Ahad, 24 Januari 2021 / 10 Jumadil Akhir 1442 H

Kisah & Perjalanan

Membina Santri di Daerah Buangan

Para santri Pesantren Hidayatullah Boven Digoel /hidayatullah.com
Bagikan:

Hidayatullah.com | BANGUNAN-bangunan sederhana itu berdiri tidak jauh dari pemukiman warga setempat. Beberapa bagian bangunan masih dalam tahap akhir penyempurnaan. Sekilas terlihat tidak begitu menarik dipandang mata, namun siapa sangka di situlah tempat dibinanya para generasi Penghafal Al-Qur’an  dan menjadi jantung kegiatan Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel, Provinsi Papua.

Kondisi bangunan yang masih dalam tahap penyelesaian itu tidak menyurutkan semangat para ustadz, untuk tetap semangat dalam mendidik santri. Apalagi masyarakat yang semakin menaruh kepercayaan ke pesantren ini untuk mendidik anak-anak mereka belajar dan menghafalkan al-Qur’an. Hal tersebut menjadi semangat dan motivasi bagi para ustadz yang ada.

“Pesantren Hidayatullah ini adalah pesantren pertama yang ada di Boven Digoel. Alhamdulillah, dari waktu ke waktu respon masyarakat sekitar semakin baik, bahkan yang jauh dari daerah sini pun mengantarkan anak-anak mereka untuk belajar al-Qur’an di sini,” ujar Zainal selaku pimpinan pesantren.

Jumlah yang santri yang belajar sekarang ada 200-an anak. Ada yang mukim, ada juga yang pulang ke rumah.  Para santri berasal dari berbagai suku. Ada yang berasal dari Bugis-Makasar, ada yang Jawa dan juga putra-putri asli daerah. Dengan berjalannya waktu, kini telah berdiri satu lembaga pendidikan yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs), dengan jumlah murid pertama sebanyak 40 anak.

“Alhamdulillah, pada 2019 dengan ikhtiar yang kuat, kami telah membuka sekolah formal. Walau dengan ruang belajar yang masih terbatas, kami harapkan tidak menyurutkan semangat para santri untuk tetap belajar,” ujar Zainal.

Cikal Bakal Perintisan

Pondok Pesantren Hidayatullah Boven Digoel beralamat di Jalan Trans Papua Titik Nol, Kampung Persatuan, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel, berjarak 424 km dari Kabupaten Merauke. Dirintis pertama kali oleh Ustadz Rasto pada 2010, kemudian dilanjutkan pada tahun 2017 hingga sekarang oleh Ustadz Zainal.

Awalnya bermula dari sebuah kontrakan di daerah Kampung Sokaggo. Rumah kontrakan itu menjadi multi fungsi: rumah tingggal, mushola, kantor, asrama dan tempat mengaji anak-anak sekitar.

Baca: Cara Pesantren Hidayatullah Panceng Cegah Santri Pacaran

Para perintis terus bergerak. Mengajar ngaji, menggalang dukungan dan tak lupa mencari lahan untuk pesantren. “Sa’i” mereka tidak percuma. Kesungguhan mereka membuat Allah SWT senang. Munajat mereka yang tak pernah berhenti di sepertiga malam, didengar Allah SWT.

Sang Pemilik Kehidupan pun menurunkan bantun-Nya lewat Aniansyah yang mewakafkan tanahnya seluas 25 x 25 meter yang terletak di Jalan Trans Papua. Kemudian seiring berjalan waktu hasil dari infaq masyarakat dibelilah tanah seluas 25 x 50 meter di samping tanah sebelumnya.

Kini di atas lahan itu telah berdiri beberapa lokal bangunan yang terdiri dari sekolah, asrama santri, serta beberapa petak untuk rumah pengasuh (masih tahap pembangunan).

Minim Fasilitas

Kini pesantren yang mempunyai fokus pada kegiatan sosial, dakwah dan pendidikan ini telah menyelenggarakan sekolah formal, pusat pendidikan anak shaleh (PPAS), rumah dakwah, taman pengajian al-Qur’an (TPA). Selain membuka sekolah formal, pesantren ini juga membuka progam khusus Tahfidzul Qur’an yang dipaketkan bersama sekolah formal.

Fasilitas di pesantren yang belum memadai, mengharuskan bangunan yang ada digunakan secara serbaguna. Para pengurus terus berusaha untuk melengkapi sarana prasarana pendidikan. Saat ini tengah dalam tahap merampungkan dua  gedung, yang akan digunakan sebagai asrama dan sekolah. Walaupun biaya pembangunan yang dibutuhkan besar, pengurus yakin pertolongan Allah SWT pasti akan datang dari tangan-tangan dermawan yang ikhlas.

Baca: Inilah Cabang Pertama Pesantren Hidayatullah

Selain menyelenggarakan pendidikan formal, pengurus pesantren turut aktif membina masyarakat setempat, dengan membuka rumah dakwah dan  membina beberapa majelis taklim yang ada di sekitar maupun yang berada jauh dari daerah pesantren. Dengan pembinaan tersebut, diharapkan masyarakat dapat mengenal pesantren lebih dekat.

“Alhamdulillah, kami juga turut aktif dalam membina beberapa majelis taklim sekitar. Pengajian biasa diselenggarakan di sini tiap bulannya. Semoga kami selalu istiqomah,” lanjutnya.

Selain membina masyarakat, Zainal dan pengurus lainnya intens bersilaturahim dengan tokoh masyarakat, maupun tokoh pemerintahan di Boven Digul. Berkat silaturahim tersebut, banyak yang menaruh simpati, hingga banyak tokoh pemerintahan yang berkunjung ke pesantren.

“Alhamdulilah, selain respon warga masyarakat, beberpa tokoh masyarakat maupun pemerintahan juga sempat berkunjung kesini. Wakil Bupati juga sempat bersilaturahim kepesantren. Alhamdulillah, banyak yang peduli terhadap anak-anak di sini,” ujar Zainal.

Memang faslitas pendukung  maupun tenaga dai yang ada di pesantren belum memenuhi kapasitas. Namun semangat yang besar dari para pengurus yang ada untuk melahirkan generasi Qur’ani di daerah yang dulunya menjadi tempat pembuangan pejuang kemerdekaan ini harus  disapresiasi bagi semua pihak.

Zainal dan pengurus yakin, mereka tidak sendiri dalam mendidik para santri. Mereka yakin ada Allah yang memudahkan perjuangan melalui angan-tangan dermawan yang ikhlas membantu.*/Supriyanto Refra, Majalah Suara Hidayatullah

Rep: Admin Hidcom
Editor: Insan Kamil

Bagikan:

Berita Terkait

“Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [1]

“Kerukunan Alami” di Pulau Kenari [1]

Pria Gaza Terancam Deportasi dari Prancis karena Tolak  jadi Informan (2)

Pria Gaza Terancam Deportasi dari Prancis karena Tolak jadi Informan (2)

‘Jihad’ Ahong di Ningxia Hui (1)

‘Jihad’ Ahong di Ningxia Hui (1)

Setengah Abad Mencari Halal, Meski Hidup Miskin

Setengah Abad Mencari Halal, Meski Hidup Miskin

Mengaji di Awan Biru, Menguras Saku [1]

Mengaji di Awan Biru, Menguras Saku [1]

Baca Juga

Berita Lainnya