Selasa, 2 Maret 2021 / 18 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Lari Saat Gempa, Muslimah Sempatkan Ambil Kerudung

hamim/hidayatullah
Muslimah korban gempa-tsunami di tengah-tengah reruntuhan bangunan Pesantren Hidayatullah, 3 Oktober 2018, setelah kampus dihantam gempa dan tsunami, Jumat (28/09/2018).
Bagikan:

MUSLIMAH, sebut saja nama wanita itu, sudah bersiap-siap berwudhu. Sebentar lagi ia akan menunaikan shalat fardhu. Adzan maghrib yang terdengar dari pengeras suara masjid di samping rumahnya sudah mau selesai.

“Laa ilaha illallah…”

Namun, begitu adzan berakhir, Muslimah bukannya mengambil air wudhu, tapi malah bergegas untuk melarikan diri. Niatnya berwudhu dan shalat terpaksa diurungkan. Sebab, tiba-tiba suara dan goyangan keras mengguncang tempatnya berpijak.

Itulah detik-detik terjadinya gempa dahsyat berkekuatan 7,4 skalar richter yang kemudian disusul tsunami yang menghantam dan memporak-porandakan Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan sekitarnya di Sulawesi Tengah, Jumat, 28 September 2018.

Sore itu, suasana senja yang tenang di pantai Tondo, Palu, tempat dimana Muslimah tinggal, berubah seketika. Kepanikan terjadi dimana-mana.

Baca: Pesantren Kena Gempa dan Tsunami, Santri-Ustadznya Selamat

Beruntung Muslimah masih berpikir agak tenang. Meski suasana mencekam, ia masih sempat memikirkan kehormatan dirinya dan keselamatan keluarganya. Ia menyempatkan diri mengambil hijab penutup auratnya.

“Saya matikan kompor, saya masuk cari (dan ambil) kerudung, tarik HP karena saya juga untuk komunikasi, saya gendong anak yang umur 3 tahun, (sama) yang satunya yang kelas 3, saya lari saya, enda noleh-noleh ke belakang,” tuturnya ditemui koresponden hidayatullah.com di sela-sela reruntuhan bangunan di Kampus Pesantren Hidayatullah Palu di Kelurahan Tondo, Kecamatan Palu Barat, 3 Oktober lalu.

Kampus pesantren ini terletak hanya selemparan batu di bibir pantai. Saat kejadian, sebagian kampus porak-poranda, mulai rumah warga sampai gedung asrama. Meski begitu, atas kehendak Allah, semua penghuni pesantren berhasil menyelamatkan diri dan mengungsi.

Termasuk Muslimah yang selamat dari amukan tsunami setelah berhasil melarikan diri saat gempa terjadi. Ia juga terbantu dengan peringatan dari warga yang berteriak bahwa tsunami akan datang.

“Naik air,” teriakan itu ditirukannya kembali.

Baca: Digoyang Gempa Susulan di Palu, Jamaah Tetap Selesaikan Shalat

Saking paniknya saat melarikan diri, ia tak sempat lagi beralas kaki. “Cuma baju di badan (termasuk hijab), enda pakai sendal apa, enda ada sudah, anak saja kita bawa,” ungkapnya dengan logat khas orang Sulawesi.

Suaminya sedang tidak di rumah saat kejadian. “Saya sendiri dengan anak saya di sini, saya lari ke atas (gunung),” tutur wanita bercadar dan berjilbab besar ini.

Sekarang kondisinya sangat trauma akibat kejadian tersebut. Ia kini tinggal di pengungsian pesantren bersama keluarga.* Hamim/SKR

Berita gempa dan tsunami Palu bekerjasama dengan Dompet Dakwah Media

Rep: Admin Hidcom
Editor: -

Bagikan:

Berita Terkait

Dusun Pucuan, Ekstotis Tapi Memperihatinkan!

Dusun Pucuan, Ekstotis Tapi Memperihatinkan!

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

“Sarjana Pertanian” Itu Dikucilkan Warga Desa Karena Memilih Islam

Sufisme, Jalan Lain Muslim Turki lawan Sekuralisme

Sufisme, Jalan Lain Muslim Turki lawan Sekuralisme

Malu Tak Puasa Arafah, Tradisi Idul Adha Warga Mesir

Malu Tak Puasa Arafah, Tradisi Idul Adha Warga Mesir

Kisah Relawan: Evakuasi Diancam Warga, Cari Mayat Dapat Ikan Busuk

Kisah Relawan: Evakuasi Diancam Warga, Cari Mayat Dapat Ikan Busuk

Baca Juga

Berita Lainnya