Dompet Dakwah Media

Alep Mydie, Pemuka Muslim di Kota Katanning

Pengungsi lainnya yang juga asal Myanmar, Keh Blut SoeTeeshava, mengatakan tantangan utama anak muda di Katanning adalah akses pendidikan tinggi

Alep Mydie, Pemuka Muslim  di Kota Katanning
australiaplus.com
Imam Alep Mydie, pemuka masyarakat Alep Mydie menyatakan telah lama menunggu kedatangan Menteri Imigrasi ke kota itu.

Terkait

Hidayatullah.com–Alep Mydie, pemuka warga Muslim di Katanning, sebuah kota pedalaman di Australia Barat, tak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya. Dia begitu senang atas kedatangan Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton ke kota multikultur paling sukses tersebut.

Alep sangat senang karena masjidnya, Masjid Katanning, kedatangan tamu menteri tingkat federal untuk pertama kalinya sejak dibangun tahun 1980.

Alep merupakan pemuka warga muslim yang berjumlah 400-an orang di Kota Katanning, yang terletak 277 km dari Kota Perth tepatnya di daerah pemilihan (dapil) O’Connor.

Menteri Peter Dutton berkunjung ke Katanning pekan lalu, dan menggambarkan kota itu sebagai salah satu “sukses terbesar” multikultur di Australia sejak Perang Dunia II atau sejak tahun 1970-an.

Dia mengatakan, pujian mengenai masyarakat muslim Katanning sebagai contoh sukses pasca perang akan mendorong warga setempat lebih giat mempromosikan kotanya di Australia maupun di luar negeri.

“(Kunjungan) ini membuat kami ingin lebih maju, ingin lebih berpartisipasi dan dorongan bagi kami untuk mempromosikan Katanning dan juga Australia ke seluruh dunia,” katanya dikutip  australiaplus.com, Rabu (28/06/2016).

“Bagi kami sebagai warga Australia, jika datang ke Malaysia, Brunei atau Singapura, mereka akan melihat kami sebagai muslim Australia sehingga kami bisa sampaikan, ‘Beginilah kami, bukan seperti yang anda dengar dari orang, ini yang kami inginkan – berpartisipasi dengan pemerintah, bukan mengisolasi diri,” ujarnya.

Alep Mydie_Hadrah

Para pemain rebana unjuk kebolehan di depan Masjid Katanning saat menyambut kedatangan Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton ke kota di pedalaman Australia Barat tersebut.

 

Katanning dihuni sekitar 50 kelompok etnis dengan populasi lebih dari 4 ribu jiwa dan sekitar 10 persen di antaranya merupakan warga muslim.

Masjid itu sendiri dibangun warga muslim yang tiba di sana tahun 1974 setelah pindah dari Pulau Christmas dan Kepulauan Cocos, yang masuk menjadi wilayah Australia di tahun 1958.

Reputasi Katanning sebagai kota terbuka menarik para pendatang dari Afghanistan, Myanmar, China, Thailand dan dari negara Afrika dan Eropa.

Alep sendiri pindah dari Christmas Island tahun 1974 sebagai remaja saat ayahnya menerima pekerjaan sebagai pekerja rumah potong hewan yang menyiapkan daging halal.

Selain mengurus masjid dan menjabat ketua Katanning Islamic Association, Alep Mydie juga merupakan pejabat pemerintah setempat dan memiliki warung kopi bernama Daily Grind.

Dia menjelaskan situasi di kota itu saat ini sangat beda dibandingkan dengan para pendatang generasi awal.

“Waktu kami pertama tiba di sini, infrastukturnya tidak banyak, misalnya kelas bahasa Inggris (belum ada),” katanya.

Namun meskipun Katanning memiliki reputasi sebagai kota yang warganya berasal dari beragam latar belakang kebangsaan dan hidup rukun, Alep mengakui banyak tantangan yang harus dihadapi.

Pendatang Butuh Kelas Bahasa Inggris

Alep mengatakan Katanning butuh lebih banyak pelayanan khususnya di sektor kesehatan dan pendidikan, guna mendukung komunitas multikultur.

Seorang pendatang asal Myanmar bernama Soe Pwell Moo Kwa, mengatakan kelas bahasa Inggris sangat penting dalam membantu pengungsi dan pendatang yang baru tiba agar bisa mendapatkan pekerjaan.

“Sebenarnya orang mendapat pekerjaan melalui anggota keluarganya atau teman yang menghubungkan mereka dengan tempat kerja, karena orang tidak mampu berbahasa Inggris sehingga sangat sulit mendapatkan pekerjaan untuk pertama kalinya,” kata Soe Pwell Moo Kwa.

Pengungsi lainnya yang juga asal Myanmar, Keh Blut SoeTeeshava, mengatakan tantangan utama anak muda di Katanning adalah akses pendidikan tinggi.

“Kami butuh lebih banyak pendidikan karena semua orang harus kembali ke Perth dan harus pergi ke Albany untuk pendidikan lebih lanjut,” katanya.

“Semakin banyak anak muda meninggalkan Katanning dan kembali ke Perth, makanya kita sangat butuh tambahan pelayanan (pendidikan) di sini,” ujarnya.*

Rep: Panji Islam

Editor: Cholis Akbar

Dukung Kami, Agar kami dapat terus mengabarkan kebaikan. Lebih lanjut, Klik Dompet Dakwah Media Sekarang!

Berita ini juga dapat dibaca melalui m.hidayatullah.com dan Segera Update aplikasi hidcom untuk Android . Install/Update Aplikasi Hidcom Android Anda Sekarang !

Topik: , ,

Sebarkan tautan berikut :

Baca Juga Berita Menarik Lainnya !