“Cita Rasa Lidah Eropa Saja Tak Mudah Langsung Diterima…”

Apalagi yang lebih serius dari sekadar kulinernya, semisal budaya masyarakat hingga nuansa agamanya.

“Cita Rasa Lidah Eropa Saja Tak Mudah Langsung Diterima…”
naspi arsyad/hidayatullah.com
Salah satu hidangan di sebuah rest area di Kota Zurich, Swiss.

Terkait

Sambungan dari kisah kelima

 

BERADA di daratan benua Asia, tak dapat dipungkiri Indonesia memiliki banyak perbedaan dengan negara-negara benua Eropa.

Apakah cuacanya, sosio-kulturalnya, hingga pilihan beragamanya, yang dinilai terpengaruhi secara signifikan dari perbedaan teritorialnya ini.

Hal inilah yang dirasakan oleh Suharsono dan Naspi Arsyad, anggota Dewan Mudzakarah DPP Hidayatullah, yang sedang melakukan studi lapangan (field research) ke beberapa negara Uni Eropa untuk melengkapi data buku yang sedang dituntaskannya.

Baca juga: “Saya akan Menolak Tinggal di Eropa…”

Dengan latar belakang ketimuran, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk bisa langsung beradaptasi dengan kultur Eropa, demikian dirasakan Suharsono.

“Bahkan untuk hal sederhana seperti makanan. Cita rasa lidah masyarakat Eropa menyajikan menu makanan yang tidak mudah diterima secara langsung oleh kita,” tuturnya.

“Enam hari keberadaan saya di Eropa Barat, belum mampu membujuk lidah untuk menerima rasa Eropa secara utuh,” ungkap penulis buku The Dome of The World ini.

Baca juga: Membelah Benua Biru, Menuju “The Dome of The World”

Apalagi yang lebih serius dari sekadar kulinernya, semisal budaya masyarakat hingga nuansa agamanya.

“Selama perjalanan, saya tidak pernah menemukan masjid yang secara demonstratif berdiri di ruang terbuka sebagaimana yang kita dapati di Indonesia,” lanjut pria yang lama berkecimpung di Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) saat mudanya dulu.

Tentu sebaliknya dengan rumah-rumah ibadah non-Muslim, terutama gereja.

Sebuah gereja di Venice, Italia, Agustus 2017. [Naspi Arsyad/hidayatullah.com]

“Namun saya menyadari bahwa inilah resiko menjadi kaum minoritas yang tentu secara politis harus bisa menerima realita ini,” tambahnya bersikap toleran.

Tapi inilah tantangannya. Bagi Naspi, masyarakat Eropa harus diyakinkan bahwa Islam bukanlah agama yang harus ditakuti.

“Bahkan sebaliknya, Islam adalah jawaban atas kebimbangan mereka karena paham materialisme yang mereka anut bukanlah satu solusi hidup yang tepat,” tambah Naspi pada kesempatan yang sama berkisah kepada hidayatullah.com.

Perjalanan mereka di daratan Eropa berlangsung sejak pertengahan hingga akhir bulan Agustus ini. Antara lain menyusuri Italia, Swiss, Belanda, dan sebagainya.

Baca juga: Di Kota Roma, Saudara dari Bangladesh itu ‘Meminjamkan’ Minimarketnya…

“Saya menangkap fenomena sosial yang terjadi saat ini di negara-negara Eropa, mulai dari rendahnya tingkat kelahiran hingga biasnya pola pendidikan anak, serta semakin tidak menariknya gereja-gereja bagi penduduk Eropa, dapat menjadi sumber masalah tersendiri bagi pemerintah yang tentu tidak mudah meretasnya,” tandas Naspi.* Bersambung

Rep: Admin Hidcom

Editor: Muhammad Abdus Syakur

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !