Sabtu, 13 Februari 2021 / 30 Jumadil Akhir 1442 H

Mereka Memilih Berani

Tetap Tegar Meski Tak Lagi Mendengar

Ismail Kalosi
Bagikan:

HARI itu rutinitas di Masjid Ummul Qurro Depok, berjalan seperti biasanya. Jamaah Subuh berjalan lancer disertai sedikit hawa dingin yang menusuk badan bertepatan masuk musim penghujan.

Usai shalat Subuh, jamaah melanjutkan kegiatan dzikir pagi dan mendengarkan kultum pagi.

Namun suasa suasana sedikit berubah. “Kebekuan” suasana seketika terpecah. Seorang pria dari arah belakang, menerobos kerumunan jama’ah dengan cepat dan langsung memeluk seseorang di barisan depan. Seolah sedang rindu saudara cukup lama, ia memeluk erat pria yang berada di barisan depan.

Tanpa ba bi bu, berbicara dengan dana agak berteriak menanyakan bagaimana mengurus surat-surat untuk keperluan umrah. Tak urung, seisi masjid mendengar dengan jelas apa yang sedang dibicarakan.

Pria yang dimaksud adalah Ustad Ismail Kalosi, dai yang kini tugas di Enrekang Sulawesi Selatan. Bukan tanpa alasan mengapa suara Ismail Kalosi sangat keras seolah memecahkan keheningan jamaah Subuh yang sibuk berdzikir. Semua itu karena pendengaran pria berusia 55 tahun itu sudah mulai tidak berfungsi, lantaran serangan Malaria saat masih bertugas dakwah di Bumi Cenderawasih.

Sebenarnya, ketika masih gejala, dokter yang menanganinya saat ia baru pindah tugas dari Manokwari ke Enrekang sudah memberikan saran agar tidak keluar malam dan tidak berpikir berat.

Selalu Riang

Sekalipun pendengarannya mulai tidak berfungsi, suami Darminah buka pria pemurung. Sebaliknya ia dikenal sangatlah riang dan nampak seperti orang yang tidak memiliki beban hidup.

Saat ditemui di Masjid Ummul Qurro selepas melaksanakan shalat Dhuha, matanya tajam menatap dan tangannya memegang tangan penulis disertai senyum khasnya.

Tapi begitulah gaya Ismail Kalosi. Yang jelas dai yang sudah sejak 1987 malang melintang di Bumi Papua ini sering sekali tersenyum dan tertawa. Kisah-kisah yang dituturkan –terkait pengalaman pribadinya dalam berdakwah bersama-sama rekan dai di pedalaman– selalu banyak menghibur orang.

“Memang tugas kita ada dua, sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah. Keduanya tidak bisa dipisah. Nah, di situlah ujiannya, ada kesulitan ada tantangan, harus dihadapi. Inilah dakwah,” ucapnya.

Ia menceritakan, bagaimana di banyak buku Shirah disebutkan, Rasulullah dalam Perang Uhud bahkan patah giginya dan mengalami luka di pipi kanannya.

Karena itu, siapapun yang memilih jalan dakwah, katanya, harus siap menghadapi tantangan perjuangan.

Sebagaimana diketahui, Ustadz Ismail Kalosi mendapat kehormatan   BMH berangkat umroh bersama Ustad Ahmad Al-Jufri (dai yang bertugas di Merauke Papua) dan Ustadz Damanhuri (dai yang bertugas di Palembang). Selamat beribadah, semoga Allah memberikan karunia-Nya dan keteguhannya berdakwah.*

Rep: Imam Nawawi
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Dakwah Tidak Biasa Abah Ali

Dakwah Tidak Biasa Abah Ali

Istri Daiyah, Suami Dai: “Berdakwah Harga Mati”

Istri Daiyah, Suami Dai: “Berdakwah Harga Mati”

Kisah Bujangan Membangun Pesantren

Kisah Bujangan Membangun Pesantren

Bimbing Puluhan Warga Suku Togutil Masuk Islam, Tim Ekspedisi Syahadat Berjalan Kaki

Bimbing Puluhan Warga Suku Togutil Masuk Islam, Tim Ekspedisi Syahadat Berjalan Kaki

Setelah Berbagi Kurban, Kembali Mengantar Syadahat Warga Pedalaman Halmahera

Setelah Berbagi Kurban, Kembali Mengantar Syadahat Warga Pedalaman Halmahera

Baca Juga

Berita Lainnya