Selasa, 26 Oktober 2021 / 19 Rabiul Awwal 1443 H

Kisah & Perjalanan

Dakwah di Kepulauan Aru: “Tolong Kirimkan Ustadz Kepada Kami”

ustadz
Bagikan:

Sudah lebih dari 2 tahun kampung Jerukin tidak lagi memiliki ustadz, padahal hampir semua penduduk di kampung itu belum bisa membaca al-Qur’an

Hidayatullah.com | MENJELANG Magrib, pada Sabtu (25/9/2021), masyarakat Muslim di Kampung Jerukin, Pulau Maikoor, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, sudah berkumpul di masjid kecil berukuran sekitar 4×4 meter. Itulah satu-satunya masjid di kampung itu.

Jumlah jamaah tidak penuh. Hanya 3 shaf saja. Itu pun, pada shaf ketiga, kebanyakan diisi anak-anak. Sedang ibu-ibu ada di bagian belakang, terpisah dengan kain hijab.

Namun, menurut Ahmad Djamiri, imam masjid, jumlah penduduk yang shalat pada Maghrib itu terbilang banyak. “Biasanya tidak sampai seperti ini,” jelas Ahmad.

Kampung Jerukin berpenghuni 60 kepala keluarga (KK). Dari jumlah tersebut, 30 KK beragama Islam. Selebihnya penganut Kristen. Sebuah gereja berdiri juga di sana.

Ahmad menjelaskan, sudah lebih dari 2 tahun kampungnya tidak lagi memiliki ustadz. Dulu, seorang ustadz pernah bertugas di kampungnya. Namun, ustadz tersebut pindah ke Kota Dobo, Pulau Warmar, ibukota Kabupaten Kepulauan Aru. Sejak itu, tak pernah ada lagi ustadz yang berdakwah di kampung itu.

Padahal, kata Ahmad lagi, hampir semua penduduk di kampung itu belum bisa membaca al-Qur’an. Ia sendiri juga baru belajar menjadi imam dari ustadz yang sebelumnya bertugas di kampung itu. Hafalannya pun belum banyak.

Dulu, ustad yang bertugas di kampung tersebut sempat mengajari Ahmad tata cara memimpin shalat Jum’at. Namun, untuk memimpin shalat Idul Fitri atau Idul Adha, ia belum bisa. Akibatnya, masyarakat yang ingin menunaikan kedua shalat di hari raya tersebut terpaksa harus mengungsi ke kota sebelum hari raya tiba.

Ibu-ibu juga belum ada majelis taklimnya. Maklumlah, jelas Ahmad, belum ada ustadzah yang bisa membina mereka. Ahmad sendiri baru bisa mengajar anak-anak mengaji.

“Kampung ini sangat membutuhkan kehadiran ustadz. Tolong kirimkan (ustadz) kepada kami,” jelas Ahmad.

PosDai tawarkan anak-anak setempat dididik menjadi ustadz

Ketika PosDai Hidayatullah menawarkan kepada Ahmad agar mengirimkan beberapa remaja untuk dididik di pesantren Hidayatullah, ia tak yakin bisa. “Kebayakan orang tua di sini tak mengizinkan anaknya pergi merantau,” kata Ahmad. Mereka lebih suka bila anak-anaknya belajar menangkap ikan atau mencari kepiting bakau.

Padahal, anak-anak yang telah dididik di Sekolah Dai oleh PosDai Hidayatullah akan dikembalikan ke kampungnya untuk berdakwah di sana. Masa belajar pun tidak lama.

Ahmad juga bercerita bahwa beberapa bulan lalu pernah ada para dai Jamaah Tabligh datang ke kampung mereka. Namun, mereka tidak menetap lama. Mereka hanya berdakwah beberapa hari saja di kampung itu. Setelah itu mereka pergi ke pulau yang lain.

Ketua DPW Hidayatullah Maluku, Sulaiman Ismail, saat menyertai Hidayatullah.com menyambangi Kampung Jerukin dalam program Safari Dakwah di Kepulauan Aru atas undangan PosDai Hidayatullah (25/9) menyatakan akan berupaya memenuhi permintaan masyarakat kampung tersebut. “Insya Allah jika nanti jumlah dai kita sudah cukup, maka akan kita kirimkan dai ke kampung ini,” jelas Sulaiman.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan ikhtiar ini. Aamiiin.* (Mahladi)

Rep: Mahladi
Editor: Muhammad

Bagikan:

Berita Terkait

Dakwah Roli di Lereng Merapi

Dakwah Roli di Lereng Merapi

Mengunjungi Komunitas Islam di Guangzhou

Mengunjungi Komunitas Islam di Guangzhou

Inilah “Begal” Paling Dinanti di Sudan

Inilah “Begal” Paling Dinanti di Sudan

Idul Fitri Tak Masuk Hari Libur Nasional

Idul Fitri Tak Masuk Hari Libur Nasional

Ratko Mladic “Tuhan Serbia” Penjagal Muslim Bosnia (Bagian 1)

Ratko Mladic “Tuhan Serbia” Penjagal Muslim Bosnia (Bagian 1)

Baca Juga

Berita Lainnya