Senin, 25 Oktober 2021 / 18 Rabiul Awwal 1443 H

Mereka Memilih Berani

Membela Akidah di Kampung Laut

MuhAbdusSyakur/hidayatullah.com
Sebuah gereja di tepi Kali Muara Dua, Kampung Laut
Bagikan:

WAKTU menunjukan pukul sembilan malam. Pengajian di mushola telah usai, Muhyiddin menarik nafas panjang-panjang untuk kembali ke tempat tinggalnya. Jika memikirkan jalan pulang, ia merasa takut sendiri dan enggan untuk kembali.

Pria asal Gresik ini bukan takut dihadang perampok atau kegelapan, namun yang ditakuti adalah anjing. Lho kok?

Iya, ia paling malas pulang jika mengajar mengaji, karena harus berhadapan dengan anjing-anjing galak.

Setidaknya, seminggu dua kali ia harus merasa sport jantung karena dihadang lebih dari tujuh anjing galak.

Begitulah kondisi Desa Muara Dua, Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap Selatan, Jawa Tengah ketika pertama kali Muhyiddin menginjakkan kaki di daerah yang letaknya berada di perbatasan antara Jawa tengah (Cilacap) dan Jawa Barat (Ciamis) ini.

Sesuai nama kecamatannya, dulu Muara Dua juga berada di tengah laut. Tetapi sekarang ia sudah menyambung dengan daratan. Dari Cilacap, dibutuhkan perjalanan sekitar 4 jam naik perahu motor. Tidak bisa lewat darat, kecuali dari Ciamis. Kampung Laut berdampingan dengan Pulau Nusakambangan, penjara angker yang dihuni para narapidana kelas kakap.

Di awal kedatangan Muhyidin, Juli 2001, pria berusia 40 tahun ini masih sulit membedakan antara orang Islam dan orang Nasrani, karena mereka sama-sama banyak yang memelihara anjing.

Saat itu Muhyiddin diutus ke Desa Muara Dua oleh seorang gurunya di Malang untuk membangun masjid. Karena daerah itu letaknya sulit dijangkau dengan kendaraan, pembuatan masjid tersebut pun menjadi lama.

“Mengumpulkan materialnya lama. Kalau air pasang kita tidak bisa angkut material ke Muara Dua,” kata Muhyiddin kepada Suara Hidayatullah beberapa waktu lalu.

Maka, sambil menunggu bahan-bahan tersebut terkumpul dan memulai bangun masjid, ia mengajar mengaji di mushola yang letaknya agak jauh dari tempat tinggalnya sementara.

Setelah 10 bulan, terkumpullah bahan bangunan itu. Muhyiddin pun mulai membangun masjid dengan  bantuan dua orang tukang. Akhir tahun 2002, masjid yang diberi nama Abdulloh Asindy itu rampung dibangun.

Muhyiddin kemudian siap-siap kembali ke pondok pesantren, tetapi ketika usai berkemas hendak pulang mendadak ia mendapat perintah baru dari gurunya. Ia disuruh memakmurkan masjid itu.

Sebagai santri yang sudah 15 tahun menimba ilmu dari sang guru, Muhyiddin tidak kuasa menolak. Ia menerima perintah itu dengan lapang dada. “Saya disuruh membuat pengajian untuk orangtua dan anak-anak,” terang Muhyiddin yang saat itu masih belum berkeluarga.

Saat itu, santri lulusan Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik dan Nurul Haroman Malang, Jawa Timur ini langsung bergerak. Alhamdulillah, anak-anak yang ikut mengaji jumlahnya banyak. “Anak-anak mengajinya ba’da zuhur, ashar, magrib dan isya, menyesuaikan waktu mereka saja,” imbuhnya.

Sedangkan untuk orangtua, pria yang kini dikaruniai satu anak ini menggelar zikir bersama. Ia sengaja tidak mau ceramah memberi nasihat-nasihat agama, karena sebelumnya ia telah banyak bertanya pada masyarakat sekitar.

Muhyiddin diberitahu para warga, kalau mereka paling malas jika merasa digurui. Mendengar hal tersebut, ia segera merancang strategi supaya dirinya bisa diterima dahulu di masyarakat setempat. “Saya berusaha agar warga simpatik dulu,” katanya.

Caranya, ya mengadakan zikir bersama itu. “Yang penting, mereka mau datang ke masjid saja,” katanya

Sebelum rutin membuat zikir bersama, pernah suatu kali Muhyiddin didatangi seorang warga agar jangan pernah menyuruhnya untuk mengerjakan amal ibadah. Warga tersebut mau ikut zikir bersama asalkan jangan diceramahi macam-macam. “Pak Ustad jangan pernah menyuruh saya shalat. Kalau sudah sadar, saya juga akan shalat sendiri,” begitu ucap Muhyidin menirukan warga yang mendatanginya.

Selain mengadakan zikir bersama, Muhyiddin juga menggagas pengajian untuk kaum wanita. Pengajian itu dibarengi dengan arisan ibu-ibu yang setiap minggu berpindah-pindah, dari satu rumah ke rumah lain.

Menurutnya, dibuat seperti itu agar ibu-ibu tidak merasa jenuh. Sebelum ia datang, ibu-ibu tidak ada yang membina. “Mengajinya model yasinan, lalu sedikit-sedikit saya selingi ilmu fiqh dan akidah,” imbuhnya. Yasinan adalah bersama-sama membaca al-Qur`an, khususnya Surat Yasin. Praktek ibadah semacam ini sudah amat populer di Jawa.

Setelah dua tahun pengajian berjalan, perubahan terhadap warga mulai kelihatan. Perlahan mereka jadi mengerti mana hal-hal yang haram dan mana yang halal. Contohnya, warga Muslim yang tadinya di rumah punya anjing, mereka tidak mau lagi memeliharanya. “Mereka menjual semua, mereka sadar memelihara anjing bisa menimbulkan najis,” kata Muhyiddin.

Perubahan lain juga terlihat pada cara berpakaian kaum wanitanya. Mereka banyak  yang berjilbab walau belum sempurna. Yang juga berubah adalah perjudian. Saat ini perbuatan haram tersebut mulai berkurang. Dulu, kata Muhyiddin, warga sangat gemar berjudi baik laki dan wanita.

Waktu baru tiba di desa ini, hampir setiap rumah ada yang berjudi dan menenggak minuman berakhohol. “Sekaran g sudah jarang bahkan tidak ada lagi,” ucap Muhyidin.

Selain berdakwah, Muhyiddin juga merupakan salah satu tokoh yang vokal menentang kristenisasi di Desa Muara Dua dan sekitarnya. Ia juga orang terdepan yang menentang pendirian gereja tidak berizin.

“Saya pernah memprotes pendirian gereja yang tidak ada izin di Desa Mulyasari, walaupun saya bukan warga di situ,” imbuhnya.

Karena vokal, pernah oleh perangkat pemerintah daerah setempat ia disuruh diam dan tidak banyak bertingkah. Mendapat ancaman seperti itu Muhyiddin bukan jadi gentar, malah makin berani. “Saya tidak takut ancaman, karena ini berjuang akidah untuk warga,” tegasnya.

Ke depannya, ia akan selalu menentang pembangunan gereja tidak berizin dan praktek kristenisasi. Baginya, menyelamatkan tauhid dan aqidah umat merupakan hal paling penting dibanding lainnya.* 

 

Rubrik ini atas kerjasama dengan Persaudaraan Dai Nusantara (Pos Dai). Dukung dakwah para dai pedalaman  melalui rekening donasi  Bank Syariah Mandiri  7333-0333-07 a/n:Pos Dai Hidayatullah, BNI, no rek: 0254-5369-72 a/n: Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta, Bank Muamalat no rek: 0002-5176-07 a/n: Yayasan Dakwah Hidayatullah Pusat Jakarta.  Ikuti juga program dan kiprah dakwah dai lainnya serta laporan di portal www.posdai.com

Rep: Niesky Abdullah
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Syaikh Syarafuddin al-Azhari Mentor Mahasiswa Indonesia di Mesir

Syaikh Syarafuddin al-Azhari Mentor Mahasiswa Indonesia di Mesir

Semangat Juang dan Teladan dari dr Saifuddin Hamid

Semangat Juang dan Teladan dari dr Saifuddin Hamid

[Berita Foto] Masuk-Keluar Hutan Menebar Qurban

[Berita Foto] Masuk-Keluar Hutan Menebar Qurban

Geliat Dakwah di Barelang Teluk Air

Geliat Dakwah di Barelang Teluk Air

Tak Kendur Mencetak Dai, Meski Dicap Stres

Tak Kendur Mencetak Dai, Meski Dicap Stres

Baca Juga

Berita Lainnya