Senin, 25 Oktober 2021 / 18 Rabiul Awwal 1443 H

Mereka Memilih Berani

Berdakwah di Nias: Ketika Kabel Pondok Pesantren Dicuri

PP Hidayatullah Nias
Bagikan:

Hidayatullah.com | TIBA-TIBA listrik pesantren mati. Rupanya meteran listrik sengaja dicabut oleh tetangga.  Dia sengaja mematikan listriknya untuk mengambil kabel yang menghubungkan listrik ke pondok pesantren.

Esok harinya, Muhammad Ikhsan Taufik melihat tetangga itu sedang memasang kabel listrik ke rumahnya. Karena jarak pesantren dan tetangga yang mengambil kabel cukup dekat, jadi jelas terlihat apa yang dilakukannya.

“Listrik belum nyampai ke rumahnya. Jadi harus minta dari rumah  terdekat, sedangkan yang terdekat posisinya kira-kira 50 meter. Tidak sanggup beli kabel, langsung saja ambil kabel kami yang panjang untuk rumah dia, tanpa ijin dulu,” Ikhsan bercerita.

Ikhsan  diam saja. Demi berlangsungnya dakwah jangka panjang dan menjaga eksistensi pesantren di daerah dimana Muslim menjadi minoritas. Tepatnya di Kotamadya Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatera Utara.

Bukan hanya kabel listrik. Mesin air pun dipotong dan diambil. Pagi harinya lagi-lagi Ikhsan melihat tentangga itu  memasang mesin air yang diambil.

Untuk pesantren sendiri sudah tidak terhitung lagi barang-barang yang dicuri. Dari semen, mesin air, cangkul hingga kabel listrik. Bahkan ketika jalan menuju pesantren mau diaspal, bahan-bahan material jalan pun diambil masyarakat sekitar sehingga harus diamankan oleh TNI.

Syukurnya, barang-barang pesantren diambil hanya untuk kebutuhan, bukan untuk dijual lagi. “Andai untuk dijual mungkin dia   akan mencuri tiap hari. Nah ini untuk kebutuhan, kalau rusak punya dia baru ambil punya kita. Jadi agak lama jarak mencurinya,” ujar Ikhsan.

Ikhsan berusaha tetap membangun hubungan baik dengan warga sekitar. Seperti ketika Hari Raya Qurban, setiap tahun rutin pesantren membagikan daging Qurban ke masyarakat sekitar yang belum mendapat hidayah Allah. Sambil memberikan pesan, “Ini dari pesantren ya Pak. Ini dari pesantren ya Bu.”

Beberapa tahun kemudian beberapa tetangga sekitar mulai berubah sikapnya menjadi lebih baik dan menerima kehadiran pesantren.

“Dakwah itu mengajak dan  merangkul. Kalau misal belum bisa mengajak untuk mendapat hidayah Allah. Kita ajak untuk tidak menentang Islam saja dulu. Pelan-pelan. Kita ajak dulu untuk berteman dengan kita. Beginilah cara yang kami lakukan di daerah minoritas,” Ikhsan menceritakan pengalamannya.

Jarak yang Berjauhan

Sejak tahun 2014 lalu, Ikhsan mendapat tugas berdakwah di Pulau Nias.  Ia mendapat  amanah menjadi Ketua Yayasan di Pesantren Hidayatullah, Gunungsitoli, Nias. Santri ada 120 orang putra-putri, berasal dari seluruh wilayah Nias, kebanyakan merupakan keluarga menengah ke bawah dan sebagian  lainnya adalah yatim, piatu, dhuafa dan mualaf.

Kepulauan  Nias terletak di sebelah barat Pulau Sumatera  dan secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Sumatera Utara. Terdiri dari sekitar 132 pulau dengan 4 wilayah kabupaten dan 1 kota. Jumlah penduduk Kepulauan Nias berdasarkan data 2017 adalah 806.213 jiwa. Jumlah Muslimnya sekitar 5,5 persen.

Santri PP Hidayatullah Nias

Selain mengurus pesantren dan mengasuh santri, Ikhsan juga aktif membina beberapa masjid dan mushala di Gunungsitoli dan sekitarnya.

Letak antar desa yang menjadi wilayah binaan Ikhsan menjadi tantangan tersendiri. Jaraknya berjauhan. Salah satunya di Desa Lolozasai, Kabupaten Nias.

Tercatat ada 20 keluarga yang rutin dibina dan menjadi jamaah Ikhsan. Lalu ada Desa Sifahandro, Kabupaten Nias Utara, yang jaraknya 76 km dan perlu waktu 2 jam untuk sampai disana.

Selain itu, Ikhsan juga aktif melakukan pembinaan di desa Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Jaraknya sekitar 100 km dari Gunungsitoli, waktu yang ditempuh seikitar 2,5 sampai 3 jam perjalanan. Jalanan aspal lintas kabupaten yang rusak di beberapa bagian dan gelapnya jalanan di waktu malam mengharuskan Ikhsan hati-hati agar bisa sampai di desa-desa binaannya tersebut.

Pernah kejadian yang dialami Ikhsan, saat perjalanan pulang membina jamaahnya di Teluk Dalam. Ketika beranjak pulang hari sudah sore, sehingga di tengah perjalanan langit telah  gelap. Lampu motor saja tidak cukup. Singkat cerita, ada gundukan tanah di tengah jalan yang tertabrak dan membuat terjatuh. Kaki Ikhsan pun cedera hingga sulit untuk berdiri.

“Alhamdulillah, motornya masih baik,” kenang Ikhsan mengingat pengalaman yang baru 6 bulan lalu dialaminya itu.

Syukurnya Ikhsan tidak sendiri. Ada seorang santri yang dibawanya untuk menemani dakwahnya  di desa binaan. Saat insiden itu, santri yang dibawanya tidak cedera karena ketika jatuh menimpa Ikhsan.  Sehingga sang santri tersebut yang mengambil alih kemudi motor selanjutnya.

“Sampai rumah saya sudah tidak bisa jalan lagi. Waktu di perjalanan masih bisa menahan. Mungkin karena adrenalin naik, jadi masih bisa jalan. Sampai rumah habis adrenalinnya, tidak bisa jalan. Sehingga hampir satu minggu saya shalat di rumah,”  kkata Ikhsan.

Tugas Baru

Ikhsan lahir 17 Maret 1988 di kota Kisaran, 190 km dari kota Medan. Di kota ini  ia menempuh pendidikan hingga hingga SMP. Kemudian ketika SMA pindah ke kota Medan untuk melanjutkan di SMA 1 Medan. Targetnya memang masuk sekolah favorit karena ingin masuk universitas favorit.

Tamat dari SMA 1 Medan, Ikhsan masuk Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Di masa kuliah inilah dia berkenalan dengan seorang da’i Hidayatullah Medan bernama Ali Hermawan. Diskusi-diskusi pun sering terjadi, hingga ia memutuskannya bergabung di medan dakwah.

“Tahun 2013 saya memutuskan bergabung di Hidayatullah. Berapa bulan kemudian saya ditawari menikah oleh ustadz Ali. Singkat cerita kami menikah. Setelah 6 bulan menikah saya ditugaskan di Nias,”  tutur  Ikhsan.

Perjuangan pertama yang dialami Ikhsan dan istri pasca pernikahan adalah perjuangan rumah tangga baru. Apalagi tempat tugas adalah daerah yang muslimnya minoritas. Selain tantangan dakwah di luar rumah, kadang di dapur tidak ada  makanan. Keadaan itu membuatnya harus berpuasa. Padahal kondisi waktu itu sang istri lagi hamil, harusnya penuh dengan  asupan gizi.

“Istri lagi hamil 5 bulan. Harusnya penuh dengan asupan gizi. Tapi tidak, hari-hari apa yang ada. Kalau adanya mie saja makan itu, nasi ditemenin kerupuk juga pernah. Kalau tidak  ada ya puasa,” cerita Ikhsan di hari-hari awal di Nias.

Di penghujung  2018 Ikhsan diamanahi tugas baru. Mengelola Pesantren Hidayatullah Labuhan Batu, Sumatera Utara. Pesantren ini baru memiliki satu amal usaha berupa Panti Asuhan Tunas Bangsa. InsyaaAllah, akan dibuka program tahfizh untuk anak-anak sebagai layanan bagi masyarakat sekitar.*/Rofi, Suara Hidayatullah

 

Rep: Insan Kamil
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Gandeng Pemuda Hidayatullah Tebar Qur’an di Kaimana

Gandeng Pemuda Hidayatullah Tebar Qur’an di Kaimana

Bagi-bagi Majalah Gratis, Cara Dai di Mahakam Ulu ini “Berbisnis”

Bagi-bagi Majalah Gratis, Cara Dai di Mahakam Ulu ini “Berbisnis”

Nurkib Ibnu Djais: 20 Tahun Berdakwah di Baduy

Nurkib Ibnu Djais: 20 Tahun Berdakwah di Baduy

Setelah 30 Tahun, Warga Togutil di Pedalaman ini Barusan Dapat Daging Qurban

Setelah 30 Tahun, Warga Togutil di Pedalaman ini Barusan Dapat Daging Qurban

Ribuan Disantuni, Posdai Akan Latih Dai Manajemen Jamaah

Ribuan Disantuni, Posdai Akan Latih Dai Manajemen Jamaah

Baca Juga

Berita Lainnya