Senin, 25 Oktober 2021 / 19 Rabiul Awwal 1443 H

Kisah & Perjalanan

Dakwah di Kepulauan Aru: Transportasi Menjadi Kendala Utama

Bagikan:

Hidayatullah.com | WILAYAH Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, membentang sepanjang 185 kilometer dari utara ke selatan dan 90 km dari timur ke barat. Luas seperti itu hampir sama dengan 2 kali luas Pulau Bali.

Namun, jangan bayangkan kabupaten ini seperti Pulau Bali yang semuanya berbentuk daratan. Kabupaten Kepulauan Aru justru lebih banyak lautan. Luas lautan kira-kira 7,6 kali luas daratan. Karena itu, untuk menjangkau semua wilayah Kepulauan Aru, mutlak dibutuhkan kapal atau perahu.

“Tanpa kapal, kami tidak bisa menjangkau seluruh masyarakat Kepulauan Aru,” kata Sulaiman Ismail, Ketua DPW Maluku, kepada Hidayatullah.com saat mengikuti Safari Dakwah di Kepulauan Aru atas undangan PosDai Hidayatullah, Sabtu (25/9/2021).

Padahal, banyak masyarakat Muslim yang tinggal di pulau-pulau tersebut. Sebagai gambaran, di Kepulauan Aru ada 187 pulau, termasuk lima pulau besar, yakni Kola, Wokam, Kobror, Maikoor, dan Trangan. Dari keseluruhan pulau tersebut, 79 di antaranya berpenghuni.

Masyarakat Muslim yang tinggal di pulau-pulau tersebut belum semua tersentuh dakwah. “Banyak di antara mereka yang belum bisa membaca al-Qur’an,” kata Sulaiman.

Ia memberi contoh masyarakat Kampung Jerukin di Pulau Maikoor. Ada 30 KK Muslim di sana, sedang selebihnya, 30 KK lagi, non Muslim. Untuk menjangkau pulau ini diperlukan waktu 4 jam perjalanan dengan kapal kecil dari Dobo.

Beberapa tahun lalu, Sulaiman tinggal dan berdakwah di kampung tersebut. Ketika itu, kata Sulaiman, belum ada yang bisa membaca al-Qur’an. Hafalan pun hanya terbatas surat-surat pendek.

Di kampung tersebut sebetulnya ada masjid sederhana. Namun, tidak pernah dilaksanakan shalat Jumat. Sebab, tak ada yang bisa memimpin shalat Jumat.

Barulah setelah Sulaiman menetap di kampung itu, masyarakat mulai bisa mengaji. Bahkan, sudah bisa shalat Jum’at sendiri.

Ketika Sulaiman pindah tugas ke Dobo, masyarakat Kampung Jerukin merasa kehilangan. Apalagi Sulaiman sendiri jarang menjenguk mereka karena ketiadaan alat transportasi. Sementara bila menyewa kapal kecil dari Dobo ke Jerukin, biayanya besar sekali, yakni Rp 3 juta untuk satu kali perjalanan.

Kapal Dakwah

Sementara itu pada Sabtu (25/9), dai-dai Hidayatullah di Kepulauan Aru telah menerima sebuah kapal dakwah dari beberapa mukhlisin yang peduli dengan dakwah pedalaman di kepulauan Aru. Kapal berukuran 11x 2 meter persegi tersebut diterima oleh Sulaiman selaku Ketua DPW Hidayatullah Maluku, disaksikan sejumlah dai Hidayatullah di Dobo, Kepulauan Aru.

“Alhamdulillah sekarang kami sudah memiliki kapal dakwah,” jelas Sulaiman usai menerima kapal dengan berat 5 ton tersebut.

Jumadil Akhir, dai muda Hidayatullah yang ditugaskan berdakwah di Kepulauan Aru, menjelaskan rencananya untuk mengunjungi beberapa kampung binaan di sejumlah pulau dengan kapal tersebut.

Selain berdakwah dan bersilaturahim, ia juga ingin mengajak sejumlah anak muda Muslim dari beberapa pulau untuk belajar mengaji di pesantren Hidayatullah, Dobo. Setelah mereka mampu membaca al-Quran dengan baik, mereka akan dikembalikan ke kampungnya untuk mengajar ngaji di sana.

Kabupaten Kepulauan Aru adalah salah satu kabupaten dari total 9 kabupaten ditambah 2 kota di Propinsi Maluku. Kabupaten ini terbagi atas 10 kecamatan, 2 kelurahan, dan 80 desa.*

Rep: Mahladi
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Dari Nenek Lansia untuk Silatnas Hidayatullah

Dari Nenek Lansia untuk Silatnas Hidayatullah

Krisis Kantong-Kantong Pengungsi Suriah yang Terlupakan

Krisis Kantong-Kantong Pengungsi Suriah yang Terlupakan

“Belajar Berbagi dari Pengungsi NTB”

“Belajar Berbagi dari Pengungsi NTB”

Hujan “Tak Jadi” di Silatnas Dai

Hujan “Tak Jadi” di Silatnas Dai

Harga Mahal, Warga Bangladesh Jarang yang Merokok

Harga Mahal, Warga Bangladesh Jarang yang Merokok

Baca Juga

Berita Lainnya