Selasa, 2 Maret 2021 / 19 Rajab 1442 H

Kisah & Perjalanan

Di Tanah Tak Berpenghuni, Pengungsi Suriah Terperangkap di Perbatasan Jordania [2]

HRW
Pengungsi yang terperangkap di kamp-kamp sepeti Ruqban. Uang dan bantuan internasional sangat dibutuhkan sekarang [Foto diambil dari satelit]
Bagikan:

Sambungan berita pertama

 

Hidayatullah.com–PBB sendiri ingin mengumpulkan dana 9 milyar dollar untuk tahun ini karena pengungsi terus keluar dari Suriah disebabkan pertempuran, yang sia-sia dan ditangguhkannya pembicaraan damai di Jenewa telah gagal menghentikan pertempuran.

Bagi mereka yang terperangkap di kamp-kamp sepeti Ruqban, uang dan bantuan internasional sangat dibutuhkan sekarang.

Zubaidi enggan menyalahkan atas kondisi dinkamp. Dia mengatakan tentara pelayanan bantuan kelelahan: “Anda tidak dapat berpegang pada tanggung jawab siapapun. Ini merupakan organisasi internasional yang belum cukup bertindak karena mereka tidak terbangun karena masalah ini. Jordania banyak menanggung itu. 49 persen populasi Jordania merupakan pengungsi. Berapa banyak lagi yang dapat kita terima?”

Anggota parlemen Andrew Mitchell, sekretaris bantuan di pemerintahan pertama David Cameron yang baru-baru ini mengunjungi perbatasan Turki mengatakan pada MEE: “Keadaan mengerikan dan putus asa jni menegaskan bahwa dibukanya akses dari semua pihak agar tersedia bantuan kemanusiaan.

“Di dalam minggu konferensi perjanjian London dan pembicaraan Jenewa, saat ini terdapat perkembangan politik paling mendesak dan untuk kondisi yang dapat berkontribusi dalam membantu pengungsi dan orang-orang yang terlantar.”

Para pengungsi telah dipaksa menuju titik paling timur perbatasan oleh kesepakatan antara tentara Jordania dan sebagian besar di sisi Suriah untuk menyegel perbatasan. Terdapat kehadiran pasukan keamanan berat di sepanjang perbatasan, dan kamp utama pengungsi di Zaatari dijaga dengan ketat. Akses hanya diberikan oleh layanan keamanan Jordania.

Sebuah usaha pembunuhan yang menarget jenderal tertinggi militer Jordania pada upacara kematian tentara di wilayah perbatasan telah digagalkan oleh dinas intelejen militer, seperti yang dikatakan pada MEE.

Jordania merupakan satu dari tiga negara Arab yang mendukung serangan Rusia terhadap pejuang di Suriah. Raja negara itu, Abdullah, percaya bahwa operasi pemboman Rusia telah membangkitkan respon tunduk Barat pada kelompok ISIS.

Di perbatasan tumbuh kemarahan yang disebabkan cerita para penduduk sipil Suriah yang selamat, bahwa pemboman Rusia bertanggung jawab pada gelombang baru pengungsi yang menuju perbatasan Jordania.

Seorang petugas bantuan, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan: “Pemboman Rusia 100 persen bertanggung jawab pada gelombang baru pengungsi terakhir. Beberapa orang lari dari ISIS, beberapa lainnya lari dari rezim. Beberapa datang dari Damaskus karena keinginannya sendiri.

“Di sana tidak ada pemboman Rusia, di sana juga tidak akan ada jumlah pengungsi yang sama. Orang-orang terkepung di Hama, Homs dan Aleppo telah datang dari berbagai penjuru menuju perbatasan tenggara.”

Kamp Zaatari, dimana mempunyai kondisi terbaik bagi pengungsi, sekarang menampung 80.000 dari 140.000 pengungsi Suriah yang terdaftar di kamp. Sebagai tambahan, terdapat 350.000 di ibukota Amman, 125.000 di Zarqa dan 200.000 di Irbid.

Raja Abdullah minggu ini mengatakan pada BBC bahwa Jordania berada pada “titik didih”.

“Cepat atau lambat, saya kira bendungan akan segera meletus dan saya kira minggu ini akan menjadi sangat penting bagi penduduk Jordania untuk melihat, apakah akan membantu – tidak hanya bagi pengungsi Suriah, tetapi juga untuk masa depan mereka sendiri.”*/Nashirul Haq AR

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Bagikan:

Berita Terkait

Sebuah Perpustakaan di Ankara Memberi Arti Buku Selalu Kekal

Sebuah Perpustakaan di Ankara Memberi Arti Buku Selalu Kekal

Shalat jumat pada libur Chuseok di Korea

Shalat jumat pada libur Chuseok di Korea

Syeikh Bakri Al-Tarabishi Berpulang

Syeikh Bakri Al-Tarabishi Berpulang

Transeksual di Iran: Sebuah Hukum Liberal di Negeri Mullah [1]

Transeksual di Iran: Sebuah Hukum Liberal di Negeri Mullah [1]

Kisah Pejabat jadi Rakyat Jelata Bertahun-tahun

Kisah Pejabat jadi Rakyat Jelata Bertahun-tahun

Baca Juga

Berita Lainnya