Sabtu, 23 Oktober 2021 / 16 Rabiul Awwal 1443 H

Kisah & Perjalanan

Langka, Pesantren Ini Santrinya para Lansia

Bagikan:

Awalnya dicibir, “Lansia kok disuruh belajar agama, mana mau?”

Hidayatullah.com–Seorang wanita lanjut usia (lansia) tampak terbata-bata mengeja deretan huruf Hijaiyah di papan tulis. Sesekali ia mengalihkan fokus pandangannya ke mulut Ustadz Winarno, memastikan agar bacaannya tidak salah.

Itulah pemandangan sehari-hari di Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat, Desa Gedong, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang (Jateng). Arti kasepuhan kurang lebih sama dengan lansia.

Kegiatan itu dimulai selepas shalat Shubuh. Para santri tampak tekun mengaji. Ada yang memulai dari alif-ba-ta, namun ada pula yang sudah lumayan lancar. Pesantren ini memiliki santri lansia mukim 35 orang, non-mukim 60 orang, dan yang tinggal di rumah-rumah ada 160 orang.

“Sebagiannya warga Gedong. Tetapi lebih banyak yang berasal dari luar kota, bahkan luar pulau seperti Jambi, Solok, Samarinda, Balikpapan, dan Sulawesi. Usia mereka rata-rata di atas 60 tahun,” terang Winarno, pendiri pesantren lansia.

Bagi santri yang tinggal di rumah masing-masing, pihak pesantren melakukan kunjungan rutin. Dilakukanlah pembinaan spiritual, pemeriksaan kesehatan, dan penyaluran bantuan biaya hidup.

Mualaf

Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat terletak di daerah pegunungan. Jalannya sempit, berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan tajam, berikut bibir jurang yang rawan. Namun keindahan alamnya sungguh mempesona.

Pak Win—panggilan akrab Winarno—merintis pesantren ini pada akhir tahun 2017. Ia merasa prihatin melihat begitu banyak lansia yang tak terawat, baik fisik maupun ruhaninya.

“Harus diakui, selama ini kita mengabaikan pendidikan agama bagi kaum lansia. Anak-anak muda di kampung setidaknya masih bisa mengakses pengajian UAS, Aa’ Gym, dan lain-lain dari Youtube. Tapi bagaimana lansia? Siapa yang peduli terhadap kehidupan spiritual mereka?” ujarnya.

Pak Win lantas tercenung dengan Surat al-Ahqaaf ayat 15, “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya ialah tiga puluh bulan, sehingga bila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku…”

Sebelumnya, Pak Win berkarir di Jakarta, merantau sejak usia SMP. Lantas karir itu ditinggalkannya.

“Saya putuskan untuk meninggalkan seluruh kemewahan hidup di Jakarta, lalu full tinggal di kampung sembari menemani ibu yang sudah uzur,” ucapnya.

Tentu saja banyak tantangan yang harus dihadapi atas pilihan ekstrem ini. Tapi, Pak Win yakin, Allah akan memberikan jalan dan mengganti semua kenikmatan yang ditinggalkan, dengan ganti yang lebih baik.

Apalagi memang kampung halamannya amat membutuhkan sentuhan dakwah. Pemeluk agama Islam hanya kisaran 50%, sisanya non-Muslim dan penganut aliran kepercayaan.

Pak Win sendiri mengaku baru memeluk Islam ketika usia 15 tahun. Sebelum itu ia pernah dididik sebagai pengkabar Injil. Itulah sebabnya dirinya cukup faham tentang strategi kristenisasi.

Dia kemudian memilih metode dakwah yang soft (lembut). Namanya kental nuansa Jawa, memakai kata kasepuhan. Sementara nama yayasannya adalah Pitutur Luhur.

Kegiatan pesantrennya disebut Olah Rogo, Olah Jiwo, Olah Roso. Harapannya, nama itu bisa lebih mudah diterima masyarakat setempat yang memang teguh menggenggam falsafah leluhur Jawa.

Olah rogo adalah kegiatan menjaga fisik agar tetap sehat. Setiap pagi, para lansia dibimbing untuk berolah raga ringan di ruang terbuka. Juga pemeriksaan kesehatan secara rutin dari puskesmas setempat.

Olah jiwo adalah kegiatan ruhani, misalnya mengaji, shalat, serta mempelajari dan membiasakan kembali dasar-dasar ibadah keislaman.

Olah Roso adalah kegiatan mengasah kepekaan sosial kemasyarakatan.

Berbagai Kendala

Awalnya, Pak Win memanfaatkan tanah pekarangan milik ibunya yang juga mualaf. Seluruh biaya pembangunan berasal dari kantong pribadi.

“Saya gadaikan mobil dan utang kepada mitra bisnis. Namun alhamdulillah sebagiannya sudah terbayar. Ndak masalah. Inilah perjuangan” katanya dengan mimik santai.

Banyak yang mencibirnya, “Lansia kok disuruh belajar agama, mana mau?”

Pernah pula ada sekelompok warga non-Muslim yang menghalangi niat mulianya. Akses jalan ke pesantren ditutup. Namun Alhamdulillah, dengan pendekatan persuasif, rintangan-rintangan tersebut dapat dilalui.

Kini kendala yang sangat terasa adalah soal dana. Pesantren sedang berikhtiar membangun masjid al-Karimiah di atas tanah wakaf seluas 2000 meter persegi. Rencananya di sini akan dibangun semacam kompleks pemukiman buat lansia. Proses pembangunan masjid baru mencapai 30%.

Alhamdulillah, meskipun tersendat-sendat, kami sudah bisa melakukan pengecoran atap lantai satu. Insya Allah dalam waktu tak berapa lama lagi, lantai satu sudah bisa digunakan untuk shalat.”

Berbagai upaya penggalangan dana dilakukan. Pak Win terus mengajak para dermawan untuk menyisihkan sebagian harta dalam rangka menyelesaikan pembangunan masjid.

Pak Win bercita-cita agar Desa Gedong kelak menjadi pusat pembinaan lansia. Terbukti banyak lansia yang ingin mendalami agama, karena selama hidupnya terkesan abai dan sibuk mengejar dunia.

“Ada beberapa santri yang dulunya pengusaha sukses. Menjelang usia lanjut, mereka merasakan kekosongan batin dan kegersangan spiritual. Ada beberapa yang berencana membangun rumah di sini, menyambut husnul khatimah di kampung ini,” terang Pak Win.

Berkat komunikasi yang baik, berbagai komunitas kini mendukung aktivitas Pesantren Kasepuhan Raden Rahmat. Misalnya dari Sahabat Babinsa, komunitas yang beranggotakan pemuda-pemuda desa binaan Badan Pembina Desa.

Ada lagi komunitas Sayur Barokah, yang terdiri atas para petani sayur di daerah tempat wisata Kopeng, Salatiga. Juga komunitas Sego Jumat yang biasa berbagi konsumsi di masjid-masjid seusai shalat Jumat.

“Kami sering bertemu, saling berbagi, saling menguatkan. Meskipun hanya komunitas kecil, jika saling berjalin dalam tali ukhuwah, insya’Allah ikatannya akan kuat,” kata Anita, pendiri komunitas Sego Jumat. *MD Aminuddin/Hidayatullah.com

 

 

Rep: MD Aminuddin
Editor: Bambang S

Bagikan:

Berita Terkait

Kisah Heroik Nenek Selamatkan Cucu dari Reruntuhan Saat Gempa

Kisah Heroik Nenek Selamatkan Cucu dari Reruntuhan Saat Gempa

Talaqqi Dr.Hisyam  Kamil, Dapat Ilmu, Kitab, Sanad dan Makan

Talaqqi Dr.Hisyam Kamil, Dapat Ilmu, Kitab, Sanad dan Makan

Siddik Kelsaba, Santri Irian yang Ingin Hafal al-Quran Setahun Lagi

Siddik Kelsaba, Santri Irian yang Ingin Hafal al-Quran Setahun Lagi

Tak Semata Umar Guli yang Dibuat Galau Kemenkominfo

Tak Semata Umar Guli yang Dibuat Galau Kemenkominfo

Manuskrip Islam dalam “Genggaman” Barat [2]

Manuskrip Islam dalam “Genggaman” Barat [2]

Baca Juga

Berita Lainnya