Selasa, 7 Desember 2021 / 2 Jumadil Awwal 1443 H

Kisah & Perjalanan

Perjalanan Singkat Bersama Sang Ustadz Jelang Wafat di Pesawat

Ida Nahdah
Pesawat Etihad Airways di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Bagikan:

Puluhan tenaga pendidik di beberapa pondok pesantren melakukan tur pendidikan ke lembaga-lembaga pendidikan di Turki, diprakarsai Depdikdasmen DPP Hidayatullah (17-26/10/2021). Mereka sekaligus menapaktilasi sejarah peradaban Islam di sana. Berikut sebagian kisah perjalananya, ditulis salah seorang peserta tur, Ida Nahdhah, untuk hidayatullah.com, secara berseri.

 

Hidayatullah.com | “ASSALAMU’ALAIKUM!” Sang ustadz menyapa ke arah kamera beberapa saat sebelum menjejakkan kaki ke atas pesawat. Salam terakhirnya yang sempat kami rekam.

Sebanyak 21 peserta dalam rombongan study tour berkumpul di Kantor DPP Hidayatullah, Cipinang, Jakarta Timur, Jumat hingga Sabtu (15-16/10/2021). Rombongan ini terdiri dari berbagai stakeholder dan unsur pelaksana pendidikan Hidayatullah dari Sabang-Merauke.

Di Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah itu, kami disambut dengan sangat baik. Ibu-ibu menginap di Kantor Muslimat Hidayatullah dan guest house khusus Ummahat, ditemani oleh Ummi Nursiah, istri salah seorang pengurus DPP. Adapun bapak-bapak menempati kamar-kamar tamu/wisma yang sudah disediakan.

Pada Sabtu malam (16/10/2021), pukul 17.00-19.00 WIB kami menjalani tes PCR oleh petugas kesehatan yang datang ke Kantor DPP. Alhamdulillah, keesokan paginya sekitar pukul 08.00 WIB kami menerima hasil PCR, semua dinyatakan negatif.

Selain diajak keliling Kantor DPP oleh Ummi Nursiah, kami juga sempat mendokumentasikan kebersamaan seluruh rombongan tur di depan gedung DPP. Kemudian, Ahad (17/10/2021) pukul 15.00 WIB, kami menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta menggunakan bus. Tepat pukul 22.10 WIB, pesawat Etihad Airways terbang membawa kami dari Bandara Soetta (Jakarta) dengan tujuan Abu Dhabi.

Perjalanan Jakarta-Abu Dhabi memakan waktu kurang lebih 7 jam. Kami dijadwalkan akan transit di Abu Dhabi selama kurang lebih 4 jam.

Di antara peserta safar menuju Turki itu, ada 4 pasang suami istri yang turut serta. Yaitu saya dan suami (perwakilan Hidayatullah Jogjakarta), lalu Ustadz Farhan dan Ibu Santi Nurhasanah (Hidayatullah Batam), Ustadz Lukman Hakim dan Ibu Herlina (Hidayatullah Palembang), dan Ustadz Laendra Rahmat Kartolo dan Ibu Rita Sahara (Hidayatullah Pati).

Khusus pasangan suami-istri yang terakhir itu, ada kisah yang tidak akan pernah lekang dari ingatan kami, menyisakan rasa sesak mendalam, jua ibrah dan hikmah yang sangat membekas di sanubari.

“Selamat Jalan, Ustadz!”

Kali pertama saya bertemu Ustadz Rahmat dan Ibu Rita, yaitu saat kami berkumpul di Kantor Pusat DPP di Cipinang, Sabtu itu, sebelum tes PCR. Keesokan harinya pun saat menunggu proses imigrasi sebelum keberangkatan ke Abu Dhabi, saya dan suami duduk bersebelahan dengan beliau berdua. Hingga saat berjam-jam lamanya kami menunggu ‘boarding time’, beliau berdua juga bersisian dengan kami.

Kebersamaan pun berlanjut hingga pada posisi kursi di pesawat. Kursi Ustadz Laendra Rahmat berada di sayap kanan pesawat, kami di tengah. Untuk penerbangan luar negeri, kursi penumpang biasanya ada 3 baris karena pesawat besar (Airbus): 1 baris ada 3 kursi berjejer.

Alhamdulillah, saat berangkat, kursi di jejeran tengah hanya diisi kami berdua saja, satu slot kosong. Begitu juga dengan jejeran kursi yang diduduki Ustadz Rahmat dan Ibu Rita.

Sepanjang perjalanan, mulai dari gedung DPP hingga bersama-sama di pesawat, saya menyaksikan betul bagaimana kasih sayang dan perhatian Ustadz Rahmat kepada istri tercinta. Genggaman tangan suami-istri itu nyaris tak pernah lepas. Ketika lama menunggu maka pangkuannya akan disiapkan agar sang istri bisa berbaring dengan lebih nyaman, maasya Allah. Sosok beliau berdua menjadi selayaknya orangtua, sekaligus inspirasi kami yang muda-muda ini selama kebersamaan di perjalanan.

Qodarullaah wa maa sya`a fa’ala. Pukul 3 dinihari saat pesawat yang kami naiki masih berada jauh di ketinggian, berjarak ribuan kaki dari bumi, di atas Kota Karachi-Pakistan, kurang lebih sekitar 2 jam lebih lagi baru akan tiba di bandara Abu Dhabi; Sungguh di luar dugaan, Allah memanggil Ustadz Laendra Rahmat Kartolo. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Saya duduk persis di sebelah almarhum dan istrinya (jarak 1 kursi kosong saja). Maka sejak beliau masih ada bersama kami, sampai saat proses pertolongan oleh para kru Etihad Airways (kurang lebih 1 jam) hingga dinyatakan sudah wafat, tidak terlewat satu detikpun oleh saya detik-detik kepergian Ustadz Lendra Rahmat. Namun cukuplah informasi rinci kronologi wafatnya beliau hanya untuk disimpan di memori kami saja, peserta tur ke Turki, sebagai ibrah. Almarhum husnul khaatimah, insyaa Allah!

Pukul 6 pagi waktu Abu Dhabi, Senin (18/10/2021), pesawat mendarat. Dikarenakan ada proses penanganan jenazah yang cukup lama dari pihak kepolisian, bandara, dan maskapai, maka penerbangan berikutnya dari Abu Dhabi menuju Istanbul pun mengalami delay.

Saat proses pengurusan jenazah, tak ada satupun penumpang yang boleh turun dari pesawat. Kurang lebih 2 jam kami bertahan di pesawat hingga pukul 08.10 diperbolehkan turun. Pukul 09.15 waktu setempat, barulah kami bisa melanjutkan penerbangan ke Istanbul dengan tetap menggunakan maskapai Etihad Airways tapi beda pesawat.

Berpulangnya almarhum teramat sangat mengguncang jiwa kami juga bagi saya pribadi. Hanya Allah Yang Maha Tahu, betapa sesaknya himpitan rasa di dada ini, saat kami harus melanjutkan perjalanan dari Abu Dhabi menuju Istanbul, Turki (setelah transit kurang lebih 4 jam di Abu Dhabi) tanpa Almarhum dan Ibu Rita turut membersamai kami.

Ustadz Laendra Rahmat Kartolo dan istri di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta sebelum terbang ke Turki. Ustadz Rahmat wafat di pesawat pada Senin (18/10/2021).*

Jujur kami sempat merasa tidak bersemangat setelah kejadian itu. Badan lemas, sangat terasa ada yang kurang, perasaan terpukul, sedih, sesak. Tidak bisa diungkapkan dengan persis lewat kata-kata. Rasanya ingin ikut kembali saja ke Indonesia bersama-sama, tapi itu tidak mungkin. Perjalanan harus tetap dilanjutkan.

Takdir Allah memisahkan fisik kami di Abu Dhabi, namun sosok beliau berdua selalu di hati dan pikiran, ke manapun kaki-kaki kami melangkah kini.

Perjalanan lanjutan kali ini memakan waktu 4 jam 10 menit. Tiba di Istanbul pukul 14.15 waktu setempat. Ada selisih waktu 1 jam dengan Abu Dhabi. Sementara itu, Ibu Rita dan salah seorang wanita pemandu tur ini harus bertahan di Abu Dhabi (Uni Emirat Arab) untuk mengurus dan menemani kepulangan jenazah ke Indonesia.

Bersama dalam perjalanan Jakarta – Abu Dhabi hanya sempat kurang lebih dua hari, namun itu sudah cukup bagi saya untuk bersaksi bahwa almarhum adalah sosok yang shaalih. Beliau sangat baik, sabar, taat, giat beribadah, tenang, dan tidak banyak berbicara (yang tidak perlu).

Semoga Allah menempatkan almarhum dalam naungan yang terbaik dan terindah di sisi-Nya, dan senantiasa menguatkan dan meneguhkan hati Ibu Rita dan keluarga yang ditinggalkan. Aamiin! Selamat jalan, mujahid. Kami masih harus melanjutkan perjalanan di dunia ini.* (Bersambung)

Baca juga: Dai Hidayatullah Wafat di Pesawat dalam Tugas Pendidikan ke Turki

Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur

Bagikan:

Berita Terkait

Merajut Mimpi di Kota Nabi

Merajut Mimpi di Kota Nabi

Sisa Duka dari Pondok Jihad Wittiya

Sisa Duka dari Pondok Jihad Wittiya

Shalat Id Pertama Disambut Tetesan Air Mata Muslim Tolikara

Shalat Id Pertama Disambut Tetesan Air Mata Muslim Tolikara

Sebuah Kesaksian: Gerimis Air Mata di Malangbong

Sebuah Kesaksian: Gerimis Air Mata di Malangbong

Hijra Fest 2018, Islam sebagai Life Style Cool dan Gagalnya Paham Liberal

Hijra Fest 2018, Islam sebagai Life Style Cool dan Gagalnya Paham Liberal

Baca Juga

Berita Lainnya