Senin, 25 Oktober 2021 / 18 Rabiul Awwal 1443 H

Mereka Memilih Berani

Kisah Daiyah di Wilayah Konflik: Ledakan dan Tembakan jadi Saksi di Jalan Dakwah

istimewa/hidayatullah.com
Ustadzah Nunung Nurhayati (kanan) bersama suaminya, Ustadz Haris, dai Hidayatullah "spesialis" wilayah konflik.
Bagikan:

Hidayatullah.com | TULUS dan tangguh, itulah kata yang terbetik ketika menyimak lika-liku perjuangan daiyah ini. Nunung Nurhayati adalah nama yang tidak asing lagi dalam dunia dakwah Hidayatullah khususnya di kalangan para Muslimahnya.

Ustadzah Nunung dikenal telah merajut simpul dakwah dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Bukan hanya sibuk sebagai ibu, organisatoris, pendakwah, dan pendidik, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan lain. Misalnya pernah menjadi juara ke-4 Lomba Menulis Resep Tingkat Nasional 2011.

Memulai dakwahnya pada tahun 1989 di Sulawesi Utara, ibu dari lima anak ini lalu berpindah-pindah tempat tugas dakwah ke Manokwari, Berau, Lhokseumawe, Medan, Banda Aceh, sampai Timika, mengikuti kemana suaminya ditugaskan. “Ada yang mengatakan Ustadz Haris adalah petugas khusus daerah konflik,” ujarnya, mengingat julukan yang diberikan kepada suaminya tersebut karena penugasan di daerah Aceh dan Papua saat konflik memuncak.

Baca: Istri Daiyah, Suami Dai: “Berdakwah Harga Mati”

Bertugas di daerah konflik itu mengharuskan Ustadzah Nunung banyak tiarap. Hingga terjadi suatu peristiwa, ketika kehamilannya yang terakhir, pendarahan hebat terjadi saat usia janin masih 8 bulan. Saat itu, karena ramainya baku tembak di sana-sini, tak ada mobil sipil maupun tentara yang bisa mengantarnya ke rumah sakit. Suaminya pun sedang mengisi daurah dai se-Sumatera. Anak laki-lakinya yang berumur 4 tahun pun harus menguatkan diri untuk mendampingi sang ibu. Menunggu dari jam 1 malam, akhirnya ia berhasil dibawa ke rumah sakit pada jam 7 pagi. Sesampainya di sana, dokter mengabarkan bahwa janin sudah meninggal.

Saat itu, Ustadzah Nunung sudah lemah tak ada daya. Kadar Hemoglobin merosot, penglihatannya kabur. Jangankan untuk mengeluarkan janin, ia bahkan ragu hidupnya masih bisa berlanjut. Darah yang ditunggu untuk transfusi tak kunjung datang hingga pukul 5 sore. Ia pun hilang penglihatan, dan nyaris hilang kesadaran.

“Ya Allah jika memang saya masih bermanfaat untuk agama-Mu, panjangkan umur saya. Tapi jika memang sudah cukup amalanku untuk menghadap-Mu, mudahkanlah aku dalam menghadap-Mu.” Dengan “sisa-sisa” nafas, akhirnya ia menguras tenaga sekuat mungkin untuk bersalin. Dengan iringan takbir, Allahu Akbar! bayinya pun keluar. Alhamdulillah! Bidan pendamping terheran-heran menyaksikannya, karena hal itu dirasa tidak mungkin terjadi tanpa transfusi darah terlebih dahulu.

Selain kejadian itu, Ustadzah Nunung bersama suami dan anak-anaknya telah melewati berbagai lika-liku tantangan dan rintangan lainnya dalam dakwah. Seperti adanya ancaman pembakaran pondok yang mengharuskan santri mengungsi, pesantren diobrak-abrik, hingga ia menyaksikan koleganya menjadi sasaran tembak. Semua itu telah menempa mereka.

Hal tersebut tidak menjadikan ia dan keluarganya menyudahi dakwah, malah membuat anaknya yakin melanjutkan warisan perjuangan ini. Anak-anaknya kini berpencar di Maluku, Timika, Aceh, Surabaya, dan Balikpapan demi kepentingan dakwah.

Tawaran untuk pindah tugas ke daerah yang lebih kondusif kerap berdatangan, namun keyakinan Ustadzah Nunung kepada taqdir Allah dan kepeduliannya terhadap saudara yang tetap memerlukan cahaya Islam meski di daerah konflik, menguatkan pendiriannya. Dengan mantap ia dan keluarga bertahan, menjadikan suara ledakan dan tembakan sebagai saksi di jalan dakwahnya.

Baca: Asa Muslimah Kembali ke Penjara Berdakwah

“Kita digadai untuk perjuangan dengan nilai surga,” ucap kontributor buku “Senandung Mahligai Mubarakah” ini, mengenang motivasi terdalamnya yang terinspirasi dari Surah As-Saff ayat 10-11. Ia juga mengaku bahwa suaminya tidak hanya mendukung peran dakwahnya, tapi juga menjadi penyulut semangat utama untuk tetap berada di jalan dakwah.

Anggota Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan ini berharap agar para dai-daiyah Hidayatullah khususnya di Muslimat Hidayatullah (Mushida) terus berpegang erat pada motto “Beribadah keras, bekerja keras, berdoa keras, syariat kuat.”

Ia juga menyampaikan salam hangat untuk seluruh peserta Musyawarah Nasional V Mushida secara virtual di Depok dan di 33 wilayah seluruh penjuru Indonesia. Perhelatan akbar ini digelar pada Sabtu-Ahad (26-27/12/2020) dengan mengusung tema “Meneguhkan Integritas Muslimah Demi Tegaknya Peradaban Islam.” Saksikan acara pembukaannya pada Sabtu pukul 06.00-08.00 WIB ditayangkan live streaming pada kanal Youtube Hidayatullah ID  klik di sini.* Fadhilah AAA

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Membawa ‘Perahu Dakwah’  Menyebrangi Pulau Enggano

Membawa ‘Perahu Dakwah’ Menyebrangi Pulau Enggano

Butuh “Motor-Dakwah” Tangguh Bagi Dai Pedalaman

Butuh “Motor-Dakwah” Tangguh Bagi Dai Pedalaman

Setelah Berbagi Kurban, Kembali Mengantar Syadahat Warga Pedalaman Halmahera

Setelah Berbagi Kurban, Kembali Mengantar Syadahat Warga Pedalaman Halmahera

“Ekspedisi Tauhid” Suku Tajio

“Ekspedisi Tauhid” Suku Tajio

Dakwah Mantan Preman di Bumi Cendrawasih

Dakwah Mantan Preman di Bumi Cendrawasih

Baca Juga

Berita Lainnya