Lika-liku Ketua Takmir Masjid Pedalaman Minoritas Muslim

"Saya tidak bisa mengaji, tidak pernah juga mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, apalagi menjadi santri. Tapi karena permintaan dari warga untuk menjadi ketua takmir, maka saya jalani dengan sepenuh hati, dengan insya Allah saya mencoba untuk memegang amanah ini, meski sangat berat bagi saya."

Lika-liku Ketua Takmir Masjid Pedalaman Minoritas Muslim
Zulkarnain/hidayatullah.com
Suyatno, Ketua Takmir Masjid Ar-Rahman, kampung Datah Bilang, Kabupaten Mahulu, Kaltim.

Terkait

MALAM mulai menjelang. Musik khas suku Dayak Kenyah bergema di depan sebuah penginapan. Sesekali muda-mudi suku Dayak hilir mudik, sembari mengucapkan salam kepada para pendatang. Itu memang kebiasaan mereka kepada orang-orang baru di kampung ini.

Datah Bilang, sebuah kampung pedalaman di Kabupaten Mahakam Hulu (Mahulu), Kalimantan Timur.

Di bawah sebuah rumah panggung, tampak sosok pria duduk menanti pembeli air minum botolan galon yang dijualnya. Ia ditemani rokok dan kopi yang masih mengepulkan asap.

Suyatno, demikian nama pria pendatang itu. 17 tahun yang lalu ia merantau dari tanah kelahirannya di Jawa Barat. Bersama istrinya, ia bertekad ingin mencari sesuap nasi di belahan pedalaman Kaltim ini.

Dalam penuturannya, Suyatno mengaku, selama di Datah Bilang ia mengalami perubahan nasib. Terutama dalam hal spiritual.

Tujuh tahun yang lalu mengawali perubahan dalam hidupnya. Dulunya ia tak rajin ke masjid. Namun kini, ia justru menjadi Ketua Takmir Masjid Ar Rahman di Kampung Datah Bilang. Di situ pun ia menemukan kedamaian dalam hatinya.

Di sisi lain, ia mengaku tak mudah mengemban amanah itu.

“Menjadi pelayan masjid (Ketua Takmir) merupakan amanah tersulit. Karena di kampung ini Islam merupakan minoritas dan di kampung ini kami tinggal dengan berbagai macam agama, kepercayaan, dan suku,” ujarnya saat ditemui hidayatullah.com pekan kemarin, penghujung Desember 2017 lalu.

Baca: Mualaf di Pedalaman Kaltim Butuh Pendampingan dan Pembinaan

Selama tujuh tahun ia menjabat sebagai kepala takmir masjid di situ, banyak keluh kesah yang ia rasakan. Bahkan ia sempat berada pada titik jenuh sampai ingin berhenti dari aktivitasnya di masjid. Namun itu tak berlangsung lama.

“Terkadang saya merasa berada di titik jenuh, ingin meninggalkan semuanya. Tapi ketika melihat ke belakang, masjid ini tak ada yang merawat. Di situ saya mulai semangat lagi,” ungkapnya.

Ketika acara peringatan maulid Nabi Muhammad digelar di tempat ini, penghujung tahun 2017, dia menangis terharu dan bangga melihat anak-anak membaca al-Qur’an dan melantunkan shalawat Nabi.

“Saya tidak bisa mengaji, tidak pernah juga mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, apalagi menjadi santri. Tapi karena permintaan dari warga untuk menjadi ketua takmir, maka saya jalani dengan sepenuh hati, dengan insya Allah saya mencoba untuk memegang amanah ini, meski sangat berat bagi saya,” ungkapnya.

Selama menjabat sebagai takmir, seringkali ia menerima kunjungan tamu dari luar daerah. Tetamu itu pun ia layani secara baik, misalnya dengan memberikan tempat istirahat di penginapan.

“Saya akan merasa senang banget, jika ada yang dari luar desa ini berkunjung. Maka sebagai takmir, saya merasa ini adalah tanggung jawab dan akan berusaha melayani para tamu dengan sangat baik. Karena dengan pelayanan tersebut kami mengharapkan ada berkah yang kami dapatkan,” tuturnya dengan matanya berkaca-kaca.

Kedatangan hidayatullah.com ke kampung ini bersama rombongan tim medis IMS dan Laznas BSM. Selama 3 hari kami mengisi tujuh kamar penginapan. Normalnya, jika ada tamu yang ingin memakai penginapannya, maka harus membayar Rp 75 ribu per malam.

Setelah kami mengonfirmasi kisaran bayaran penginapan kepada Suyatno, jawabannya jauh dari perkiraan.

“Ini gratis, Mas, bagi saya apa yang saya berikan ini tak ada harganya bagi saya, hanya ini yang kami bisa berikan,” ungkapnya.

Baca: ‘Semoga Islam Semakin Benderang di (Masjid) Long Melaham’

Suyatno selalu yakin, jika ia membantu urusan agamanya, ada saja jalan keluar dari setiap permasalahan yang dihadapi. Seperti yang ia rasakan selama ini. Pernah, suatu ketika dia sangat ingin memasang keramik masjid, padahal uang kas tinggal Rp 250 ribu.

“Sampai dibilangin gila sama masyarakat,” ungkapnya.

“Tapi ada saja cara Allah membantu kita ketika menolong agamanya,” tambahnya.

Di akhir kepengurusannya selama tiga periode menjabat Ketua Takmir Masjid Datah Bilang, ia sangat ingin yayasan yang dikembangkan memiliki amal usaha, guna menopang kerjanya membangun TPQ dan TK.

“Saya bercita-cita bahwa yayasan yang kami dirikan ini memiliki sarang walet dan mobil boks, sebagai ladang usaha yang hasilnya buat biaya kebutuhan TPQ dan TK tersebut,” ungkapnya, berkaca-kaca.* Zulkarnain

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !