerja-kerja di berbagai lokasi bencana, termasuk kali ini yang dilakukan ACT tidak pernah berhenti di fase emergency saja. ACT juga sudah menyiapkan program recovery untuk bencana di Sumatera ini, karenanya dibutuhkan uluran tangan dan kerjasama dari berbagai pihak untuk membantu program tersebut. Posko Utama ACT, Jl. S. Parman, No. 5 RT. 02 RW. 01, Kelurahan Tanah Patah, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. [bayu gawtama/ACT/www.hidayatullah.com]

No rekening untuk Gempa Sumatera (Bengkulu dan Sekitarnya)

BCA Acc. No. 676 030 3133 (swift code: Cenaidja)

Rep: Ahmad Sadzali
Editor: Ahmad Sadzali

Bagikan:

Berita Terkait

Sekali Dakwah Terkembang, Pantang Surut Meski “Pesantrennya Hilang”

Sekali Dakwah Terkembang, Pantang Surut Meski “Pesantrennya Hilang”

Keajaiban Allah yang ada di Kepulauan Giliraya, Sumenep

Keajaiban Allah yang ada di Kepulauan Giliraya, Sumenep

Pasar Ahad Islamabad di Hari Jumat

Pasar Ahad Islamabad di Hari Jumat

Keajaiban Bangun Malam yang Kurasakan

Keajaiban Bangun Malam yang Kurasakan

Cerita dari Dieng dan Selembar Doa ”Palestina” [1]

Cerita dari Dieng dan Selembar Doa ”Palestina” [1]

Baca Juga

Berita Lainnya